Langsung ke konten utama

CERITA NUHA: KETIKA KAKAK BERTANYA TENTANG SURGA


"Mi, surga itu apa?" Si kakak tiba-tiba melontarkan pertanyaan.
"Hmm... surga itu tempat yang istimewa. Cuma anak-anak baik dan sholeha yang bisa tinggal di sana," saya memeras otak memikirkan rangkaian kalimat sederhana yang mudah dipahami kakak.
"..." hening si kakak sambil menunjukan ekspresi bingung.
"Di surga ada banyak hal yang kakak sukai. Kalau kakak minta apapun, pasti Allah kasih," tambah saya.
"Ada mainan?" tanyanya polos.
"Ada"
"Ada trampolin?"
"Ada"
"Ada es krim"
"Ada"
"Aku mau masuk surga," ujarnya sambil tersenyum dan berakhirlah diskusi kami.

Itu adalah sepenggal dialog saya dan kakak. Entah dimulai dari apa, kakak tiba-tiba bertanya tentang surga pada saya. Anak seusia kakak (4 tahun) memang sudah mulai kritis. Pola pikir yang berkembang juga membuat anak seusia kakak mulai mempertanyakan hal-hal yang lebih kompleks. 

Seperti curhat salah satu tetangga, ketika anaknya dibujuk agar tidak penakut dengan ucapan, "tenang saja, kan ada Allah yang melindungi kita," serta merta si anak malah menjawab, "tapi aku enggak bisa lihat Allah, Mi".

Mengenalkan konsep ketuhanan kepada buah hati memang bukan perkara mudah. Karena konsep Tuhan itu konkret, namun abstrak. Nah... bingung kan? Karena kita melihat kekonkretan konsep ketuhanan dengan iman, bukan dengan indera.

Kalau dari teori Piaget tentang tahap perkembangan kognitif yang saya pelajari saat kuliah dulu, pada usia kakak, anak baru memasuki tahap pre-operasional. Pada tahap ini, anak baru dapat memahami hal-hal yang ia lihat secara nyata. Ada benda yang bisa dilihat dan diraba, anak baru bisa memaknainya. Namun, pada kenyataannya, kerja kognisi anak enggak sesederhana itu sih... banyak faktor yang mempengaruhi, diantaranya sosiokultural. Artinya lingkungan juga turut membantu anak untuk bisa mengembangkan kemampuan kognisinya. Hal ini diamini oleh Vygotsky, ahli lain berpaham konstruktivisme.

Saya sendiri enggak terlalu pusing dengan pendapat para ahli tersebut. Toh, kenyataannya setiap anak berbeda-beda. Enggak usah juah-jauh, kita sendiri bisa menilai anak-anak kita punya karakter dan kemampuan kognitif yang berbeda. Saya sendiri punya keyakinan, dengan pembiasaan dan cara penyampaian yang tepat, Insya Allah anak-anak bisa memahami dan memaknai keberadaan Allah, meski secara teori, tahapan kognisinya belum sampai dalam kemampuan memahami keberadaan Allah.

Jadi, kapan anak mulai siap dikenalkan dengan konsep ketuhanan?


Kalau saya mengenalkan Allah pada kakak sejak dia sudah paham kalau ada dunia di luar dirinya. Sampai usia dua tahun, anak masih egosentris, ia melihat dirinya sebagai satu kesatuan dengan lingkungannya. Maka, jangan heran kalau sampai usia dua tahun anak Moms akan cenderung nempel pada Anda dan enggak bisa ditinggal sekejap pun.

Saat anak sudah melewati fase ini, kita akan lebih mudah mengajarkan padanya tentang lingkungan, termasuk mengenalkan konsep ketuhanan. Sebab untuk bisa mengenalkan konsep ketuhanan, kita akan banyak memberikan gambaran melalui penciptaan-Nya yang ada di sekitar anak.

BERANGKAT DARI TUJUAN

Sebagai orang tua, kita tentu ingin anak-anak kita memiliki akhlak yang baik dan berbudi, shalih/shaliha. Semua itu dilakukan karena kita ingin anak-anak kita bahagia, enggak hanya bahagia di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Salah satu upaya yang bisa kita lakukan sebagai orang tua adalah dengan menanamkan ajaran agama dan keyakinan akan adanya Sang Pencipta. Ada orang tua yang mengajarkan anaknya spesifik ajaran agama tertentu seperti saya, ada juga yang lebih terbuka terhadap ajaran agama dengan membebaskan anak-anaknya menganut agama apapun yang mereka yakini. Hal ini sebenarnya terjadi juga di keluarga saya, ketika nenek dan kakek saya terdahulu membebaskan anak-anaknya untuk memilih agama yang mereka yakini.

