Langsung ke konten utama

MENABUNG EMOSI POSITIF

Sumber: Pixabay

Kira-kira satu bulan yang lalu, mertua saya baru mengadakan acara pernikahan adik ipar saya. Seperti perhelatan yang biasa diadakan keluarga suami, acara pesta pernikahan tersebut diadakan sejak pagi hingga malam hari. Terus terang, saya enggak biasa mengikuti acara yang durasinya panjang seperti itu. Waktu saya dan suami menikah, kami memutuskan untuk menyewa gedung. Acara berlangsung hanya dari pagi sampai siang, itu saja rasanya sudah luar biasa capai. 

Saya sempat memberi saran pada mertua untuk mempersingkat acara, pertimbangannya supaya enggak lelah saja. Soalnya di acara tersebut, mertua dan adiklah yang benar-benar menyiapkan semuanya. Lagi pula siapa yang akan bertamu sampai pukul 23.00 malam kan? Mertua saya tentu saja menolak, alasanya kasihan yang rumahnya jauh. Mereka pasti ingin datang tapi seringkali enggak terburu karena lokasi yang jauh, belum lagi kalau macet di jalan. Akhirnya saya pun menurut, toh yang saya bisa lakukan hanya mendukung saja. Berhubung kegiatan saya mengasuh duo shaliha saja sudah menyita waktu dan tenaga. 

Ternyata dugaan mertua saya benar, tamunya membludak. Padahal acara sudah mulai sejak pagi, tapi selepas isya pun masih banyak yang berdatangan. Belum lagi yang datang setelah acara di esok harinya. Kalau dikira-kira, mungkin tamu yang datang saat itu bisa sampai 1000 orang! Amazing banget menurut saya. Bukan perkara kemeriahan pesta pernikahannya, tapi bagaimana 1000an orang itu mau meluangkan waktu untuk hadir ke perhelatan yang diadakan mertua saya. 

Sedikit cerita, kedua mertua saya,  Bapak (alm)  dan Ibu berprofesi sebagai seorang guru. Keduanya terkenal sangat supel dan ramah. Keluarga suami adalah keluarga yang sederhana, rumah mertua saya bahkan terletak di salah satu gang di daerah Cilincing, Jakarta Utara. Tapi mertua saya orang yang begitu ringan tangan dalam membantu orang lain. Misalnya saja saat salah satu anak tetangga kami yang kurang mampu, ia menangis saat diundang ke pesta ulang tahun temannya. Alasannya karena ia malu, karena datang tanpa membawa kado. Saat itu mertua saya langsung membeli sebuah botol minum anak-anak, lalu beliau bungkus dengan kertas kado. Kado yang sudah beliau persiapkan, diberikannya kepada anak tetangga itu, hingga akhirnya ia pun dapat pergi ke pesta ulang tahun temannya dengan membawa kado. 

Kejadian tersebut hanya salah satu hal yang dilakukan ibu mertua saya pada orang-orang di sekelilingnya, mau itu saudara, tetangga dan tentu saja anak sendiri, beliau bantu saat sedang mengalami kesulitan. Waktu kakak sempat dirawat di NICU setelah dilahirkan pun, tanpa ragu mertua saya memberikan kartu ATM dan pinnya tanpa diminta untuk membantu biaya perawatan kakak (bikin pingin mewek enggak sih😩). 

Sebagai konsekuensinya, orang pun tak ragu memberikan kebaikan pada mertua saya. Seperti yang terjadi pada acara pernikahan adik ipar saya, semua tetangga bahu membahu membantu dari pagi hingga malam seolah-olah perhelatan hari itu adalah milik mereka sendiri. 

