Langsung ke konten utama

5 JURUS MENGHADAPI "MOM SHAMING"


"Bu, ini kuping anaknya enggak pernah dibersihin, ya? Sampai kotor banget begini," kata salah satu dokter anak yang pernah menangani si kakak.

"Kasihan ya... si adik masih kecil, umminya udah  hamil lagi," celetuk tetangga ketika tahu saya hamil.

"Itu enggak ada baju yang lain? Anakmu dipakein baju sudah kumal begitu," 

"Duh... itu dedeknya nangis terus. Ibunya mana?"

"Anak-anak sering di bawa keluar, Bu... kan bagus sering kena matahari,"

Sebagian besar dari kita pasti pernah deh menerima komentar semacam itu, mau di depan atau di belakang kita. Apalagi dengan budaya kepo dan ikut campur yang kental banget di Indonesia, mengomentari cara orang lain mengurus dan mendidik anak sudah jadi hal yang sangat lumrah. 

Kalimat-kalimat  di atas adalah sebagian kecil komentar yang saya terima dari berbagai pihak terhadap cara saya mengurus kakak dan adik. Ada yang saya terima dari orang tua, keluarga, tetangga bahkan orang random yang saya enggak kenal sama sekali.

Baca juga: STOISISME DAN MENJADI ORANG TUA ANTI STRES

Kalau mendapat komentar-komentar seperti di atas, bagaimana perasaan Anda, Moms? Sedih? Merasa enggak kompeten sebagai ibu? Merasa bersalah? Yup! Jika kita merasa down ketika menerima komentar demikian, artinya kita masih normal, Moms. Kalau lempeng-lempeng saja, mungkin perlu dicek itu di bagian belakang lehernya ada batere AAA atau AA mungkin,hehe.

APA ITU MOM SHAMING?


Komentar yang terlontar dari orang lain dengan maksud mengkritik cara mengasuh dan/atau merawat anak yang dilakukan oleh seorang ibu sering dikenal dengan istilah "mom shaming". Bentuk "mom shaming" ini bisa berbagai macam, mulai dari komentar pedas yang disampaikan langsung, pertanyaan bernada menyindir sampai ngomongin si ibu di balik punggungnya.

Kebanyakan "mom shaming" dilontarkan justru dari orang-orang terdekat. Dalam sebuah penelitian di Amerika, para responden merasakan kritikan paling sering disampaikan oleh orang-orang terdekat dengan persentase 37% oleh orang tua, 36% oleh pasangan dan 31 % oleh mertua. 

Saya belum menemukan persentase yang terjadi di Indonesia. Namun dugaan saya, persentasenya bisa jadi lebih besar dan diferensiasi pelakunya juga lebih beragam (ada sepupu, teman kantor, nenek, tetangga dan banyak lagi deh pokoknya). Mengingat budaya timur di Indonesia yang membuat masyarakatnya jauh lebih "peduli" dibanding di negara barat sana.

BAGAIMANA KITA MEMBEDAKAN "MOM SHAMING" DAN MASUKAN MEMBANGUN?


Kebanyakan "mom shaming" ada tendensi menjatuhkan. Ada perasaan superior orang yang berkomentar terhadap yang dikomentari, bisa jadi karena mereka merasa lebih tahu dan lebih baik dalam mengasuh dan merawat anak. 

Sedangkan beberapa orang mungkin bermaksud memberikan masukan positif bagi Anda. Biasanya orang-orang seperti ini enggak akan menyerang Anda atau menunjukan masukan secara gamblang, tapi lebih menceritakan pengalamannya sendiri sebagai orang tua. Orang yang bermaksud memberikan masukan positif pada Anda juga enggak akan memberikan masukan jika Anda enggak memintanya dan tentu saja  mereka enggak akan bicara di belakang punggung Anda.

Sekarang, tinggal dirasa-rasa sendiri, apakah kita benar-benar korban "mom shaming" atau mungkin kita yang terlalu sensitif menerima masukan dari orang lain. Tapi kalau saya sih... terasa banget kok bedanya. Di hati pun akan beda penerimaannya.