Maka, saat kita mengenalkan konsep ketuhanan pada anak, kita sendiri pun perlu menguatkan tujuannya. Kenapa sih kita harus atau perlu mengenalkan Allah pada buah hati kita? Hal ini penting, agar pengenalan konsep ketuhanan tidak hanya berhenti sampai tataran ritual saja. Namun, tumbuh sebagai suatu bentuk kecintaan kepada Sang Pencipta.

FOKUS MEMBANGUN CINTA

Beberapa teman di lingkungan saya memilih sebagai agnostik (tidak yakin dengan ada atau tidaknya Tuhan), sebagian lagi bahkan kehilangan keyakinannya terhadap Tuhan dan memilih sebagai atheis. Dari beberapa teman tersebut, saya menarik benang merah. Hampir semuanya justru tumbuh di dalam keluarga yang religius, dengan pengajaran agama yang sangat ketat dan disiplin. Namun, ada bagian yang hilang, yaitu rasa cinta terhadap Tuhan dan ajaran agama itu sendiri.

Kebanyakan dari mereka hanya diajarkan agama sebatas dogma yang berisi apa yang boleh dan tidak boleh serta apa yang harus dilakukan dalam hidup ini. Pada akhirnya, ajaran agama justru dipandang sebagai pengekang kebebasan, tanpa mereka tahu alasan kenapa harus melakukan itu dan kenapa tidak boleh itu.

Fokus membangun cinta pada Allah sebelum mengenalkan ritual-ritual dalam agama (sumber gambar:Pexel.com)

Saya dan suami telah berkomitmen, bahwa hal pertama yang akan kami bangun dari anak-anak kami adalah kepercayaan akan keberadaan Allah dan kecintaan kepada-Nya. Sedangkan ritual agama kami perkenalkan bertahap dan pelan-pelan. Karena dari pemahaman awam kami, jika cinta telah tumbuh, maka ibadah tak perlu disuruh. Semua akan muncul karena keinginan diri, bukan dipaksakan sehingga justru jadi benci.

Lalu bagaimana mengenalkan konsep ketuhanan pada anak usia dini?


Saya tidak menyebut apa yang kami lakukan sudah efektif. Karena sesungguhnya proses ini belumlah final. Allah yang memegang hati anak-anak kami. Sengotot apapun kami menjejalkan ajaran agama kepada mereka, tetap Allah yang punya kuasa atas hati mereka. Namun kami berkeyakinan, dengan niat dan ikhtiar yang tulus, tidak ada hal sia-sia dari apa yang kami lakukan.

Konsep ketuhanan yang sesungguhnya konkret, namun belum bisa dipahami anak-anak karena kemampuan mengolah informasinya yang masih sederhana, perlu dikenalkan dengan cara yang sederhana, menyenangkan namun tetap mengena. Hal itu lah yang berusaha kami hadirkan dalam kehidupan anak-anak kami. Jika dijabarkan dalam poin, berikut hal-hal yang kami lakukan untuk memperkenalkan konsep ketuhanan kepada kakak dan adik:

Senantiasa Menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas

Meskipun secara kasat kita tidak bisa melihat Allah, namun kita bisa menghadirkan keberadaanNya dalam situasi sehari-hari. Saya sendiri enggak pernah menyediakan waktu khusus untuk menjelaskan tentang Allah. Namun, saya selalu mengaitkan aktivitas-aktivitas yang kami lakukan dengan Allah. Cara paling sederhana adalah dengan berdoa sebelum beraktivitas. Ketika mau makan, tidur, bepergian atau saat hujan adalah momen yang saya gunakan untuk mengenalkan Allah pada anak-anak saya melalui aktivitas berdoa.

Suatu hari kakak pernah bertanya, untuk apa kita berdoa. Saya jelaskan secara sederhana bahwa dengan berdoa, Allah akan membantu kegiatan kita, juga melindungi kita selama berkegiatan. Jadi, aktivitas kita akan lebih mudah. Dari situ kakak mendapat gambaran, bahwa ada sosok yang hadir dalam setiap aktivitasnya, yang membantunya dan senantiasa melindunginya.

