Langsung ke konten utama

CERITA NUHA: KETIKA KAKAK BERTANYA TENTANG SURGA


"Mi, surga itu apa?" Si kakak tiba-tiba melontarkan pertanyaan.
"Hmm... surga itu tempat yang istimewa. Cuma anak-anak baik dan sholeha yang bisa tinggal di sana," saya memeras otak memikirkan rangkaian kalimat sederhana yang mudah dipahami kakak.
"..." hening si kakak sambil menunjukan ekspresi bingung.
"Di surga ada banyak hal yang kakak sukai. Kalau kakak minta apapun, pasti Allah kasih," tambah saya.
"Ada mainan?" tanyanya polos.
"Ada"
"Ada trampolin?"
"Ada"
"Ada es krim"
"Ada"
"Aku mau masuk surga," ujarnya sambil tersenyum dan berakhirlah diskusi kami.

Itu adalah sepenggal dialog saya dan kakak. Entah dimulai dari apa, kakak tiba-tiba bertanya tentang surga pada saya. Anak seusia kakak (4 tahun) memang sudah mulai kritis. Pola pikir yang berkembang juga membuat anak seusia kakak mulai mempertanyakan hal-hal yang lebih kompleks. 

Seperti curhat salah satu tetangga, ketika anaknya dibujuk agar tidak penakut dengan ucapan, "tenang saja, kan ada Allah yang melindungi kita," serta merta si anak malah menjawab, "tapi aku enggak bisa lihat Allah, Mi".

Mengenalkan konsep ketuhanan kepada buah hati memang bukan perkara mudah. Karena konsep Tuhan itu konkret, namun abstrak. Nah... bingung kan? Karena kita melihat kekonkretan konsep ketuhanan dengan iman, bukan dengan indera.

Kalau dari teori Piaget tentang tahap perkembangan kognitif yang saya pelajari saat kuliah dulu, pada usia kakak, anak baru memasuki tahap pre-operasional. Pada tahap ini, anak baru dapat memahami hal-hal yang ia lihat secara nyata. Ada benda yang bisa dilihat dan diraba, anak baru bisa memaknainya. Namun, pada kenyataannya, kerja kognisi anak enggak sesederhana itu sih... banyak faktor yang mempengaruhi, diantaranya sosiokultural. Artinya lingkungan juga turut membantu anak untuk bisa mengembangkan kemampuan kognisinya. Hal ini diamini oleh Vygotsky, ahli lain berpaham konstruktivisme.

Saya sendiri enggak terlalu pusing dengan pendapat para ahli tersebut. Toh, kenyataannya setiap anak berbeda-beda. Enggak usah juah-jauh, kita sendiri bisa menilai anak-anak kita punya karakter dan kemampuan kognitif yang berbeda. Saya sendiri punya keyakinan, dengan pembiasaan dan cara penyampaian yang tepat, Insya Allah anak-anak bisa memahami dan memaknai keberadaan Allah, meski secara teori, tahapan kognisinya belum sampai dalam kemampuan memahami keberadaan Allah.

Jadi, kapan anak mulai siap dikenalkan dengan konsep ketuhanan?


Kalau saya mengenalkan Allah pada kakak sejak dia sudah paham kalau ada dunia di luar dirinya. Sampai usia dua tahun, anak masih egosentris, ia melihat dirinya sebagai satu kesatuan dengan lingkungannya. Maka, jangan heran kalau sampai usia dua tahun anak Moms akan cenderung nempel pada Anda dan enggak bisa ditinggal sekejap pun.

Saat anak sudah melewati fase ini, kita akan lebih mudah mengajarkan padanya tentang lingkungan, termasuk mengenalkan konsep ketuhanan. Sebab untuk bisa mengenalkan konsep ketuhanan, kita akan banyak memberikan gambaran melalui penciptaan-Nya yang ada di sekitar anak.

