Langsung ke konten utama

MENDIDIK ANAK PEREMPUAN TANGGUH



"Kak... ummi minta waktu sebentar ya... ummi mau kerja," ujar saya sambil menekuni laptop di depan saya.
"Kerja? Yang kerja kan abi. Emang ummi bisa kerja?" ujar si sulung polos.

Sebuah kalimat sederhana yang kemudian menampar saya. Selama ini saya berpikir bahwa menjadi ibu rumah tangga yang baik dan selalu ada bagi anak-anak sudahlah cukup. Menjadi pribadi yang baik sebagai ibu adalah contoh yang patut. Namun, ada ganjalan dalam diri, ketika anak perempuan saya beranggapan bahwa ibu enggak bisa bekerja selayaknya seorang ayah.

Memang kemuliaan seseorang enggak hanya dilihat apakah dirinya berpenghasilan uang atau enggak. Tapi, tetap saja... poinnya bukan pada menghasilkan uangnya, namun keberdayaan diri dan kemampuan untuk bisa berbuat sama seperti yang dilakukan oleh kaum adam.

Sebagai ibu, saya ingin anak-anak perempuan saya tumbuh menjadi pribadi mandiri, tangguh dan percaya diri. Namun, bagaimana caranya untuk mendidik anak perempuan tangguh?

KEISTIMEWAAN ANAK PEREMPUAN

Mengajarkan anak perempuan untuk tangguh dan berdaya enggak ada hubungannya dengan feminisme, lho. Karena pada dasarnya, kaum perempuan memang istimewa dan tangguh (narsis mode on). Akan tetapi, sayangnya lingkungan seringkali enggak mengakomodir perempuan untuk berkarya dan total dalam menggali potensinya.

Kita mungkin kerap mendengar pengalaman sebagian perempuan yang terpaksa mengubur mimpi bersekolah tinggi karena mengalah dari saudara laki-lakinya. Karena keterbatasan ekonomi, keluarga lebih memprioritaskan anak laki-laki untuk berpendidikan tinggi karena dianggap lebih berguna bagi hidupnya kelak. Sedangkan perempuan? Harus menelan label bahwa perannya hanya sebatas dapur, sumur dan kasur.

Dahulu, memiliki anak perempuan dianggap sebagai aib. Bahkan pada zaman jahiliyah, orang tua yang mendapat anak perempuan kerap mengubur anaknya hidup-hidup. Padahal memiliki anak perempuan justru memiliki keistimewaan tersendiri. Diantaranya dituangkan dalam sebuah hadist berikut:

مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ البَنَاتِ بِشَيْءٍ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

Siapa yang diuji dengan kehadiran anak perempuan, maka anak itu akan menjadi tameng baginya di neraka. (HR. Ahmad 24055, Bukhari 1418, Turmudzi 1915, dan yang lainnya).

See? Betapa dalam ajaran agama islam pun posisi perempuan sudah sangat istimewa bahkan sejak ia dilahirkan. Seorang anak perempuan bisa menjadi tameng bagi kedua orang tuanya dari api neraka. Sebetulnya masih banyak lagi hadist yang menunjukan keistimewaan memiliki anak perempun, tetapi enggak bisa saya kutip semua. Diantaranya bisa Anda temukan di sini.

Anak perempuan dengan sejuta keistimewaan, namun kerap kurang dukungan hingga mandeg potensinya.


Kalau tadi kita mengulik keistimewaan anak perempuan dari sisi agama. Sekarang kita coba melihat keistimewaan anak perempuan dari sifat dasarnya. Kebanyakan anak perempuan lebih cakap dalam motorik halus. Sehingga mereka lebih mudah dalam keterampilan yang detil seperti menulis dan prakarya. Kemampuan ini menjadikan anak perempuan lebih teliti dan mampu mengerjakan pekerjaan detil yang menuntut kesabaran.

Secara emosional, anak perempuan juga lebih peka, sehingga kemampuan empatiknya akan lebih mudah diolah. Makanya, sering ada yang bilang kalau anak perempuan akan lebih mengurus orang tuanya ketika dewasa. Meskipun menurut saya, ini enggak terbatas gender sih... kalau anaknya memang baik dan berbakti, pastilah mau membantu mengurus orang tuanya ketika tua.