Sebagian buku yang saya pergunakan untuk mengenalkan Allah dan rasulNya melalui story telling (bercerita)


Selain berdoa, saya juga mengenalkan Allah melalui cerita. Sekarang ini banyak banget buku-buku cerita anak dengan tema keagamaan. Silahlahkan disotir sendiri mana buku yang cocok untuk anak Anda. Karena temanya sensitif, saya lumayan selektif memilihkan buku tema ini untuk anak-anak saya. Biasanya saya memilih buku fabel dengan cerita yang sederhana. Namun, enggak menutup kemungkinan saya juga memilih buku dengan tokoh manusia. Hal yang saya perhatikan adalah kesesuaian antara isi cerita dengan usia anak-anak saya.


Menjadikan ritual agama sebagai aktivitas yang menggugah dan menyenangkan

Mau anaknya rajin sholat, tapi bapak ibunya disuruh sholat berat, enggak mungkin kan? Menjalankan ritual agama tidak hanya kelanjutan dari sikap percaya dan mengimani Tuhan, tetapi juga salah satu bentuk ekspresi cinta kita pada Tuhan. Sekarang, dimana letak cintanya kalau disuruh menghadap dan berdoa malas-malasan? Jadilah tauladan dengan menunjukan bahwa aktivitas ibadah itu menyenangkan. Sambut panggilan ibadah dengan penuh semangat, anak pun akan penasaran dan ingin mencicipi nikmatnya merasakan ibadah karena melihat orang tuanya.

Tauladan jauh lebih powerfull dan berdampak dibandingkan dengan nasihat-nasihat. Menampakan aktivitas ibadah kita pada anak bukanlah termasuk riya. Karena tujuannya adalah mendidik anak melalui contoh, bukan untuk pamer.

Menghadirkan sosok Allah sebagai pelindung dan Maha Penyayang

"Kalau nakal, nanti kamu masuk neraka,lho!" 

atau

"Allah benci anak-anak nakal."

Nah, lho... kenal saja belum, Tuhan sudah digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan dan siap menghukum siapa saja. Pola pikir anak tuh kan sederhana banget. Mereka akan menelan habis apa yang kita katakan. Dulu, ketika kecil, salah satu asisten rumah tangga yang bekerja pada ibu saya pernah menakut-nakuti saya. Ceritanya waktu itu saya bercanda sambil pakai mukena, lalu dia bilang kalau saya bermain dengan mukena, saya akan dihukum Allah hingga mukenanya enggak akan bisa dilepas dan menempel pada kulit saya. Pernyataan yang bodoh dan saya saat itu jauh lebih bodoh karena percaya dengan apa yang orang itu katakan. Setelahnya, saya malah jadi takut sholat, karena saya enggak mau pakai mukena. Enggak mau kan kejadian serupa terjadi sama anak Anda?

Sebaliknya, kini saya selalu berusaha menghadirkan Allah sebagai sosok yang penuh kasih sayang dan melindungi makhlukNya. Misalnya ketika anak-anak saya takut petir, saya ajak mereka berdoa agar Allah melindungi kami atau ketika mereka punya keinginan untuk memiliki sesuatu (buku atau mainan), saya dorong mereka untuk berdoa agar Allah memberi. Saya tanamkan pada anak-anak saya kalau Allah sayang sekali pada mereka. Misalnya dengan mengajak anak-anak saya menghitung nikmatNya. Saya katakan bahwa apa yang kakak dan adik miliki semua pemberian dari Allah bukan dari ummi atau abi.

Perkenalkan ritual agama sesuai dengan porsi usia

Saya dan suami baru intens mengenalkan hafalan quran pada kakak setahun terakhir ini. Meskipun sebelumnya, sudah sering kakak menyaksikan kami membaca quran. Kenapa baru sekarang? Sederhana, karena anaknya baru mau,hehe. Kami enggak ingin memaksakan sesuatu hingga anak merasa enggak nyaman. Kami khawatir, cara seperti itu justru membuat anak menjadi benci dan antipati.

Berikut ini salah satu video yang menginspirasi saya dalam mengenalkan hafalan quran pada kakak:


Sejauh ini si kakak justru tertarik untuk mulai menghafal quran dan sholat setelah melihat kami rutin melakukannya. Saya biasanya menggunakan momen-momen santai untuk mengenalkan satu ayat setiap harinya, misalnya di sela waktu bermain atau waktu sebelum tidur. Untuk sholat, saya sengaja membelikan kakak mukena kecil untuk ia gunakan sendiri. Terbukti, sejauh ini cara tersebut efektif membuat kakak semangat beribadah.

