Langsung ke konten utama

KONMARI DAN TENTANG HIDUP MERASA CUKUP


Saya enggak ingat kapan pertama kali mengenal metode KonMari. Kalau enggak salah, awalnya saya temukan dari video youtube. Sejak awal tahu KonMari, saya tuh sudah tertarik dengan konsep ini. Bukan apa-apa, sejak dulu saya agak bermasalah dengan kerapian.

Akhirnya, saya pun mencari referensi tentang metode KonMari ini. Refensi pertama saya dapatkan dari sumbernya langsung (enggak langsung-langsung banget sih), buku The Life-Changing Magic of Tiding karya Marie Kondo. Tapi selesai baca buku ini, saya malah merasa pingin mundur teratur.

Waktu itu saya masih tinggal di rumah orang tua dan saya akui, kami memang kurang bijak dalam membeli barang sejak dulu. Itu kenapa rumah kami penuh dengan barang, yang sebagian besar mungkin enggak kami pakai. Saya bahkan pernah menemukan baju dengan label harga masih tergantung di lehernya teronggok enggak terpakai di lemari.

Sedih saya tuh... tapi merasa enggak bisa berbuat apa-apa karena merasa semuanya sudah terlanjur. Beberes pun ujung-ujungnya tetap menyisakan banyak barang. Akhirnya, siklus pun berulang. Begitu terus sampai Gun 'n Roses bikin album religi, heuheu.

TITIK BALIK ITU BERNAMA "PINDAHAN"


Sampai akhirnya, qadarallah Allah berikan rezeki kami rumah pribadi. Rumah mungil di pinggiran Jakarta yang masih kosong melompong. Ya iya lah... seumur-umur nikah kami tinggal di pondok mertua indah yang semuanya tersedia, jadi kami belum pernah beli perabot sendiri.

Kami seperti memulai hidup dari nol lagi. Kami pindah hanya dengan satu koper besar, satu koper kecil dan satu tas tenteng. Di rumah mungil itu baru tersedia satu tempat tidur dan satu lemari untuk masing-masing kamar. Pelan-pelan kami pun mulai mencicil beli barang. Beberapa perabot kami dapatkan dari hasil hibah orang tua dan mertua.

CERITA LAMA YANG TERULANG KEMBALI


Seiring dengan waktu kami tinggal di rumah pribadi, ternyata tanda-tanda mengulang kebiasaan lama mulai tampak. Barang mulai menumpuk. Beberapa barang kami jejer di dekat jemuran karena enggak ada tempat penyimpanan.

Padahal sejak punya rumah sendiri, kami cukup berhati-hati dalam membeli barang. Mau beli satu buah lemari saja bisa kami pikirkan berminggu-minggu, apakah kami benar-benar membutuhkannya. Lalu, apa yang membuat rumah kami tetap penuh dengan barang?

KEHIDUPAN BERGANTI TAPI MINDSET TETAP SAMA


Itulah yang terjadi pada kami. Iya sih... kami memulai hidup baru di tempat yang baru, tapi ternyata pola pikir kami sama sekali enggak berubah! Sebagai contoh, kebiasaan kami membeli pakaian. Sejak menikah, kami memang berkomitmen untuk hanya membeli pakaian setahun sekali. Maksud hati agar pakaian enggak menumpuk di lemari. Lah? Lalu, apa yang salah?

Kesalahannya terletak pada pola konsumsi kami. Buat apa beli pakaian setahun sekali, kalau pakaian yang ada masih bisa digunakan? Hal ini juga berlaku untuk barang-barang lain, semisal mainan anak dan buku. Alih-alih membaca buku digital atau menjadi anggota perpustakaan, saya lebih senang membeli buku. Padahal rak yang ada di rumah hanya segitu-gitunya. Akhirnya buku yang enggak tertampung di lemari, saya letakan begitu saja di atas meja kerja. Terbayang jika saya membeli satu buku setiap bulannya, akan setinggi apa tumpukan tersebut.

Pola hidup konsumtif memang sudah jadi gaya hidup di Indonesia terutama di perkotaan. Menurut survey McKinsey Global Institute, tahun ini ada sekitar 45 juta masyarakat Indonesia yang konsumtif dan jumlahnya akan meningkat di tahun 2030 menjadi sekitar 135 juta orang. Saya rasa, saya termasuk ke dalam 45 juta orang tersebut. Itu kenapa saya sulit berhasil dalam mewujudkan mimpi punya rumah tertata rapi, hehe.