Selain sisi emosi, kemampuan verbal anak perempuan juga lebih unggul dibanding anak laki-laki. Anak perempuan juga lebih mudah dalam kemampuan pengelolaan bahasa. Jadi, wajar saja kalau Anda akan menghadapi putri Anda yang lebih cerewet dan banyak bicara dibandingkan dengan anak laki-laki Anda. Di salah satu jurnal yang pernah saya baca, ternyata struktur otak perempuan dan laki-laki itu memang berbeda. Salah satunya adalah dari bagian otak yang mengolah bahasa. Pada otak perempuan, jaringan neuronnya lebih kompleks. Mungkin itu ya... yang menyebabkan perempuan itu lebih unggul dalam berbahasa.

Dari ketiga kemampuan unggul perempuan tersebut, terlihat kan bahwa potensi yang dimiliki anak perempuan itu besar sekali.
Namun sayangnya, kesempatan yang dimiliki anak perempuan untuk mengembangkan potensinya terkadang tidak seluas anak laki-laki. 

Berhubung lingkungan hanya menyediakan sedikit ruang untuk kesejahteraan anak perempuan, maka orang tua harus melakukan langkah lebih, serta lebih proaktif dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk perkembangan anak perempuan yang tangguh di kemudian hari (Ian dan Mary Grant, 2008). 

Artinya apa? Meski secara luas, lingkungan enggak memberikan ruang yang kondusif untuk mengoptimalkan potensi ketangguhan anak perempuan, kita sebagai orang tuanya, bisa lho menjadi tempat yang nyaman untuk mendidik seorang gadis menjadi mandiri, penuh ketangguhan dan percaya diri.


GADIS TANGGUH TUMBUH DALAM LINGKUNGAN YANG HANGAT DAN SUPORTIF

Lalu, bagaimana caranya menciptakan lingkungan kondusif untuk mendidik anak perempuan mandiri?

Sebulan terakhir ini, saya sedang menyelesaikan buku biografi salah satu perempuan yang menurut saya inspiratif, yaitu Michelle Obama. Menurut saya, enggak banyak ibu negara yang punya kharisma sendiri dan Michelle Obama adalah salah satunya. Harus diakui bahwa kebanyakan ibu negara lebih banyak berperan sebagai figur pendamping yang berada dalam bayang-bayang suaminya sebagai kepala negara.

Itu kenapa, saya tertarik banget waktu tahu biografi Michelle Obama sudah diterjemahakan dalam bahasa Indonesia. Salah satu hal yang menarik perhatian saya dari kisah hidup Michelle adalah kondisi keluarganya yang begitu memberi ruang untuk Michelle muda menggali dan mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Michelle pun tumbuh sebagai gadis yang telah ajeg keinginannya meski di usia yang sangat muda. Ia sudah punya gambaran ingin jadi apa di masa depan dan begitu percaya diri menapaki masa depannya. Padahal sebagai warga kulit hitam Amerika kala itu (ditambah ia seorang perempuan), kesempatan yang disediakan lingkungan bagi Michelle tidaklah banyak. Namun, ia bisa lulus dari Princeton, masuk sekolah hukum Harvard dan bekerja di sebuah firma hukum terkenal. Bagaimana ia bisa mencapai itu semua?

Michelle Obama, salah satu peremuan inspiratif yang menjadi bukti bahwa tumbuh di keluarga suportif dan hangat membantu melejitkan potensinya sebagai perempuan



Kuncinya ada di orang tua, terutama ibu. Saya menilai ibunda Michelle Obama itu orang yang hebat. Ia selalu memberi ruang yang disebut oleh Michelle sebagai kebebasan terbatas. Ia tahu benar apa yang dilakukan putrinya, tapi ia enggak pernah menunjukan kontrol terhadap kehidupan Michelle muda. Ia selalu menjadi orang balik layar yang mensuport penuh sekaligus mengarahkan minat dan bakat putrinya.

Ditambah lagi, Michelle Obama lahir dan besar di keluarga yang hangat dan guyub. Keluarganya amat lekat satu sama lain. Bahkan ia dan kakak lelakinya juga sangat dekat. Hal ini diamini oleh Ian dan Mary Grant dalam bukunya "Raising Confident Girl", untuk mendidik dan membesarkan anak perempuan mandiri dan percaya diri dibutuhkan lingkungan dan orang-orang yang mendukung, diantaranya:

  1. Berada di antara lingkungan keluarga yang mengapresiasi dirinya. Seorang gadis akan merasa aman dan nyaman serta merasa dicintai, saat ia berada di lingkungan keluarga yang memberinya apresiasi secara proporsional. Mengapa proporsional? Karena apresiasi berlebihan pun enggak baik. Anak justru enggak bisa menilai potensinya secara objektif. Namun, kering apresiasi juga bisa berdampak negatif. Karena anak akan merasa kurang percaya diri dan enggak dicintai.
  2. Menjadi bagian dari keluarga yang hangat dan penuh cinta. Memang bukan sebuah keniscayaan, ketika seorang anak datang dari keluarga brokenhome, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang rapuh. Namun, sebuah penelitian memang menunjukan anak yang datang dari keluarga yang kurang bahagia akan rentan untuk enggak merasa bahagia. Maka, ciptakan lingkungan yang penuh kehangatan dan cinta agar dapat menjadikan anak perempuan kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih bahagia. Jika bahagia, maka ia dapat lebih fokus mengembangkan potensinya tanpa adanya ganjalan emosional yang menghambat langkahnya.
  3. Orang tua yang memiliki visi yang jelas terkait masa depan anak-anak perempuan mereka. Menurut saya ini adalah poin terpenting dalam mendidik anak perempuan yang tangguh. Saat kita dikaruniai anak, sebagai orang tua kita dititipkan untuk mempersiapkan masa depan anak tersebut dunia dan akhirat. Maka, punya anak enggak sekadar dilahirkan lalu diberi makan, pakaian dan hal materil lainnya. Namun, ada hal lain yang juga penting, yaitu visi kita terhadap anak tersebut. Visi enggak sama dengan keinginan pribadi ya Mom. Memiliki visi masa depan anak bukan berarti memaksa anak jadi dokter atau insinyur atau pengusaha sukses saat dewasa. Visi yang dimaksud adalah karakteristik apa yang ingin kita harapkan dari anak kelak, misalnya menjadi pribadi yang sholeh/sholeha, pemimpin yang bisa diandalkan atau menusia yang penuh cinta pada sesama makhluk.
  4. Suasana rumah yang penuh kehangatan dan menyenangkan, namun sekaligus menerapkan rutinitas yang disiplin dan terprediksi. Ini yang sedang saya coba terapkan pada anak-anak saya. Kebanyakan dari kita akan menerapkan kedua hal ini pada kutub yang ekstrem. Sebagai contoh, saya menilai diri saya sebagai ibu yang cukup disiplin. Anak-anak memiliki jadwal yang lumayan tertata dan tepat waktu. Namun, yang perlu saya perkaya adalah menghidupkan suasana menyenangkan dalam keseharian anak-anak saya. Bukan berarti di rumah saya bak sekolah militer sih... tapi mungkin untuk hal-hal yang tidak terlalu krusial, bolehlah sedikit melunak. Di sisi lain, ada juga orang tua yang justru seperti enggak punya pegangan, go with the flow saja. Orang tua seperti ini juga akan kesulitan nantinya untuk menerapkan disiplin pada anak-anaknya. Intinya mah... berada di tengah-tengah, jangan terlalu berlebihan. Sehingga anak enggak merasa terkekang, namun tetap bisa memiliki kontrol diri yang baik.
  5. Sosok orang tua panutan. Mendengar poin ini kok rasanya horor banget ya... saya harus jadi orang tua yang sekeren apa agar bisa jadi panutan bagi anak-anak saya? Kalau pendapat saya pribadi sih... jadilah versi terbaik dari diri kita. Insya Allah itu cukup. Terus berusaha belajar dan memperbaiki diri. Tapi... sesuaikan juga espektasi kita pada anak-anak ya Moms. Jangan meletakan mimpi pribadi pada masa depan anak. Pingin anak hafal satu quran, tapi ibunya hafalan 30 juz enggak khatam-khatam, lah piye? Yang baik adalah sambil meletakan espektasi, kita pun semakin melecut diri untuk menjadi yang terbaik.
  6. Orang tua yang selalu memberikan dorongan moril dalam setiap situasi. Anak tidak selalu menunjukan performa seperti yang diharapkan. Saat menghadapi kondisi demikian, bukan hanya kita, sebagai orang tua, yang kecewa, tetapi juga si anak sebagai orang yang mengalaminya. Sadari hal tersebut dan jangan egois hanya memikirkan perasaan Anda. Saat dalam kondisi yang down, anak butuh dikuatkan bukan dilemahkan dengan disalahkan.
Membangun hubungan keluarga yang "Sersan" alias serius santai dapat membantu membentuk pribadi anak perempuan yang tangguh dan percaya diri.