Mengajak kakak untuk belajar mengaji di masjid bersama teman-temannya agar lebih semangat

Lalu, bagaimana kalau anak menolak untuk sholat?

Untuk sementara, saya fokus memberi contoh dan mengajak. Karena kakak belum wajib sholat. Biasanya, saya tanyakan saja, kenapa kakak enggak mau sholat. Biasa dia akan jawab ngantuk atau masih mau main. Jika ia menjawab begitu, saya akan bilang nanti setelah kakak selesai, kakak sholat ya, kemudian saat dia selesai main, saya tawarkan kembali untuk sholat. Intinya, jangan bosan mengajak anak untuk beribadah, tapi juga jangan terlalu memaksa.

Berdoa, berdoa dan berdoa

Tiada yang menggenggam hati selain Allah sendiri. Sekeras apapun kita berusaha, hasil finalnya tetap di tangan Allah. Doakan senantiasa anak-anak kita agar lembut hatinya dan mudah disentuh dengan ilmu agama. Setelah itu, kita tinggal bertawakal deh... Insya Allah ikhtiar Moms sudah menjadi amal shalih. Ingat! Anak bukan tropi! Luruskan niat bahwa mengajarkan mereka dasar agama bukan sekadar ingin orang menganggap bahwa anak kita shalih/shaliha. Namun, jadikan ini sebagai bentuk ikhtiar untuk meneruskan tongkat estafet generasi rabanni yang menjunjung akhlak dan akidah yang lurus.

Mengenalkan konsep ketuhanan memang perlu sangat hati-hati. Karena yang kita "sentuh" bukan hanya tataran kognisi, tetapi masalah hati. Kunci utamanya adalah membangun cinta (pada Tuhan) dengan (penuh) cinta, maka tumbuhkan cinta tersebut secara perlahan namun pasti dengan suri tauladan yang baik. Niat dan ikhtiar yang tulus, Insya Allah akan membuahkan hasil yang manis.

Aamiin Ya rabb...

Komentar

  1. masya Allaaah tulisan ini cakep banget mbak

    banyak juga temanku yang seperti ini. Moslem atau Kristiani tapi tidak mau menjalankan ritual dalam agama karena yaaa... ibadah atau tidak ibadah, toh nanti udah jelas ada yang "menjamin"

    yang penting berbuat baik sama orang ajalah, jadi tidak usah ribet sama agama

    BalasHapus
  2. karena Allah selalu online walau statusnya invisible :)

    Sungguh beruntung kakak punya mommy seperti Cempaka karena paham bagaimana mengenalkan surga dan Sang Pencipta

    Ngga seperti kita yang hidup dalam "kegelapan" :D :D

    BalasHapus
  3. Terima kasih Mbak, saya jadi banyak belajar dari postingan Mbak ini. Anak saya usia 2,5 tahun, semoga saya bisa mengenalkan rasa cinta kepada Allah dengan baik. Itu jadi PR saya hehe

    BalasHapus
  4. Terkadang memang anak suka bertanya tentang surga, namun kita siasat dengan perlakuan kita terhadap allah dengan wujud nyata seperti sholat, ngaji atau berbuat kebaikan

    BalasHapus
  5. Setuju banget mbak, kadang ada orang-orang yang tumbuh ditengah keluarga yang religius justru mereka menjadi rebel, kurang taat, bahkan sampai memilih menjadi atheis karena mungkin dalam pendidikan agama yang diterapkan lupa diselipkan rasa cinta itu sendiri 😊

    Biasanya anak-anak akan mencontoh kedua orang tua, dan media buku bacaan juga salah satu yang dapat menarik perhatian anak untuk mencari tau atau memahami konsep ketuhanan ya mbak, thanks for sharing mbak 🥰

    BalasHapus
  6. setuju banget dengan isi tulisannya mbak.
    Pengalaman saya dari 2 anak yang satunya udah SMP dan SMA .. dua2nya mirip tapi tak sama kesenangannya.

    Lebih banyak miripnya sebenarnya.. walau karakternya berbeda. Walau sekolah sama, pendidikannya sama, cara mengajarkannya sama semua.. Namun untuk minat menghafap qur'an itu lebih kelihatan si adik .. dan saya tidak pernah meminta dia masuk ke rumah hafalan.. tapi sejak kelas 3 SD sudah minta sendiri untuk masuk rumah tahsin lalu lanjut ke tahfidz... dan berlangsung sampai SMP sekarang ini.
    Soal target hafalan.. saya nggak kesana tujuannya, melihatnya konsisten dengan datang ke rumah tahfidz 3 kali seminggu selama bertahun2 aja.. rasanay udah bahagia hati ini.

    hafalannya masih sedikit kok, karena saya juga nggak mentargetkan harus hafal 30 juz.
    Mamanya udha bahagia si anak udah mau rajin ke rumta.