TANAMKAN MINDSET BAHWA "IBU" ADALAH PERAN RAWAN KRITIK


Di negara +62 yang karakter masyarakatnya memang peduli banget urusan orang, judgment itu sudah jadi makanan sehari-hari terutama untuk peran-peran yang dianggap harus ideal. Salah satunya ya... peran kita ini sebagai ibu. Ibarat manusia super, ibu harus bisa segala hal, pintar masak, bikin mainan buat stimulus perkembangan anak, punya toko online, kuat ngangkat galon sendiri dan sederet keterampilan super lainnya (superman sama supermi aja kalah kayaknya). 

Peran ibu memang peran rawan kritik karena stigma bahwa peran ibu harus dilakukan sesempurna mungkin. Padahal di dunia ini tidak ada ibu yang sempurna. (Sumber gambar: Pexel.com)

Terimalah bahwa peran kita ini memang peran penuh tuntutan, jadi wajar banget kalau salah sedikit kita bakal kena kritik. Dengan punya mindset seperti ini, diharapkan kita jadi sedikit lebih bebal. Paling enggak, jadi siap dan enggak terlalu down saat ada orang yang mengkritik kemampuan kita sebagai ibu.

5 JURUS MENGHADAPI "MOM SHAMING"


Hal yang perlu Anda ingat adalah Anda enggak bisa mengontrol mulut orang. Satu-satunya yang dalam kuasa Anda adalah reaksi Anda. Meskipun tentu saja apa yang mereka sampaikan menyakiti hati Anda, bikin baper, bikin Anda merasa lemah dan enggak berguna, tapi bukan berarti Anda enggak bisa menghalau perasaan-perasaan semacam itu agar enggak menguasai Anda. 

Kabar baiknya, Anda juga bisa bereaksi secara elegan. Tetap men-smash tapi tidak membuat Anda seperti kehilangan kontrol diri. Bagaimana sih caranya menghadapi "mom shaming" dalam kehidupan Anda? Berikut saya rangkum 5 (lima) jurus menghadapi "mom shaming" dari berbagai sumber:

Tanggapi dengan Guyon

Terkadang membalas komentar orang dengan nge-gas justru menyenangkan hati si komentator. Sebaliknya, kita sendiri justru tenggelam dalam kesewotan kita. Jadi, ibarat buah simalakama atau judul film Dono, "Maju Kena, Mundur Kena". Daripada kita dongkol, padahal yang didongkolin juga selow saja, kenapa enggak kita bikin selow dengan "membalas" komentar "mom shaming" dengan guyon.

Misalnya nih... ada yang komentar, "kok anaknya dikasih makan coklat? Nanti giginya pada rusak, lho!". Balas saja sambil bercanda, "Daripada dikasih makan beling, Bu... kan lebih bahaya lagi"😜

Tapi kalau mau guyon, lihat-lihat juga ya, Moms. Jangan coba-coba balas komentar orang tua atau mertua dengan candaan, bisa-bisa nanti dikutuk jadi batu macam Malinkundang.

Edukasi Si Komentator

Kalau si komentator tampak terbuka juga dengan masukan, enggak ada salahnya mengedukasi mereka. Terkadang orang berkomentar justru karena dia enggak paham. Pemahaman dia tentang pengasuhan lebih banyak diambil dari pengalaman dan kebiasaan. Padahal apa yang biasa kan belum tentu benar.

Misalnya saat ada yang mengomentari anak-anak perempuan saya yang enggak ditindik telinganya. Orang itu bilang, bisa-bisa nanti anaknya jadi tomboy dan kelaki-lakian. Duh! Dari mana itu korelasinya? (auto tepok jidat). Dalam keyakinan agama saya pun, pakai perhiasan itu mubah (boleh) untuk perempuan, bukannya wajib. Mau pakai ya sok saja, enggak juga enggak berdosa. 

Alasan saya enggak menindik anak-anak lebih karena kasihan dan faktor higine. Saya sendiri pernah punya pengalaman enggak mengenakan dengan anting, mulai dari berdarah sampai infeksi. Karena menurut saya anak kecil belum baik dalam menjaga kebersihan diri, ya... nanti-nanti saja deh kalau sudah besar. Kalau memang mereka mau pasang anting nantinya, silahkan saja. Asal mereka bisa merawat dengan baik. Nanti bukan jadi cantik malah jadi penyakit kan....