BERANGKAT DARI TUJUAN

Sebagai orang tua, kita tentu ingin anak-anak kita memiliki akhlak yang baik dan berbudi, shalih/shaliha. Semua itu dilakukan karena kita ingin anak-anak kita bahagia, enggak hanya bahagia di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Salah satu upaya yang bisa kita lakukan sebagai orang tua adalah dengan menanamkan ajaran agama dan keyakinan akan adanya Sang Pencipta. Ada orang tua yang mengajarkan anaknya spesifik ajaran agama tertentu seperti saya, ada juga yang lebih terbuka terhadap ajaran agama dengan membebaskan anak-anaknya menganut agama apapun yang mereka yakini. Hal ini sebenarnya terjadi juga di keluarga saya, ketika nenek dan kakek saya terdahulu membebaskan anak-anaknya untuk memilih agama yang mereka yakini.

Maka, saat kita mengenalkan konsep ketuhanan pada anak, kita sendiri pun perlu menguatkan tujuannya. Kenapa sih kita harus atau perlu mengenalkan Allah pada buah hati kita? Hal ini penting, agar pengenalan konsep ketuhanan tidak hanya berhenti sampai tataran ritual saja. Namun, tumbuh sebagai suatu bentuk kecintaan kepada Sang Pencipta.

FOKUS MEMBANGUN CINTA

Beberapa teman di lingkungan saya memilih sebagai agnostik (tidak yakin dengan ada atau tidaknya Tuhan), sebagian lagi bahkan kehilangan keyakinannya terhadap Tuhan dan memilih sebagai atheis. Dari beberapa teman tersebut, saya menarik benang merah. Hampir semuanya justru tumbuh di dalam keluarga yang religius, dengan pengajaran agama yang sangat ketat dan disiplin. Namun, ada bagian yang hilang, yaitu rasa cinta terhadap Tuhan dan ajaran agama itu sendiri.

Kebanyakan dari mereka hanya diajarkan agama sebatas dogma yang berisi apa yang boleh dan tidak boleh serta apa yang harus dilakukan dalam hidup ini. Pada akhirnya, ajaran agama justru dipandang sebagai pengekang kebebasan, tanpa mereka tahu alasan kenapa harus melakukan itu dan kenapa tidak boleh itu.

Fokus membangun cinta pada Allah sebelum mengenalkan ritual-ritual dalam agama (sumber gambar:Pexel.com)

Saya dan suami telah berkomitmen, bahwa hal pertama yang akan kami bangun dari anak-anak kami adalah kepercayaan akan keberadaan Allah dan kecintaan kepada-Nya. Sedangkan ritual agama kami perkenalkan bertahap dan pelan-pelan. Karena dari pemahaman awam kami, jika cinta telah tumbuh, maka ibadah tak perlu disuruh. Semua akan muncul karena keinginan diri, bukan dipaksakan sehingga justru jadi benci.

Lalu bagaimana mengenalkan konsep ketuhanan pada anak usia dini?


Saya tidak menyebut apa yang kami lakukan sudah efektif. Karena sesungguhnya proses ini belumlah final. Allah yang memegang hati anak-anak kami. Sengotot apapun kami menjejalkan ajaran agama kepada mereka, tetap Allah yang punya kuasa atas hati mereka. Namun kami berkeyakinan, dengan niat dan ikhtiar yang tulus, tidak ada hal sia-sia dari apa yang kami lakukan.

Konsep ketuhanan yang sesungguhnya konkret, namun belum bisa dipahami anak-anak karena kemampuan mengolah informasinya yang masih sederhana, perlu dikenalkan dengan cara yang sederhana, menyenangkan namun tetap mengena. Hal itu lah yang berusaha kami hadirkan dalam kehidupan anak-anak kami. Jika dijabarkan dalam poin, berikut hal-hal yang kami lakukan untuk memperkenalkan konsep ketuhanan kepada kakak dan adik:

Senantiasa Menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas

Meskipun secara kasat kita tidak bisa melihat Allah, namun kita bisa menghadirkan keberadaanNya dalam situasi sehari-hari. Saya sendiri enggak pernah menyediakan waktu khusus untuk menjelaskan tentang Allah. Namun, saya selalu mengaitkan aktivitas-aktivitas yang kami lakukan dengan Allah. Cara paling sederhana adalah dengan berdoa sebelum beraktivitas. Ketika mau makan, tidur, bepergian atau saat hujan adalah momen yang saya gunakan untuk mengenalkan Allah pada anak-anak saya melalui aktivitas berdoa.