    Nah kalo si abang.. walau nilai tahfidz di sekolahnya bagus.. tapi belum meminta masuk rumta sih sampais ekarang..
    Dan aku nggak paksain juga harus masuk kayak adeknya. karena adeknnya sendiri ya juga atas keinginan sendiri

    BalasHapus
  7. Iya nih anakku juga sekarang udah mau kelas 2, udah makin kritis cara berpikirnya dan jadi banyak bertanya. Kitanya yg harus selalu upgrade ilmu parenting nih ya mba

    BalasHapus
  8. Suka banget dengan tulisan ini. Thanks for sharing. Saya izin bookmark ya Mbak. Sementara ini saya juga dalam proses mengajarkan anak saya untuk mengenal konsep ketuhanan.

    BalasHapus
  9. Anak,2 sekarang memang jauh lebih kritis dibanding anak-anak masa Intan (putriku) masih balita, dua puluhan tahun lalu.

    Ketika mendapatkan pertanyaan2 kritis menggelitik ini, sejenak kita seakan terdiam, berdialog dengan diri sendiri mencari jawaban yang tepat ya, Mba? Hehe.

    BalasHapus
  10. MasyaAllah, anak-anak mah emang gitu ya. Sering melontarkan pertanyaan yang membuat aku kadang termenung sejenak

    BalasHapus
  11. Ulasan yang lengkap tentang mengenalkan konsep ketuhanan pada anak sejak dini. Dan saya setuju dengan apa yang disampaikan di sini. Benar jika tiada yang menggenggam hati selain Allah sendiri. Sekeras apapun kita berusaha, hasil finalnya tetap di tangan-Nya. Terus berusaha dan berdoa agar senantiasa anak-anak kita lembut hatinya dan mudah disentuh dengan ilmu agama.

    BalasHapus
  12. anakku juga 4 tahun mbak, sementara masih mencontohkan dalam hal ritual dan keTuhanan, salahsatunya bersyukur. Aku juga pakai beberapa buku yang mbak Cempaka pakai untuk jelasin ke anak. Sementara belum mengajarkan hafalan Quran karena masih menuntaskan motoriknya dia yang suka jumpalitan hehe. Makasih mba, atas tipsnya ini. Memang anak-anak membutuhkan hal yang konkrit untuk menjelaskan yang abstrak.

    BalasHapus
  13. Terima kasih sharing'y Mba, saya coba menerapkan k anak saya juga ya. Hehe..

    BalasHapus
  14. Masya Allah mba jadi ingat waktu anak pertama masih balita.

    Teladan pertama anak2 memang orang tuanya. Semoga kita dimudahkan dan diberi kelancaran menjadi teladan yang baik buat anak2 kita. Aamiin.

    BalasHapus
  15. Benar sekali mbak, mengajarkan konsep Ketuhanan kepada anak memang tidak mudah. Butuh metode yang tepat supaya anak bisa memahaminya. Kadang saya juga bigung bagaimana cara menjelaskan supaya anak paham.

    Terima kasih banyak mbak atas sharenya. Nanti mau saya praktekkan untuk mengajarkan konsep Ketuhanan kepada anak saya

    BalasHapus
  16. Mbak, kalau anaknya mbak di bawah dua tahun lebih fokus ke apa ya?

    BalasHapus
  17. Benar banget mba. Mengenalkan konsep ketuhanan kepada anak kecil memang harus hati-hati. Karena pertanyaannya bisa sangat sedetail mungkin diajukan oleh anak. Kadang kalau jawaban kita tidak memuaskan anak akan bertanya pada yang lain. Misal kalau bertaya kepada yang masih dalam satu rumah saja sih tidak masalah. Nah kalau sudah bertanya pada orang lain yang tidak kita kenal lalu jawabannya nyeleneh, ini yang bikin was-was. Semoga anak-anak kita semua menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Aamiin

    BalasHapus
  18. Tulisan yang sarat makna, Mbak. Bagus sekali.

    Mengajak pembaca untuk bisa mengajarkan tentang konsep ketuhanan kepada anak-anak sejak dini.

