Langsung ke konten utama

AGAR RESOLUSI TAHUN TAHUN BARU TAK KANDAS DI TENGAH JALAN


Sudah hampir di penghujung tahun, sudah berapa persen resolusi tahun 2019 yang sudah tercapai? Biasanya di awal tahun banyak dari kita yang sudah menyusun mimpi, tapi enggak sedikit yang berguguran dan akhinya kendor di tengah jalan.

Saya pribadi, sejak dulu selalu membuat resolusi di awal tahun. Sejak zaman sekolah sampai sekarang sudah jadi full time Mom, membuat resolusi alias goals tahunan jadi agenda wajib.

Memang Penting ya Bikin Resolusi Tahun Baru Buat Emak Rumah Tangga?


Sebagai emak rumah tangga kita pun perlu punya target. Target tahunan itu ibarat batu loncatan untuk bisa mencapai target kehidupan yang lebih besar. Artinya, selama status kita manusia, mau ibu rumah tangga, ibu kerja kantoran, ibu pedagang, bapak kantoran atau bapak rumah tangga, tetap perlu membuat resolusi tahunan. Memangnya Anda mau hidup berjalan di tempat?


Fitrahnya, setiap manusia pasti punya mimpi dan keinginan. Namun, masalahnya kebanyakan dari kita tuh bingung mau mewujudkan mimpi dan keinginan kita dari mana. Kita semua pasti tahu lah... kalau untuk mencapai mimpi, kita perlu berusaha, tapi usahanya mulai dari mana?

Nah... disitulah fungsi membuat resolusi tahunan. Dari mimpi dan keinginan yang besar itu, kita pecah alias breakdown menjadi mimpi-mimpi kecil yang lebih mudah dan cepat dicapai.

Mengapa Menjalankan Resolusi Tahun Baru Sering Kali Melempem Di Tengah Jalan?


Pingin kurus, tapi baru dua minggu diet bubar jalan. Pingin nabung buat beli rumah, tapi tiap ada sale enggak bisa tahan buat beli. Pingin kuliah lagi, tapi baru gagal sekali tes penerimaan sudah ciut nyali. Akhirnya resolusi-resolusi pun tinggal ilusi. Boro-boro tercapai, mendekati pun enggak.
Kenapa ya seringkali resolusi hanya semangat dibuat di awal tapi melempem di tengah jalan? 

Tahun baru sudah di depan mata. Sudah siapkah dengan resolusi-resolusi Anda? (Sumber gambar: Pixel.com)

Bisa jadi, resolusi yang Anda buat ternyata enggak sejalan dengan value Anda. Itu kenapa membuat resolusi tahun baru pun tidak bisa asal latah dan ikut-ikutan. Semisal saya yang memang belum berpikir untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2, kalau saya ikut latah memasukan "melanjutkan sekolah" ke dalam list resolusi saya, sudah hampir pasti kalau hal itu enggak akan terlaksana, karena memang hal itu belum jadi prioritas saya.

Bisa juga Anda membuat resolusi tahun baru tanpa memperhitungkan kemampuan Anda. Jika banyak resolusi Anda yang enggak tercapai di tahun lalu, mungkin Anda perlu memeriksa lagi, jangan-jangan daftar Anda terlalu panjang, atau Anda mungkin enggak mempertimbangkan faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi terlaksananya resolusi-resolusi Anda.

PRISIP MEMBUAT RESOLUSI TAHUN BARU


Ada tiga hal yang perlu Anda perhatikan saat membuat resolusi tahun baru.

Pertama, Do able alias memungkinkan untuk Anda lakukan. Untuk apa membuat goals yang sudah hampir pasti enggak bisa Anda lakukan? Saya belum menjadikan melanjutkan pendidikan sebagai prioritas saya karena beberapa alasan. Diantaranya karena saya tengah hamil dan punya dua orang anak balita, plus saya juga belum punya biaya untuk melanjutkan kuliah. Kira-kira rasional enggak kalau saya menetapkan "melanjutkan pendidikan" dalam daftar resolusi 2020 saya?