Suatu hari kakak pernah bertanya, untuk apa kita berdoa. Saya jelaskan secara sederhana bahwa dengan berdoa, Allah akan membantu kegiatan kita, juga melindungi kita selama berkegiatan. Jadi, aktivitas kita akan lebih mudah. Dari situ kakak mendapat gambaran, bahwa ada sosok yang hadir dalam setiap aktivitasnya, yang membantunya dan senantiasa melindunginya.

Sebagian buku yang saya pergunakan untuk mengenalkan Allah dan rasulNya melalui story telling (bercerita)


Selain berdoa, saya juga mengenalkan Allah melalui cerita. Sekarang ini banyak banget buku-buku cerita anak dengan tema keagamaan. Silahlahkan disotir sendiri mana buku yang cocok untuk anak Anda. Karena temanya sensitif, saya lumayan selektif memilihkan buku tema ini untuk anak-anak saya. Biasanya saya memilih buku fabel dengan cerita yang sederhana. Namun, enggak menutup kemungkinan saya juga memilih buku dengan tokoh manusia. Hal yang saya perhatikan adalah kesesuaian antara isi cerita dengan usia anak-anak saya.


Menjadikan ritual agama sebagai aktivitas yang menggugah dan menyenangkan

Mau anaknya rajin sholat, tapi bapak ibunya disuruh sholat berat, enggak mungkin kan? Menjalankan ritual agama tidak hanya kelanjutan dari sikap percaya dan mengimani Tuhan, tetapi juga salah satu bentuk ekspresi cinta kita pada Tuhan. Sekarang, dimana letak cintanya kalau disuruh menghadap dan berdoa malas-malasan? Jadilah tauladan dengan menunjukan bahwa aktivitas ibadah itu menyenangkan. Sambut panggilan ibadah dengan penuh semangat, anak pun akan penasaran dan ingin mencicipi nikmatnya merasakan ibadah karena melihat orang tuanya.

Tauladan jauh lebih powerfull dan berdampak dibandingkan dengan nasihat-nasihat. Menampakan aktivitas ibadah kita pada anak bukanlah termasuk riya. Karena tujuannya adalah mendidik anak melalui contoh, bukan untuk pamer.

Menghadirkan sosok Allah sebagai pelindung dan Maha Penyayang

"Kalau nakal, nanti kamu masuk neraka,lho!" 

atau

"Allah benci anak-anak nakal."

Nah, lho... kenal saja belum, Tuhan sudah digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan dan siap menghukum siapa saja. Pola pikir anak tuh kan sederhana banget. Mereka akan menelan habis apa yang kita katakan. Dulu, ketika kecil, salah satu asisten rumah tangga yang bekerja pada ibu saya pernah menakut-nakuti saya. Ceritanya waktu itu saya bercanda sambil pakai mukena, lalu dia bilang kalau saya bermain dengan mukena, saya akan dihukum Allah hingga mukenanya enggak akan bisa dilepas dan menempel pada kulit saya. Pernyataan yang bodoh dan saya saat itu jauh lebih bodoh karena percaya dengan apa yang orang itu katakan. Setelahnya, saya malah jadi takut sholat, karena saya enggak mau pakai mukena. Enggak mau kan kejadian serupa terjadi sama anak Anda?

Sebaliknya, kini saya selalu berusaha menghadirkan Allah sebagai sosok yang penuh kasih sayang dan melindungi makhlukNya. Misalnya ketika anak-anak saya takut petir, saya ajak mereka berdoa agar Allah melindungi kami atau ketika mereka punya keinginan untuk memiliki sesuatu (buku atau mainan), saya dorong mereka untuk berdoa agar Allah memberi. Saya tanamkan pada anak-anak saya kalau Allah sayang sekali pada mereka. Misalnya dengan mengajak anak-anak saya menghitung nikmatNya. Saya katakan bahwa apa yang kakak dan adik miliki semua pemberian dari Allah bukan dari ummi atau abi.

