Langsung ke konten utama

CARA MENYAPIH ANAK: PENGALAMAN MENYAPIH BABY ZEE


Setiap ibu pasti ingin memberikan yang terbaik bagi buah hatinya, tidak terkecuali saya. Untuk nutrisi, saya selalu berpikir bahwa memberikan ASI adalah asupan yang terbaik. Namun, idealisme saja ternyata tidak cukup. Memberikan ASI pada buah hati ternyata tidak semudah menyodorkan payudara pada bayi.

Saat kakak lahir, bayang-bayang indah tentang memberikan ASI sudah melayang-layang dalam pikiran. Inisiasi menyusui dini dan bayangan saat saya menyusui kakak sambil mengantarkannya tidur sudah muncul bahkan saat kakak masih dalam kandungan. Tetapi ternyata bayangan itu harus buyar. Qadarallah, kakak masuk NICU selama satu bulan saat dilahirkan. Jangankan menyusui, menyentuhnya saja baru bisa saya lakukan dua pekan setelah ia dilahirkan. Itu pun dengan kondisi tangan dan baju steril.

Saat adik lahir, impian melakukan inisiasi menyusui dini akhirnya terwujud. Sampai sekarang saya masih bisa membayangkan wajah pertama adik saat merayap di atas dada saya mencari puting susu, priceless! Sekarang tinggal bagaimana saya memberikan ASI selama dua tahun. Segalanya berjalan sangat lancar. Alhamdulillah, kami tidak pernah kekurangan ASI. Namun, sekali lagi, menyusui ternyata tidak semudah itu fergusso!

ANTARA IDEALISME DAN KENYATAAN

Di usia adik yang belum genap satu setengah tahun, Allah mengamanahi saya kehamilan (lagi). Rasanya tentu bercampur aduk antara senang namun juga penuh kekhawatiran. Hal pertama yang terlintas dalam benak saya ketika tahu sedang hamil lagi adalah "bagaimana dengan adik?"

Yup, saya merasa belum cukup memberikan kasih sayang pada adik dan tentu saja persoalan ASI.

Saya masih cukup optimis bisa menyusui adik ketika hamil. Saya sempat berkonsultasi dengan dokter. Beliau sebenarnya kurang menyarankan, mengingat kondisi kehamilan saya. Namun, beliau mempersilakan dengan syarat perut saya tidak sakit saat menyusui dan nutrisi saya pun harus tercukupi.

Dua bulan penuh saya jalani tandem, menyusui dalam kondisi hamil. Namun, ternyata tubuh saya memberikan "alarm". Sebetulnya saat menyusui saya merasakan sedikit kontraksi, tetapi karena merasa tidak terlalu parah dan toh tidak ada flek, menyusui pun saya lanjutkan. Hingga suatu hari saya nyaris pingsan, lemas sekali. Di situ saya mulai berpikir, kalau saya saja lemas begini, bagaimana dengan bayi saya?

KEPUTUSAN UNTUK MENYAPIH

Akhirnya setelah ngobrol dengan suami dan beberapa teman yang punya pengalaman sama, saya memutuskan, inilah waktunya menyapih adik. Saya bukan ingin bertindak seperti hakim yang memutuskan siapa yang lebih berhak. Mengingat adik sudah mendapatkan nutrisi dari tempat lain dan bounding tetap bisa dibangun meski tanpa kegiatan menyusui. Di samping itu, bayi saya pun punya hak untuk hidup, menurut saya keputusan menyapih adalah yang terbaik.

DRAMA DIMULAI!

Seperti bayangan saya, menyapih bakal jadi adegan penuh drama. Dua bulan sebelum saya mantab benar menyapih adik, saya sudah sempat sounding ke adik kalau ia sudah besar dan sudah saatnya belajar untuk tidak nenen. Hasilnya? Adik malah jauh lebih demand terhadap menyusui dan jadi manja luar biasa dengan saya. Adik juga jadi mudah sekali tantrum dan takut sekali dipisahkan dari saya.

Mayoritas orang tua pasti setuju bahwa bounding antara ibu dan anak sangatlah penting, tetapi percayalah bahwa bounding antara ibu dan anak bisa dibangun dengan berbagai cara, salah satunya dengan total saat bermain bersama anak

Awalnya saya mengikuti beberapa saran untuk memisahkan tempat kami tidur. Ternyata cara ini tidak efektif untuk adik. Saya sempat mau mengoleskan brotowali ke puting susu, namun kok ya saya tidak tega. Saya ingin mencoba cara lembut dulu,hehe.

Cara menyapih anak yang sering banget saya dengar dari orang-orang adalah dengan mengoleskan sesuatu pada payudara agar anak tidak mau menyusu lagi. Kalau saya pribadi, kasihan sih kalau pakai cara seperti ini. Anak bayi menyusu karena ia lapar, tetapi untuk anak yang lebih besar, menyusu adalah salah satu cara untuk membuat dia nyaman dan merasa terikat dengan ibunya. Jadi, kasihan saja kalau harus dipisahkan dengan cara paksa.