Kedua, terukur. Untuk tahu Anda sudah berhasil atau enggak mencapai resolusi tahun baru yang telah dibuat, Anda tentu perlu membuat indikator yang menunjukan keberhasilan Anda. Saya pribadi lebih suka membuat target kuantitatif. Alasannya karena lebih mudah ditentukan dan diukur. Misalnya tahun lalu saya menargetkan menyelesaikan satu naskah solo. Maklum, penulis baru, belum muluk-muluk menentukan target. 

Ketiga, menantang namun realistis. Tahun lalu saya menargetkan untuk menyelesaikan satu naskah solo, nyatanya, saya justru bisa menyelesaikan lebih dari satu (naskah selesai ya... bukan terbit,hehe). Dengan begitu, di tahun ini saya menantang diri untuk bisa menerbitkan satu naskah solo. Kenapa cuma satu? Dengan segala lika liku di dunia penerbitan buku dan saya yang belum punya banyak pengalaman menerbitkan buku, saya berusaha realistis. Namun, membuat goals yang terlalu mudah tentu enggak akan seru. Hidup yang terlalu flat enggak akan membuat Anda bersemangat dalam menjalaninya. Jadi, pastikan resolusi yang dibuat cukup membuat Anda terbangun dengan semangat setiap paginya, tetapi cukup realistis sehingga enggak membuat hidup Anda justru terbebani.

Jangan sampai resolusi tahun baru hanya jadi sekadar wacana karena dibuat tanpa perhitungan. (Sumber gambar: Pixel.com)


MEMBUAT RESOLUSI TAHUN BARU YANG EFEKTIF


Dikutip dari laman Forbes, Mergie Warell membagikan 7 strategi menghasilkan resolusi tahun baru yang efektif, diantaranya adalah:

  1. Pastikan resolusi yang dibuat sejalan dengan value Anda. Seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, pastikan bahwa resolusi yang Anda buat memang benar-benar sesuatu yang penting untuk Anda. Membuat resolusi yang bukan perihal penting dalam hidup Anda hanya akan membuang-buang waktu. Toh Anda enggak akan berusaha keras untuk mencapainya. Sesuatu yang penting untuk Anda tentu akan diusahakan mati-matian bukan? Sebagai contoh, Anda yang enggak punya masalah berat badan atau merasa sehat-sehat saja biasanya lebih santai dalam hal makan. Anda biasanya enggak akan terlalu tergerak untuk menjalani pola makan sehat dan hidup sehat. Sah-sah saja kalau Anda ingin memasukan membiasakan makan sehat dalam resolusi Anda, tapi saya yakin, Anda akan lebih mudah melanggarnya dibandingkan dengan orang-orang yang memang merasa perlu untuk segera menerapkan pola makan dan hidup sehat.
  2. Buatlah resolusi yang spesifik. Jangan membuat resolusi yang terlalu umum. Masalahnya, Anda akan sulit mengukur keberhasilan pencapaian Anda. Misalnya Anda membuat resolusi tahun baru ingin menjadi kaya. Sekaya apa? Ukuran kaya bagi setiap orang kan berbeda-beda, lalu bagaimana Anda tahu sudah berhasil melaksanakan resolusi Anda. Turunkan keinginan Anda yang bersifat umum tersebut menjadi tujuan yang lebih spesifik, misalnya memiliki uang dengan jumlah nominal sekian pada akhir tahun 2020. Dengan begitu, Anda pun dapat menilai sejauh mana keberhasilan Anda saat melakukan evaluasi resolusi tahun baru Anda.
  3. Tuliskan resolusi-resolusi Anda. Sebuah studi yang dilakukan Stanford University menyebutkan, menuliskan goals membantu meningkatkan probabilitas tercapainya keinginan Anda hingga 70%. Saya pun telah mengalaminya sendiri, ketika saya kuliah dulu, saya menuliskan rencana-rencana saya sampai 10 tahun ke depan. Semenjak saya menuliskan goals saya tersebut, saya nyaris enggak pernah mengecek kembali apa yang saya tuliskan. Saya hanya menempelkan kertas tersebut di sebuah papan yang dipajang di kamar saya. Setelah bertahun-tahun berlalu semenjak kelulusan saya dari bangku kuliah, saya iseng kembali mengecek kertas tersebut. Masya Allah... enggak disangka nyaris 80% dari apa yang saya tuliskan ternyata telah tercapai. Menuliskan goals bisa membantu Anda untuk fokus pada tujuan. Anda akan lebih spesifik dan terarah dalam ikhtiar Anda menggapai mimpi, bahkan saat Anda enggak menyadarinya.
  4. Ciptakan lingkungan kondusif yang menghidupkan mimpi-mimpi Anda. Masih beririsan dengan menuliskan goals, agar Anda lebih mudah melaksanakan resolusi tahun baru, Anda perlu menciptkan kondisi yang kondusif untuk mendukung Anda. Ada orang yang membuat poster besar dengan gambar buku yang ia tulis dan terbitkan. Di bagian ujung buku tersebut tertulis "Best Seller" dan beberapa tahun setelah ia memajang poster tersebut, ia benar-benar berhasil menerbitkan buku best seller. Untuk mengkonkretkan mimpi, kita perlu memvisualisasikannya. Saya pernah membaca sebuah penelitian, ternyata hal ini dipengaruhi oleh kerja otak kita. Itu kenapa kita sering banget kan melihat poster-poster kampanye, entah tentang hidup sehat, hidup bersih, hidup hijau dan sebagainya. Ternyata visualisasi terus menerus melalui poster semacam itu sangat membantu untuk mengubah perilaku orang yang melihatnya. Sama seperti saat kita memvisualisasikan goals kita, rupanya itu juga membantu mengarahkan perilaku kita untuk mencapai goals yang sudah dibuat. Selain memvisualisasikan goals, Anda juga bisa membuat chart untuk menunjukan progress pencapaian Anda. Saya sendiri suka membuatnya dengan bentuk tabel simpel.
  5. Persempit langkah-langkah pencapaian Anda. Setelah membuat resolusi tahun baru, Anda mungkin merasa bingung harus memulai darimana untuk mencapainya. Untuk memudahkan, Anda pecah goals tersebut menjadi langkah-langkah kecil yang lebih konkret. Langkah-langkah ini yang kemudian akan dijadikan sebagai panduan action di setiap bulan bahkan di setiap hari bagi Anda selama satu tahun.
  6. Fokus pada proses. Terkadang apa yang Anda usahakan enggak langsung memberikan hasil seperti yang Anda inginkan dan hal itu enggak masalah. Karena konsistensi Anda dalam usaha untuk mencapai goals sesungguhnya sudah membawa Anda semakin dekat dengan pencapaian Anda. Jangan menyerah! Karena keberhasilan memang enggak dihasilkan secara instan. Nikmati prosesnya dan Anda akan menemukan pembelajaran berarti dalam hidup.
  7. Maafkan kegagalan Anda. Dalam evaluasi akhir tahun saya di 2019 ini, ternyata banyak sekali goals saya yang enggak tercapai. Penyebabnya beragam, mulai dari kondisi saya yang tiba-tiba hamil sampai kelalaian saya sendiri. Menyesal? Sedikit dan itu sangat wajar karena manusiawi. Namun, sekarang bukan saatnya lagi untuk menyesali apa yang enggak tercapai di tahun sebelumnya. Ini adalah saatnya menyusun kembali dan memperbaiki apa yang kurang di tahun sebelumnya. Move on dan maafkan kegagalan Anda karena percayalah bahwa yang Anda alami dialami pula oleh semua orang. Jalani dengan asyik dan bahagia saja, bukankah hidup memang untuk dinikmati?