Cuekin Saja

Terkadang cara terbaik untuk menghadapi "mom shaming" adalah dengan enggak mempedulikannya. Akui saja, sebagai ibu kita punya banyak hal yang perlu dipikirkan. Mulai dari urusan rumah, anak-anak, sampai urusan kerjaan di luar rumah, mau urusan kantor kek, bisnis kek atau aktivitas lainnya. Apa iya masih mau madat-madatin otak dengan mikirin yang enggak perlu semisal komentar orang.

Lebih baik kita biarkan dan anggap angin lalu. Kita bisa move on dan menerima kalau peran kita enggak bisa sempurna. Fokus saja dengan memberikan yang terbaik untuk suami dan anak-anak. Sejauh mereka happy, berarti Anda enggak perlu merasa down menjalani peran Anda sebagai ibu. Terkadang yang ribet itu justru orang lain, sedang suami dan anak-anak justru santai menerima kita apa adanya.

Balas dengan Kebaikan

Beberapa orang mungkin saja enggak sadar telah melakukan "mom shaming". Maksudnya mungkin baik, ingin memberikan masukan atau menunjukan kepedulian. Namun, seringkali orang enggak paham menempatkan porsi untuk memberi masukan, ditambah caranya yang justru menyakiti orang lain. 

Ada kalanya kita juga enggak bisa berbuat apa-apa selain menerima komentar orang tersebut. Kalau ini sih karena masalah kesantunan. Misalnya saat orang tua atau mertua komentar tentang cara pengasuhan kita, cara yang paling "aman", ya... cukup berterima kasih atas masukan yang mereka berikan (walaupun hati rasanya cekat cekot). Tinggal kita kelola hati deh, gimana caranya supaya enggak baper berkepanjangan.

Jelaskan Situasi Anda

Namun, ada kalanya Anda juga perlu membela diri. Orang juga enggak bisa dong seenak-enaknya memberikan komentar. Padahal yang paling tahu kondisi anak-anak, tentulah kita, ibunya. Sebagai ibu, kita pun ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak. Namun seringnya orang lebih mudah menilai cela tanpa mau tahu kondisi yang melatar belakanginya.

Kita boleh banget, lho, Moms membuat pembelaan dengan menjelaskan situasi kita. Seperti saat saya menyapih dini si adik lantaran saya hamil lagi. Karena kontraksi, dokter enggak menyarankan saya untuk hamil sambil menyusui. Ealah... ternyata banyak lho yang mengomentari keputusan saya menyapih dini si adik. Mereka mempertanyakan apakah ikhtiar saya menyusui sudah maksimal. Saya jelaskan saja bahwa ada latar belakang medis di balik alasan saya menyapih adik. Saya enggak mungkin dong egois mengorbankan keselamatan jabang bayi dengan memaksakan menyusui. Sementara si adik bisa mendapatkan asupan nutrisi dari sumber lain. Hasilnya? Mereka pun langsung bungkam. Memangnya mereka mau tanggung jawab kalau ada apa-apa?

SUPPORT NOT BLAMMING EACH OTHER


Terkadang yang bikin sedih adalah pelaku "mom shaming" yang paling semangat mem-bully justru datang dari sesama ibu. Sudahlah... sesama ibu lebih baik kita saling mendukung dan bergandengan tangan. Setiap ibu itu mulia dengan perannya, mau ibu rumah tangga, ibu bekerja, ibu menyusui, ibu susu formula, ibu lahiran normal, ibu lahiran cesar, tetap saja kita semua seorang ibu.

Sesama ibu seharusnya saling dukung, bukan saling menghakimi, apalagi menjatuhkan. (Sumber gambar: Pexel.com)


Kalau memang ada ibu yang masih punya banyak PR yang harus dia benahi, beri dukungan sesuai porsi kita sebagai orang luar. Jangan merasa lebih benar dan baik dalam mengasuh dan mendidik anak. 
Apalagi ditambah menghakimi, memangnya kita punya hak apa? Yakin cara kita mendidik dan mengasuh anak-anak sudah paling kece sejagad raya? Peran ibu kenyataannya sulit untuk dilakukan dengan sempurna, jadi sesama yang tidak sempurna, tak perlu lah saling menghakimi.