Memastikan lingkungan yang aman dan nyaman bagi perkembangan potensi dan kepercayaan diri si gadis kecil adalah poin penting dalam mendidik anak perempuan tangguh. Menjadikan anak-anak perempuan kita tangguh merupakan salah satu bekal penting untuk masa depan mereka. Karena enggak ada satu pun yang tahu sampai berapa lama kita, sebagai orang tua, bisa mendampingi mereka. Jadikan mereka tangguh agar berdaya dan mampu menaklukan tantangan-tantangan dalam kehidupan mereka kelak.

Komentar

  1. Sy setuju jika Michelle Obama termasuk wanita luar biasa. Itu memang tidak lepas dari didikan orang tuanya. Qadarallah anak2 sy cowok semua tapi tetap harus bisa memberikan banyak ruang bagi mereka..PR nih membantu anak2 mandiri sejak dini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak muyas... tugas orang tua salah satunya adalah membuka kesempatan bagi anak2nya untuk mempersiapkan masa depannya, termasuk memiliki kemandirian

      Hapus
  2. Terimakasih ilmunya mbaa, ini ilmu yang bisa diterapkan untuk para orang tua yang memiliki anak, terutama perempuan. Btw, bacaannya bagus mbak, aku punya bukunya tapi belum sempat baca bukunya Michelle Obama hihi, habis ini aku bakalan bacaa.

    BalasHapus
  3. Michelle Obawa kereeennn!
    Aku sepakat dgn postingan ini, Mba
    Perempuan memang harus berdaya, dan itu bisa dikondisikan dgn pola parenting yg OK

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak... karena kenyataannya kesempatan yang dimiliki perempuan enggak sebanyak laki-laki. Itu kenapa orang tua juga perlu persiapan yang lebih agar anak perempuan bisa turut berkompetisi kelak di masa depan

      Hapus
  4. Perempuan sosok yang tangguh dan selalu menginspirasi kehidupan ini. Dan darinyalah pula lahir kehidupan indah, dan menjadi madrasatul ula.💕

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setujuu... itu kenapa secara pribadi, perempuan harus memiliki mental yang tangguh dan mandiri. :)

      Hapus
  5. Pada hakikatnya lelaki dan perempuan memang berbeda tetapi untuk segi ke ilmuan dan karir sudah bisa disamakan. Aku bangga melihat banyak wanita tangguh di dunia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak... alhandulillah sekarang kesempatan untuk perempuan sudah lebih banyak dibanding generasi terdahulu

      Hapus
  6. Perempuan memang suka lebih rentan. Suka dianggap lebih lemah dan lain sebagainya. Saya setuju dengan tulisan ini. Mendidik perempuan menjadi tangguh harus dimulai dari keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Karena dari lingkungan keluarga anak memulai mengenal dunia dan lingkungannya

      Hapus
  7. Saya enggak punya anak perempuan, mbak. Dua laki-laki semua. Tapi artikel ini menarik sekali. Oh ya sharing saja, saya 6 bersaudara perempuan semua(saya bungsu), Bapak saya guru, Ibu IRT-lulus SMP. Ibu enggak mau putrinya seperti Beliau, tidak berpendidikan tinggi. Maka kami berenam didukung harus sekolah sampai tinggi. Juga dukungan untuk memilih pasangan sendiri, dll. Alhamdulillah kami 5 orang sarjana, 1 sampai S2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... memang peran ibu krusial banget ya mbak... bukan tentang tingkat pendidikan si ibu, tapi bagaimana ibu memiliki mental kuat dan tangguh yang menjadikan anak2nya pun demikian.... :D

      Hapus
  8. Iya ya mbak, orang tua memiliki peran sentral dalam pembentukan karakter anak, terutama ibu.
    Semoga bisa jadi ibu teladan buat anak-anak ya mbak.

    BalasHapus
  9. Baca ini, saya jadi sedih. Masih banyak nih, bolong-bolong pengasuhan saya. Bukan karena anak saya laki-laki semua, tapi memang karena keterbatasan yang ada. Tapi saya juga tak mau berandai, andai sejahtera seperti keluarga Michelle Obama, misalnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau menilik biografinya Michelle Obama, sebetulnya Michelle bukan dari keluarga sejahtera bun... justru ia besar di keluarga menengah ke bawah. Namun, kondisi keluarganya memang kondusif karena kedua orang tuanya sangat support dan harmonis

      Hapus
  10. Setuju banget mba.. Saya pun berpikir bahwa seorang perempuan itu haruslah berpendidikan tinggi karena nantinya akan jadi seorang ibu yang harus bisa mendidik anak2nya. Anak laki2 pun dilahirkan oleh perempuan kan. Makanya ilmu itu penting banget bagi seorang perempuan. Btw, Khadijah, istrinya rasul juga seorang perempuan yang hebat. Meski perempuan tapi bisa menjadi manager bisnis yang sangat besar.