Menurut saya, membuat resolusi tahun baru itu penting banget. Karena hidup enggak bisa mandeg atau mengalir saja bagai air. Resolusi tahun baru pun enggak hanya terbatas pada goals duniawi saja. Karena tujuan membuat resolusi tahun baru adalah membuat Anda menjadi pribadi yang lebih baik, bukan hanya untuk urusan duniawi tetapi juga urusan ukhrawi.

Selamat mencoba ya!

Komentar

  1. Wah, benefan ini bagus. Udah banyak resolusi-resolusi untuk tahun 2020 keluar-masuk di otak saya. Harus ditulis biar ga ilang. Semangat menyambut tahun 2020 yang harus lebih produktif. Terima kasih artikelnya mbak. Baca ini jadi lebih optimis gini saya menyambut hari esok. ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak... :) ayo kita sama-sama semangat! Yosh!

      Hapus
  2. Suka dengan kalimat terakhir Karena hidup enggak bisa mandeg atau mengalir saja bagai air. Resolusi tahun baru pun enggak hanya terbatas pada goals duniawi saja. Semoga terwujud ya mba dunia dn akhirat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiin Ya Rabb... terima kasih banyak mbak :)

      Hapus
  3. Fokus pada proses yang kadang membuat saya agak susah. Di tengah jalan menjalankan resolusi, terkadang suka patah semangat. Doain 2020 bisa lebih baik lagi, amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang semangat harus di re-charge terus mbak. Kl saya pribadi, salah satu caranya dengan bergaul dgn orang2 positif yg supportif. Ayo semangat mbak! Semoga resolusi 2020-nya tercapai semua. Aaamiin

      Hapus
  4. Belum bikin resolusi dan 2tahun ini emang ga bikin.
    Lebih pada mind mapping saja tentang apa-apa yang ingin saya capai di tahun tersebut.
    Thanks for sharing, Moms....
    Ini juga bisa jadi panduan buat Mind mapping, kok....karena biasanya mind mapping juga harus terukur dan sesuai value kita. Menantang dan juga tetap masuk akal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mind mapping bisa jadi salah satu alternatif metode bikin resolusi sih mbak. Dulu jg saya sempat bikin mindmap. Untuk orang yg visual kelihatannya memang lebih efektif bikin dalam bentuk mindmap.

      Hapus
  5. Seriously banget, punya resolusi tuh ibarat mau bepergian punya tujuan
    Serem kan kalo bepergian tanpa tujuan
    Cuma ya itu dia. Butuh trik seperti tulisan di atas agar segera sampai tujuan, ngga muter muter doang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bun... butuh perpaduan antara teknik penerapan, keinginan kuat sama konsistensi. Kalau enggak, resolusi hanya akan jadi sekadar keinginan aja.... :(

      Hapus
  6. Mungkin yang paling sulit adalah memaafkan kegagalan diri sendiri hehehe :) Yang lain bisa lah dijalankan pelan2. AKu kepengen makin rajin menulis di blog dengan tema jalan2 dan makan. Lebih memperhatikan keluarga dengan masakan yang bervariasi dan enak. Kepengen lebih langsing juga hihihi..Pastinya makin bertakwa terhadap Allah SWT ibadahnya juga. TFS mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiiin Ya Rabb... semoga segala keinginannya terwujud ya mbak nurul. You're welcome mbak :)

      Hapus
  7. Whoaaa, inspiring buanget Mom!
    Bismillah, daku mau coba aahhh.
    Yeah, walopun blum tau siikk, bakal bisa terlaksana or not di th 2020 nanti hahahahahah
    Yg penting coba dulu lah yaaa

    BalasHapus
  8. mantap ini tipsnya. masalah kandas tu pasti menjadi sebuah alasan dan rintangan dalam resolusi itu tersendiri. saya juga sering, malah ujung ujungnya resolusi bisa berubah didalam perjalanannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul ya mas... dalam perjalanannya kadang memang kita melakukan penyesuaian. Menurut saya gpp sih... sejauh masih dalam koridor visi dan misi hidup ybs