Perkenalkan ritual agama sesuai dengan porsi usia

Saya dan suami baru intens mengenalkan hafalan quran pada kakak setahun terakhir ini. Meskipun sebelumnya, sudah sering kakak menyaksikan kami membaca quran. Kenapa baru sekarang? Sederhana, karena anaknya baru mau,hehe. Kami enggak ingin memaksakan sesuatu hingga anak merasa enggak nyaman. Kami khawatir, cara seperti itu justru membuat anak menjadi benci dan antipati.

Berikut ini salah satu video yang menginspirasi saya dalam mengenalkan hafalan quran pada kakak:


Sejauh ini si kakak justru tertarik untuk mulai menghafal quran dan sholat setelah melihat kami rutin melakukannya. Saya biasanya menggunakan momen-momen santai untuk mengenalkan satu ayat setiap harinya, misalnya di sela waktu bermain atau waktu sebelum tidur. Untuk sholat, saya sengaja membelikan kakak mukena kecil untuk ia gunakan sendiri. Terbukti, sejauh ini cara tersebut efektif membuat kakak semangat beribadah.

Mengajak kakak untuk belajar mengaji di masjid bersama teman-temannya agar lebih semangat

Lalu, bagaimana kalau anak menolak untuk sholat?

Untuk sementara, saya fokus memberi contoh dan mengajak. Karena kakak belum wajib sholat. Biasanya, saya tanyakan saja, kenapa kakak enggak mau sholat. Biasa dia akan jawab ngantuk atau masih mau main. Jika ia menjawab begitu, saya akan bilang nanti setelah kakak selesai, kakak sholat ya, kemudian saat dia selesai main, saya tawarkan kembali untuk sholat. Intinya, jangan bosan mengajak anak untuk beribadah, tapi juga jangan terlalu memaksa.

Berdoa, berdoa dan berdoa

Tiada yang menggenggam hati selain Allah sendiri. Sekeras apapun kita berusaha, hasil finalnya tetap di tangan Allah. Doakan senantiasa anak-anak kita agar lembut hatinya dan mudah disentuh dengan ilmu agama. Setelah itu, kita tinggal bertawakal deh... Insya Allah ikhtiar Moms sudah menjadi amal shalih. Ingat! Anak bukan tropi! Luruskan niat bahwa mengajarkan mereka dasar agama bukan sekadar ingin orang menganggap bahwa anak kita shalih/shaliha. Namun, jadikan ini sebagai bentuk ikhtiar untuk meneruskan tongkat estafet generasi rabanni yang menjunjung akhlak dan akidah yang lurus.

Mengenalkan konsep ketuhanan memang perlu sangat hati-hati. Karena yang kita "sentuh" bukan hanya tataran kognisi, tetapi masalah hati. Kunci utamanya adalah membangun cinta (pada Tuhan) dengan (penuh) cinta, maka tumbuhkan cinta tersebut secara perlahan namun pasti dengan suri tauladan yang baik. Niat dan ikhtiar yang tulus, Insya Allah akan membuahkan hasil yang manis.

Aamiin Ya rabb...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CARA MEMBUAT ECO ENZYME

Setelah berkomitmen untuk belajar gaya hidup hijau, keluarga kami mulai mengkonversi segala produk yang dapat merusak lingkungan, salah satunya adalah sabun. Setelah berhasil membuat sabun lerak, saya pun penasaran membuat jenis sabun lainnya. Kali ini sedikit lebih ekstrem, saya membuatnya dari sampah organik rumah tangga. Dari sampah bisa jadi bahan pembersih? Masa sih? Bisa saja. 
Baca juga: MENCUCI DENGAN SABUN LERAK

Dikembangkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, eco enzyme atau cairan organik dari olahan sampah organik rumah tangga bisa dibuat sebagai bahan pembersih. Apa itu eco enzyme? Eco enzyme adalah hasil olahan limbah dapur yang difermentasi dengan menggunakan gula. Limbah dapur dapat berupa ampas buah dan sayuran. Gula yang digunakan pun bisa gula apa saja, seperti gula tebu, aren, brown sugar,dll). Saya pribadi belum berani bikin dari ampas dapur yang aneh-aneh. Saya buat dari kulit buah jeruk dan apel. Agar hasil eco enzyme-nya wangi,hehe. Cara membuat eco enzyme? Eco enzy…

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…