    Sepakat dengan point mengenalkan ritual ibadah sesuai umurnya. Yang penting untuk anak yang masih balita adalah contoh yang bisa ia lihat. Sehingga ia bisa menirunya.

    Terima kasih atas sharing nya, Mbak.

    BalasHapus
  19. Betul sekali mbak menanamkan rasa cinta kepada Allah adalah hal yang memang harus kita latih dahulu, dengan rasa cinta apapun yang dilakukan akan terasa nikmat

    BalasHapus
  20. Masya Allah.. tukisannya menginspirasi. Cara mengenalkan Tuhan kepada anak yang masih berusia balita. Pas buat anak bungsuku yang seneng tanya macam-macam.

    BalasHapus
  21. bener mba, kadang namanya anak-anak masih belum paham ya tentang Tuhan. malah kadang nanya suka yang aneh-aneh. jadi emang bener kita sebagai orangtua harus hati-hati banget, biar anak paham makna Tuhan sebenarnya itu apa. makasih mba sharingnya.

    BalasHapus
  22. Tulisan ini bener-bener jadi masukan saya, mba. Kadang saya tuh susah kalo nyuruh Si Kk solat, tapi kalo dipaksa saya takut malah dia jadi ngerasa terkekang karena bukan kemauannya sendiri. Apalagi kalo emaknya lagi dapet, susah banget di omongin, maunya solat barengan. Gak mau solat sendirian

    BalasHapus
  23. Gemes sama oertanyaannya.

    Tapi sejujurnya saya deg-degan kalau anak mulai bisa nanya begini. Sekarang sih masih blabering aja. Ngomongnya belum jelas. Tapi kan pertanyaan tauhid itu macem naluri ya. Jadi, cepat atau lambat ya anak pasti nanya.

    Takut aja nggak bisa memberikan jawaban yang memuaskan akalnya. Trus malah mengsle.

    BalasHapus
  24. Saya termasuk sangat sulit menanamkan rasa cinta ini. Sudah salah sejak awal. Jadi sekarang imbasnya susah disuruh ibadah. Tapi bener ya Bun. Ortu gak boleh nyerah. Luruskan niat. Memulai lagi dan lagi. Terima kasih sudah diingatkan.

    BalasHapus
  25. anakku 4 tahun juga nanya, di syurga ada yupi ga mah? ahhaha. betul membiasakan anak beribadah tanpa memaksa, agar tumbuh cinta yang kuat ya di dalam dada

    BalasHapus
  26. Jadi yang penting konsep ketuhanan dulu ya, Mbak. Dan ritualnya diajarkan dengan penuh cinta. Supaya anak mengerjakannya karena rasa cintanya kepada Allah.

    BalasHapus
  27. Masha Allah, keren tulisannya mba. setuju mengenalkan Tuhan kepada anak tidak harus dengan cara menakut-nakuti. Lebih baik kenalkan kepada anak sifat Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayayng, Maha Pelinduung, dst

    BalasHapus
  28. Memang benar, agak sulit menjelaskan konsep ketuhanan kepada anak yang harus melihat barang real. Tapi pelan2 akan saya coba. Terima kasih landuannya mbak.

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

CARA MEMBUAT ECO ENZYME

Setelah berkomitmen untuk belajar gaya hidup hijau, keluarga kami mulai mengkonversi segala produk yang dapat merusak lingkungan, salah satunya adalah sabun. Setelah berhasil membuat sabun lerak, saya pun penasaran membuat jenis sabun lainnya. Kali ini sedikit lebih ekstrem, saya membuatnya dari sampah organik rumah tangga. Dari sampah bisa jadi bahan pembersih? Masa sih? Bisa saja. 
Baca juga: MENCUCI DENGAN SABUN LERAK

Dikembangkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, eco enzyme atau cairan organik dari olahan sampah organik rumah tangga bisa dibuat sebagai bahan pembersih. Apa itu eco enzyme? Eco enzyme adalah hasil olahan limbah dapur yang difermentasi dengan menggunakan gula. Limbah dapur dapat berupa ampas buah dan sayuran. Gula yang digunakan pun bisa gula apa saja, seperti gula tebu, aren, brown sugar,dll). Saya pribadi belum berani bikin dari ampas dapur yang aneh-aneh. Saya buat dari kulit buah jeruk dan apel. Agar hasil eco enzyme-nya wangi,hehe. Cara membuat eco enzyme? Eco enzy…

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…