Langsung ke konten utama

ASIKNYA BERKUNJUNG KE PERPUSTAKAAN CIKINI

Moms sudah punya rencana kemana pekan ini? Kalau di Jakarta, kadang suka bingung ya moms harus menghabiskan akhir pekan kemana selain ke mall. Meskipun banyak hiburan yang ditawarkan mall, tetap saja bosan kalau ke mall setiap minggunya. 
Bagaimana kalau menghabiskan akhir pekan di perpustakaan? Wah, enggak salah tuh? Anak-anak mana betah diajak ke perpustakaan. Eits.. Tunggu dulu.. Moms sudah pernah belum berkunjung ke perpustakaan Cikini? Perpustakaan yang terletak di Jakarta Pusat ini jauh sekali dari kesan membosankan. Perpustakaan yang berada di kawasan Taman Ismail Marzuki ini menawarkan konsep living library, yang tentunya membuat moms sekeluarga betah berlama-lama di sini. 
Perpustakaan Cikini melayani pengunjung mulai jam 09.00-17.00 setiap harinya. Perpustakaan ini terdiri dari empat lantai, lantai dasar merupakan lantai lobi. Di lantai ini banyak dipajang aneka herbarium (tanaman obat yang dikeringkan) dan juga hasil karya para pemenang lomba yang diadakan di perpustakaan Cikini. Kalau lantai 2 sudah seperti surga untuk saya. Di lantai ini ada banyak koleksi buku-buku remaja dan dewasa, totalnya ada sekitar 170an ribu judul loh moms.Moms bisa membaca di tempat maupun meminjam untuk dibawa pulang. Di lantai 3 moms akan menemukan lantai khusus pelayanan anak. Disini moms bisa menghabiskan waktu bersama dengan buah hati, mulai dari membaca buku, bermain puzzle sampai bermain di arena playground. Arena playground ini memiliki jam pelayanan sendiri, yaitu setiap hari selasa, kamis, sabtu dan minggu mulai dari pukul 10.00-12.00. Sedangkan di lantai 4, ada berbagai koleksi karya ilmiah dan referensi-referensi penelitian. Namun koleksi di lantai ini tidak untuk dipinjamkan, moms hanya dapat membaca di tempat. 
Area membaca
Saya sempat berkunjung ke perpustakaan ini beberapa waktu yang lalu bersama buah hati saya. Kesan pertama saat datang ke perpustakaan cikini adalah homie dan nyaman banget. Anak saya langsung tertarik dengan area bermain floor game. Di bagian ini banyak disediakan permainan-permainan edukatif seperti puzzle, mainan kayu yang mengasah motorik anak, papan huruf dan lain sebagainya. Setelah puas bermain, anak saya langsung mengeksplorasi rak buku. Koleksi buku anak di perpustakaan ini cukup lengkap, bahkan saya lihat ada beberapa buku impor yang terpajang di rak. 
Selain membaca dan bermain floor game, pada hari dan jam tertentu, moms bisa mengajak anak untuk bermain di playground. Area playground ini cukup luas, permainannya pun lengkap. Ada sepeda dan otopet yang bisa dinaiki, area ketangkasan yang dapat dipanjat dan juga perosotan. Jangan lupa untuk tetap mengawasi buah hati moms selama bermain ya. 
Area Floor game
Playground
Mengajak buah hati ke perpustakaan merupakan salah satu cara yang bisa moms lakukan untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku. Dengan upaya pemerintah daerah untuk menyediakan fasilitas membaca yang lengkap bagi warga, moms tidak perlu lagi bingung mencari tempat untuk memperkenalkan buku kepada anak. Tentu saja, fasilitas ini dapat moms manfaatkan secara gratis. Jangan lupa pula untuk mengajarkan kepada anak untuk menjaga fasilitas umum ini ya moms, agar perpustakaan ini dapat kita nikmati seterusnya. 

Selamat menghabiskan akhir pekan bersama keluarga! 

Sumber gambar:
www.dispusip.jakarta.go.id


Koleksi pribadi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CARA MEMBUAT ECO ENZYME

Setelah berkomitmen untuk belajar gaya hidup hijau, keluarga kami mulai mengkonversi segala produk yang dapat merusak lingkungan, salah satunya adalah sabun. Setelah berhasil membuat sabun lerak, saya pun penasaran membuat jenis sabun lainnya. Kali ini sedikit lebih ekstrem, saya membuatnya dari sampah organik rumah tangga. Dari sampah bisa jadi bahan pembersih? Masa sih? Bisa saja.  Baca juga:  MENCUCI DENGAN SABUN LERAK Dikembangkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, eco enzyme atau cairan organik dari olahan sampah organik rumah tangga bisa dibuat sebagai bahan pembersih. Apa itu eco enzyme? Eco enzyme adalah hasil olahan limbah dapur yang difermentasi dengan menggunakan gula. Limbah dapur dapat berupa ampas buah dan sayuran. Gula yang digunakan pun bisa gula apa saja, seperti gula tebu, aren, brown sugar,dll). Saya pribadi belum berani bikin dari ampas dapur yang aneh-aneh. Saya buat dari kulit buah jeruk dan apel. Agar hasil eco enzyme-nya wangi,hehe. Cara membuat eco

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa? Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah.

BERKUNJUNG KE KEBUN RAYA BOGOR DI TENGAH PANDEMI

Sejak corona merebak, praktis selama nyaris lima bulan, kami betul-betul di rumah saja. Pergi ke minimarket pun bisa dihitung pakai jari satu tangan. Saya yang biasanya lebih suka di rumah, bahkan sudah mulai jengah. Indikatornya terlihat ketika saya gampang banget marah-marah. Si sulung juga mulai rungsing, pasalnya saya enggak izinkan ia untuk main sepeda sama teman-temannya. Bukan apa-apa, anak-anak masih sangat teledor menjaga kebersihan. Pernah sekali saya izinkan si sulung dan si tengah untuk main bareng teman-temannya. Baru beberapa menit keluar, maskernya sudah entah kemana. Saya dan suami memang berencana untuk mengajak anak-anak untuk berwisata ke Kebun Raya Bogor. Pertimbangannya karena lokasi yang dekat dengan rumah ditambah ruang terbuka yang kami asumsikan lebih aman untuk menjaga diri dari paparan corona. Itu pun maju mundur. Baru berniat pergi di awal minggu, tiba-tiba lihat di media kasus corona bertambah lebih dari seribu. Ciut saya tuh ... daripada