CARA MENYAPIH ANAK

Menurut saya, tidak ada cara menyapih anak yang benar, yang ada adalah cara yang cocok untuk menyapih anak. Karena setiap anak punya karakter dan kebutuhan berbeda, tentu saja pendekatannya pun jadi berbeda. Saya sendiri hanya ingin berbagi pengalaman saja ketika menyapih si adik. Semoga bisa menginspirasi ya, Moms!

Hal pertama yang dilakukan sebagai cara menyapih anak saya adalah dengan memantabkan mental. Saya sadari, kegagalan saya menyapih sebelumnya karena saya belum ikhlas untuk melepas adik. Akhirnya upaya saya pun jadi setengah-setengah saat menyapih.

Bagaimana memantabkan mental saat menyapih anak? Bagi saya, rasionalisasi menjadi cara yang efektif untuk membuat saya kuat. Setiap muncul keraguan untuk menyapih adik, saya munculkan pikiran logis bahwa bayi saya hanya punya satu sumber nutrisi, yaitu melalui saya, sedangkan adik sudah punya banyak sumber nutrisi. 

Kedua, saya meningkatkan intensitas kebersamaan bersama adik. Lho kok, Malah semakin ditingkatkan? Karena saya mau menunjukan pada adik bahwa tanpa menyusui, kasih sayang saya padanya tidak akan berkurang. Saya lakukan dengan totalitas bermain bersamanya tanpa diselingi kegiatan lain (apalagi sambil main handphone). Saya juga berikan banyak kata-kata sayang untuk adik. Intinya, saya berusaha membuat adik selalu senang.

Ketiga, saya alihkan perhatiannya saat adik minta nenen, misalnya dengan menawarkan makanan atau minuman, mengajaknya melihat-lihat ke luar rumah atau mengajaknya bermain. Kalau terlanjur nangis bagaimana? Saya peluk untuk menenangkannya, setelah mulai tenang, baru saya alihkan.

Keempat, saya tidak pernah lagi menyebut kata "nenen" di depan adik. Ini jadi kata terlarang pokoknya,hehe. Karena sekali adik mendengar kata ini, dia pasti langsung teringat dan minta nenen. Tapi kalau sekarang, sudah tidak harus begitu sih. Adik sudah paham kalau ia tidak nenen lagi.

Kelima, saat tidur saya peluk erat sambil menyanyikan lagu favoritnya sebagai pengganti nenen. Cara ini efektif untuk menggantikan kebiasaan nenen adik sebelum tidur. Saya tetap memposisikan tubuhnya seperti posisi si adik ketika ingin nenen sebelum tidur,tapi tanpa saya susui. Hanya saya peluk dan tepuk-tepuk sambil menyanyikan lagu atau sholawat. Saya dekatkan dada saya agar adik tetap bisa mendengar detak jantung dan merasakan napas saya. Alhamdulillah, adik bisa lelap dalam sekejap.

Memberikan nitrisi terbaik bagi buah hati melalui ASI memang sangat penting, namun jangan sampai ketika ibu tidak bisa memberikan ASI secara full membuat ibu merasa gagal

Itulah lima cara menyapih anak yang saya lakukan. Jika boleh berandai, ingin sekali saya bisa menyusui adik hingga ia dua tahun. Namun, setiap ibu punya kondisi dan alasan yang berbeda. Saya yakin deh, ibu yang normal pasti selalu menginginkan yang terbaik untuk buah hatinya. Tetapi terkadang ada saja kan hal-hal yang di luar kendali kita. Jadi, mari kita saling dukung sesama ibu. Jangan saling menghakimi. Bersyukurlah ketika Moms bisa menyusui buah hati hingga hak dua tahunnya terpenuhi, namun tetaplah semangat dan tidak perlu merasa bersalah jika tidak bisa menyusui hingga dua tahun.

Semangat Moms semua! #bighug

Komentar

  1. mengASIhi itu memang banyak drama yang harus dilalui ya mba, aku pun begitu. dari yang berpikir idealis, no sufor tapi nyatanya diluar ekspektasi. karena kondisi tertentu akhirnya ku gagal mengASIhi selama 2 tahun.

    Kalau aku gak ngalami menyapih anak, soalnya dia udah menyapih diri nya sendiri. bingung puting gara2 ditinggal kerja dan harus minum asi pake dot. Tapi lama kelamaan asi ku jadi seret. Alhasil ditambah sufor deh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... Intinya sih memberikan yang terbaik untuk buah hati ya mbak... Pokoknya sampai tetes ASI penghabisan,hehe.

      Hapus
  2. Persiapan untuk menyapih anak nih tahun depan.. Berarti mental ibu yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu ya...

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

LIVING WITH BABY AND TODDLER: MENJAGA KEWARASAN DITENGAH KEREMPONGAN

Hi moms!  Perkenalkan nama saya cempaka. Saya baru saja resmi menjadi ibu beranak dua setelah melahirkan putri kedua saya 1 bulan yang lalu. Saat saya mengetik tulisan ini, saya sedang makan malam sambil menggendong bayi saya yang tertidur. Setelah rempong seharian mengurus rumah, bayi dan batita sekaligus. Siapa yang senasib dengan saya? #ngacung