Terus kalau melihat ada perilaku yang enggak pas dari ibu ke anaknya, kita diam saja gitu?

Ya... Enggak juga. Sebagai bagian dari masyarakat kita juga perlu peka terhadap lingkungan. Dulu waktu saya masih tinggal di daerah Priok yang konon tingkat kekerasan pada anaknya cukup tinggi, saya pun suka gemas kalau melihat ibu yang berlaku kasar pada anaknya.

Memberikan komentar membangun menurut saya boleh saja, tapi ada etikanya juga, seperti:
  1. Kalau mau memberi masukan, pahami dulu kondisi yang akan Anda komentari. Kalau Anda merasa enggak punya cukup info, jangan serta merta mengambil kesimpulan sendiri. 
  2. Anda sedang memberi masukan untuk perbaikan bukan menghakimi, jadi lebih baik dekati orangnya secara personal. Apalagi ketika berkomentar di sosmed, hindari "teriak-teriak" di kolom komentar.
  3. Pilihlah tata bahasa yang baik. Bukan hanya pemilihan kata, tetapi juga cara penyampaian. Sebagai orang timur yang tinggi budaya keponya, Anda juga harus menjunjung tinggi budaya ketimuran dalam menyampaikan pendapat. Jadi, utamakan sopan santun dan tetap menjaga perasaan yang bersangkutan.
  4. Anda pun harus terbuka dengan masukan. Ingatlah bahwa ketika berkomentar, Anda tidaklah maha benar. Jadi, ketika orang yang Anda komentari ternyata punya argumen yang ternyata lebih benar, Anda pun harus berlapang dada menerima.
  5. Kalau enggak penting-penting amat, simpan komentar Anda. Tidak semua harus Anda komentari dan tidak semua harus Anda turut campuri. 
  6. Jangan mencari-cari kesalahan orang lain. Ingatlah bahwa kita semua bukanlah orang tua yang sempurna.
  7. Beri dukungan terbaik Anda pada sesama ibu dengan membesarkan hati dan memberikan rekomendasi. Hal itu lebih berarti dari sekadar memberikan kritik dan menghakimi.


Jadi, begitulah selentingan tulisan saya tentang  "mom shaming". Kita bisa memilih mau bereaksi bagaimana, tergantung situasi dan siapa yang mengomentari Anda. Enggak beraksi pun itu jadi pilihan Anda. Tinggal bagaimana kita memenej hati supaya komentar orang enggak membuat kita down atau uring-uringan berkepanjangan.

Di sisi lain, tanpa sadar, kita mungkin juga bisa menjadi pelaku "mom shaming". Jadi... selain jaga hati, kita pun juga perlu menjaga lisan ya Moms😉

Referensi:


Komentar

  1. kadang aku gak ngerti sama orang jaman sekarang apa saja dinyinyirin ya, banyak aku nemukan ibu2 yang diperlakukan spt di atas sekarang, tp jaman aku dulu jarang deh aku denger spt dana ku juag gak pernah ngalami

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena sekarang orang gampang akses informasi, terutama dari sosmed ya Mom. Ruang buat berpendapat juga makin gampang. Masalahnya seringkali orang enggak memikirkan perasaan orang lain saat komentar,huhu

      Hapus
  2. hih aku tuh sampai menjuluki tetanggaku mak lampir karena kalau ketemu selalu komentar. Heran aku tuh sama orang yang kaya gitu, mulutnya apa gabisa ngomong yang berfaedah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi... sabar ya Mom... Memang kita enggak bisa ngontrol omongan orang. Akhirnya daripada kesel terus, mending dicuekin aja deh....

      Hapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…

LIVING WITH BABY AND TODDLER: MENJAGA KEWARASAN DITENGAH KEREMPONGAN

Hi moms!  Perkenalkan nama saya cempaka. Saya baru saja resmi menjadi ibu beranak dua setelah melahirkan putri kedua saya 1 bulan yang lalu. Saat saya mengetik tulisan ini, saya sedang makan malam sambil menggendong bayi saya yang tertidur. Setelah rempong seharian mengurus rumah, bayi dan batita sekaligus. Siapa yang senasib dengan saya? #ngacung