MENABUNG EMOSI POSITIF

Ini adalah hasil dari tabungan emosi positif yang disemai oleh mertua saya sehari-hari. Tabungan emosi positif yang mungkin sebagian dari kita lupa mengumpulkannya. Bukan berarti kita pamrih ketika memberikan bantuan atau sesuatu loh... Justru kerelaan hati kita yang menunjukan ketulusan pemberian kita. Dengan demikian orang pun mendapatkan pengalaman positif saat berinteraksi dengan kita. 
Menabung kebaikan,  menuai kebaikan (sumber:Pixabay)

Menurut saya, ada tiga tipe orang yang kita temui setiap harinya: 
  1. Orang yang membawa emosi positif, yaitu orang yang membawa ketenangan dan kebahagiaan saat kita berinteraksi dengannya. Perasaan senang tersebut biasanya akan terus terbawa bahkan sampai kita selesai berinteraksi dengan orang tersebut. 
  2. Orang yang membawa emosi netral,  yaitu orang yang enggak membawa perasaan apa-apa saat kita selesai berinteraksi dengannya. Ini adalah orang yang kita temui sepintas lalu. Biasanya enggak hanya emosinya saja yang enggak dirasakan, bahkan terkadang wajahnya pun kita lupakan. 
  3. ‎Orang yang membawa emosi negatif, yaitu orang yang membuat perasaan kita enggak nyaman saat berinteraksi dengannya. Efeknya hampir sama dengan orang yang membawa emosi positif, tapi bedanya orang seperti ini membuat kita merasa mangkel alih-alih bahagia. 

Kita (saya maksudnya), seringkali lupa menabung emosi positif. Kebiasaan hidup yang individual membuat kita kadang abai memperhatikan hal-hal kecil di sekeliling kita. Apalagi untuk kita yang tinggal di perkotaan. Sebuah studi dilakukan oleh Prof. Michael McCullough dari University of Miami kepada 200 responden yang ditempatkan di sebuah komunitas besar. Awalnya mereka saling bekerjasama, tapi ketika kelompok semakin membesar para responden tersebut menunjukan sikap abai dan enggak peduli (opini.id).

Padahal kepedulian kita terhadap lingkungan di sekeliling kita itu lah yang merupakan modal untuk menabung emosi positif. Enggak harus orang yang kita bantu yang nantinya membantu kita, bisa jadi orang lain yang sama sekali berbeda. Tapi apa yang kita terima itu sebenarnya merupakan cycle dari kebaikan yang kita lakukan sebelumnya. Pernah nonton film "Pay It Forward"? Kira-kira seperti di film itulah ilustrasinya. 
Film "Pay It Forward" tentang meneruskan kebaikan (sumber:Netflix)

Menebar kebaikan juga belum tentu dampaknya langsung kita rasakan. Mungkin baru akan terlihat kalau kita meninggal kelak. Seramai apa orang bertakziyah ke rumah kita dan mendoakan kita. Ini jadi pengingat diri juga sih... Untuk senantiasa menebarkan kebaikan untuk tabungan emosi positif saya. Sekecil apa pun perbuatannya, karena di dunia ini enggak ada kebaikan yang sederhana. 

Tidak ada kebaikan yang sederhana. Karena sekecil apapun perbuatan kita, kebaikan tetaplah pantas untuk dilakukan

Komentar

  1. Betul mbak.. Jangankan nunggu lama, kadang tanpa kita sadari kebaikan yang baru kita lakukan saja, udah langsung dibahas oleh orang lain. Yang paling males emang kalo berinteraksi dengan tipe orang nomor 3 nie. Baru dateng di keluhin hal segudang 😩😩 .. semangat kerja kadang jadi meluntur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... Iya ya mbak. Negatifnya toxic people memang kadang menular.😀

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

LIVING WITH BABY AND TODDLER: MENJAGA KEWARASAN DITENGAH KEREMPONGAN

Hi moms!  Perkenalkan nama saya cempaka. Saya baru saja resmi menjadi ibu beranak dua setelah melahirkan putri kedua saya 1 bulan yang lalu. Saat saya mengetik tulisan ini, saya sedang makan malam sambil menggendong bayi saya yang tertidur. Setelah rempong seharian mengurus rumah, bayi dan batita sekaligus. Siapa yang senasib dengan saya? #ngacung