      Hapus
  9. Nah bener banget ini, ketika di awal tahun sudah menetapkan resolusi-resolusi tapi kendor di pertengahan tahun. Tipsnya bisa dicoba nih Mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mangga mbak... semoga bermanfaat tipsnya... :)

      Hapus
  10. Ya kadang udah nulis resolusi. Eh malah yang di kejar yang lain. Heheh, cuma ya harapannya kita bisa lebih baik dari kemarin dan hari ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Justru dengan bikin resolusi, harapannya bisa lebih fokus mbak... :) memang selain ditulis butuh konsistensi juga sih untuk menerapkannya

      Hapus
  11. Sepakat, resolusi ifu perlu banget biar langkah kita ga melintir di tengah jalan. Meskipun sering gagal resolusinya tapi gapapa, bikin lagi aja ye ga hehe

    BalasHapus
  12. Saya camkan bener nih Mbak,, yg fokus pada proses..scr saya gak menuhin target sih ya tahun lalu bikin buku solo. Sy gak ngoyo orgnya,, lagian msh punya anak 2 tahunan, kasian kl dinomorsekiankan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak... intinya, saat bikin resolusi kita pun perlu realistis dan berkaca sama kondisi diri saat ini... :)

      Hapus
  13. Wah, pantes kayaknya dari tahun ke tahun resolusi saya jalan di tempat aja ya. Kayaknya karena saya tidak memperhatikan value yang saya anut, malah ikut-ikutan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Value itu yang mendorong kita untuk bekerja keras ngejar apa yang kita mau sih mbak. Kl kita pikir enggak penting-penting amat, kita kan jadi malas usahanya

      Hapus
  14. Iya, bikin resolusi yang spesifik agar fokus ya. Dan tentunya harus terukur, biasanya kayak menurunkan BB siy. Atau pola hidup sehat, aktivitas fisik bisa diukur berapa kali dalam seminggu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Contoh sederhananya begitu ya mbak. Intinya, kita bisa tahu udh sejauh mana capaian kita... :)

      Hapus
  15. Tahun ini aku engga bikin resolusi, soalnya sama dengan tahun lalu. Tahun depan bikin ga ya? Mau juga deh bikin list yang baru. Semoga tercapai deh...Amiiin...

    BalasHapus
  16. Menurutku menulis resolusi itu penting
    Biar kita bisa mencapai target yg kita inginkan

    BalasHapus
  17. Sejujurnya aku gak punya resolusi apa-apa, let it flow aja macam air mengalir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semuanya balik ke pribadi masing-masing sih mbak. Kalau saya pribadi merasa bikin resolusi itu memudahkan saya untuk fokus pada tujuan dalam hidup saya. Kalau enggak, jadi kemana-mana dan ujungnya enggak ada pencapaian apa-apa, hehehe

      Hapus
  18. Jujur deh, saya belum pernah membuat resolusi untuk tahun berikutnya. Selain urusan keuangan jangka panjang yang nantinya akan terkait dengan pendidikan anak-anak dan masa pensiun, saya lebih suka membuat to do list untuk keesokan hari, untuk seminggu ke depan, sebulan ke depan, Seperti itu. Otak saya rasanya terlalu sulit untuk diajak melancong jauh ke setahun ke depan, mau apa.