    BalasHapus
  11. Mendidik seorang anak Perempuan berarti mendidik satu generasi

    Salah mendidik anak Perempuan akan rusak satu generasi

    BalasHapus
  12. Nggak punya anak perempuan, tapi kadang saya mikir, kayaknya memang mendidik anak perempuan itu jauh lebih sulit ketimbang anak laki-laki.

    meskipun mendidik anak lelaki juga nggak kalau sulit sih hahaha

    Maksudnya, saya jadi melihat ke sekeliling saya, bergabung dengan grup yang isinya kebanyakan ibu-ibu.

    Dan saya rasa, banyak banget wanita zaman sekarang yang depresi karena merasa terbebani menjadi seorang ibu.

    Saya juga jadi berkaca pada film Kim Ji-Young, di mana dia depresi sendiri, padahal ya nggak ada yang menindaki dia dengan sengaja.

    Semua itu karena sikon, sikonlah yang mengharuskan dia jadi IRT.
    Karena didikan emansipasi wanita zaman sekarang, kadang lupa juga dijelasin tentang kodrat seorang perempuan, yang mana menjadi ibu dan istri :)

    BalasHapus
  13. Menciptakan kehangatan dalam keluarga, ini poin yang sangat saya usahakan saat ini. Tumbuh di dalam keluarga broken home, saya merasakan betul ini sangat mempengaruhi rasa percaya diri sebagai anak. Makanya, saya ingin anak-anak merasakan suasana rumah yang berbeda. Memang betul, saat suasana rumah hangat, orangtua mendukung, anak-anak akan lebih mudah menunjukkan prestasinya baik dari sisi akademis maupun karakter.

    Harapan besar saya, anak-anak tumbuh menjadi pribadi shalih/shalihah yang mandiri di masa depan.

    BalasHapus
  14. Masih suka ditemui ka diamana anak perempuan seakan di nomor sekian kan di banding anak laki2
    Padahal di era modern seperti sekarang kaum perempuan bahkan tak kalah berdaya dengan potensinya

    BalasHapus
  15. Anak perempuan nemang miliki banyak keistemewaan ya Mbak baik dalam agama maupun dalam lingkup kesehariannya. Dan mereka hanya perlu dukungan dan lingkungan yang kondusif agar bisa tumbuh jadi perempuan tangguh dan mandiri, seperti yang Mbak paparkan di atas. Btw saya jadi tertarik dengan buku tentang Michelle Obama.

    BalasHapus
  16. Aku suka banget bagian ini:

    "... tumbuh di keluarga suportif dan hangat membantu melejitkan potensi sebagai perempuan!"

    Yes, yes, yes!

    Keluarga adalah dasar dari semua pendidikan anak ya, barulah diikuti faktor pendukung lainnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

CARA MEMBUAT ECO ENZYME

Setelah berkomitmen untuk belajar gaya hidup hijau, keluarga kami mulai mengkonversi segala produk yang dapat merusak lingkungan, salah satunya adalah sabun. Setelah berhasil membuat sabun lerak, saya pun penasaran membuat jenis sabun lainnya. Kali ini sedikit lebih ekstrem, saya membuatnya dari sampah organik rumah tangga. Dari sampah bisa jadi bahan pembersih? Masa sih? Bisa saja. 
Baca juga: MENCUCI DENGAN SABUN LERAK

Dikembangkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, eco enzyme atau cairan organik dari olahan sampah organik rumah tangga bisa dibuat sebagai bahan pembersih. Apa itu eco enzyme? Eco enzyme adalah hasil olahan limbah dapur yang difermentasi dengan menggunakan gula. Limbah dapur dapat berupa ampas buah dan sayuran. Gula yang digunakan pun bisa gula apa saja, seperti gula tebu, aren, brown sugar,dll). Saya pribadi belum berani bikin dari ampas dapur yang aneh-aneh. Saya buat dari kulit buah jeruk dan apel. Agar hasil eco enzyme-nya wangi,hehe. Cara membuat eco enzyme? Eco enzy…

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…