    Well, kalau diwajibkan membuat resolusi, saya maunya tahun depan lebih konsisten menulis di blog. Menulis dua hari sekali? Hehehe ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah... itu udh resolusi tuh mbak... membuat perencanaan keuangan juga bisa jadi salah satu resolusi tahunan. Lanjutkan! :)

      Hapus
  19. Resolusi itu memang perlu ya mb, agar kita bisa terus berprogres dan tahu arah ke mana goal kita. Tapi benar kata mbak, sesuaikan dengan kemampuan kita, pasti bida dilakukan dan terukur.
    Nice sharing.
    Tengkyuu

    BalasHapus
  20. Semoga goal ya mbak dan sukses dunia akherat. Aamiin

    Oh iya saya contek ya tips2nya. Makasiih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiiin Ya Rabb... mangga mbak... semoga bermanfaat tipsnya... :D

      Hapus
  21. huhuh, udah berapa tahun nih gak pernah buat resolusi2 lagi.
    kebanyakan tertinggalnya jadi malesin yaaa dan dijalani aja.
    bener banget tuh Mbak kalau mau buat resolusi yg Do able, kalau gak ya gitu deehh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak... kadang kitanya ngoyo bikin resolusi, tapi enggak mempertimbangkan kondisi diri. Ngapain juga bikin target yang udah ga bakalan bisa dicapai, ya kan?

      Hapus
  22. aku juga merasa penting bikin resolusi tahun depan karena setidaknya kita jadi punya target apa yang mau dilakuin.... kalo nggak bikin resolusi jadi kayak kurang termotivasi gitu.. hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tos kita mbak! :D saya pun kalau enggak bikin asa bingung, jadi mau ngapain gitu,wkwkwk

      Hapus
  23. haduuuh sepertinya 2019 bukan tahun terbaikku deh
    banyak goals yg gak tercapai
    gara2 menganggap enteng dan pengen fokus ke 1 hal, eh gak berhasil juga
    padahal dulu pernah menyeimbangkan segala aktivitas dan berhasil
    mungkin karena niat dan lebih semangat karena banyak kerjaan kali ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gagal itu wajar banget sih mbak. Tahun lalu, juga bkn tahun terbaik saya sih :( . Poinnya kita bisa move on dan memaafkan kesalahan kita. Supaya kita bisa fokus memperbaiki di masa depan... :)

      Hapus
  24. Saya udah lama ga bikin resolusi karena ga terwujud terus. Hehehehe... Padahal mungkin saya yang terlalu muluk menetapkan target.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo mbak, semangat! Jangan nyerah! :) biasanya sebenarnya ada deh pencapaian, cuma karena belum sesuai ukuran kita, jadi kita nganggepnya pencapaian itu biasa aja. Cb diintip2 lagi,hehe

      Hapus
  25. Wah udah 2 tahun ini aku gak bikin resolusi..hehe Tapi tetep punya harapan dan doa..Semoga terwujud..

    BalasHapus
  26. Bikin resolusi memang harus do-able ya Mbak. Dan harus dimonitor terus progressnya, ya sama kayak kita bikin project aja. Kalau gak dimonitor ya bisa gak jalan... :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

CARA MEMBUAT ECO ENZYME

Setelah berkomitmen untuk belajar gaya hidup hijau, keluarga kami mulai mengkonversi segala produk yang dapat merusak lingkungan, salah satunya adalah sabun. Setelah berhasil membuat sabun lerak, saya pun penasaran membuat jenis sabun lainnya. Kali ini sedikit lebih ekstrem, saya membuatnya dari sampah organik rumah tangga. Dari sampah bisa jadi bahan pembersih? Masa sih? Bisa saja. 
Baca juga: MENCUCI DENGAN SABUN LERAK

Dikembangkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, eco enzyme atau cairan organik dari olahan sampah organik rumah tangga bisa dibuat sebagai bahan pembersih. Apa itu eco enzyme? Eco enzyme adalah hasil olahan limbah dapur yang difermentasi dengan menggunakan gula. Limbah dapur dapat berupa ampas buah dan sayuran. Gula yang digunakan pun bisa gula apa saja, seperti gula tebu, aren, brown sugar,dll). Saya pribadi belum berani bikin dari ampas dapur yang aneh-aneh. Saya buat dari kulit buah jeruk dan apel. Agar hasil eco enzyme-nya wangi,hehe. Cara membuat eco enzyme? Eco enzy…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…