SAATNYA BERUBAH! (JENG! JENG!)


Menurut saya, jauh sebelum kita berpikir untuk menerapkan metode KonMari, seharusnya ada hal lain yang perlu kita terapkan, yaitu pola pikir merasa cukup. Kalau dalam islam, kita mengenal istilah Qonaah. Masalahnya, manusia dengan hawa nafsu segede gaban pasti susah untuk merasa cukup.

Keinginan kita pasti meningkat seiring peningkatan penghasilan. Gaji naik, gaya hidup pun ikut naik. Apalagi dengan menjamurnya media sosial, suka enggak suka budaya pamer jadi hal yang lumrah dan pamer itu kan butuh biaya.

Namun, belakangan saya menemukan tren hidup minimalism cukup menjamur di dunia, enggak terkecuali di Indonesia. Langkah yang bagus banget menurut saya, meski kalau dalam akal sehat saya sih, enggak bisa diterapkan secara ekstrem di Indonesia, macam yang diterapkan oleh Fumio Sasaki.



Bagaimana bisa punya peralatan makan secukupnya, sedangkan di Indonesia budaya bertamu ke rumah sangat kental. Pas saya cerita ke suami tentang Fumio Sasaki, paksu dengan enteng bertanya, "Terus, kalau ada tamu disuguhinnya pakai apa? Daun pisang?". Setelah dipikir-pikir masuk akal banget pertanyaan paksu ini. Saya yang kategorinya enggak terlalu sering dikunjungi tamu saja, sesekali pasti kedatangan tamu. Tamunya juga enggak satu dua orang, kalau tetangga yang datang malah jadi terasa ada hajatan.

Lalu, bagaimana dong solusinya?


Inti dari punya rumah yang rapi dan teratur menurut saya tuh... jangan punya banyak barang. Semakin banyak barang, semakin besar usaha yang harus dikeluarkan untuk beberes. Tapi... kalau saya sih yang wajar-wajar saja. Enggak mungkin juga punya rumah kosong melompong kayak rumahnya Fumio Sasaki. Akhirnya, untuk menyiasati barang yang mulai menumpuk di rumah, kami melakukan beberapa langkah.

Beberes secara reguler

Buat keluarga berbalita seperti keluarga kami, kayaknya beberes secara reguler memang sebuah keniscayaan deh. Misalnya untuk urusan baju, anak-anak yang pesat perkembangannya secara reguler mau enggak mau harus dibelikan baju baru. Masa mau dipakaikan baju kesempitan. Namun, beberapa pakaian yang masih bisa dipakai, biasanya kami  "turunkan" ke adik, sejauh masih layak pakai. Sedang sisanya, kalau masih layak pakai kami sumbangkan, kalau enggak, berarti turun kasta jadi gombal alias lap kotor.


Ditambah lagi, kondisi rumah dengan anak-anak balita tentu sulit untuk tampak rapi dan lapang. Saya pribadi juga enggak mau sedikit-sedikit melarang anak demi menikmati rumah yang rapi. Bagi saya, anak-anak masih sangat butuh bermain. Jadi, wajar saja kalau rumah enggak bisa dalam kondisi rapi. Akan tetapi, paling enggak, kami berusaha untuk menanamkan rasa tanggung jawab dengan merapikan mainan setelah digunakan. Lalu, dalam bermain, saya biasanya meminta anak-anak untuk mengambil mainan secukupnya sesuai dengan yang mereka butuhkan saat itu, sedangkan sisanya disimpan.

Membeli barang multipurpose

Beberapa kebutuhan kita, sebetulnya bisa dipenuhi dengan satu barang alias barang multipurpose. Saya membeli sabun yang bisa sekaligus digunakan untuk bershampo. Lalu, daripada membeli berbagai wadah, saya cukup punya satu wadah yang bisa digunakan mulai dari makan, menempatkan makan sampai mencetak makanan. Ditambah, daripada saya punya gelas bertumpuk-tumpuk, lebih baik kami minum dari wadah botol yang kami miliki masing-masing.

Itu untuk urusan dapur, sedangkan untuk pakaian, saya juga lebih suka membeli pakaian yang bisa saya gunakan untuk acara apapun.  Misalnya gamis semi resmi yang bisa saya padukan dengan bergo santai untuk sekadar antar anak ngaji yang sekaligus bisa saya padukan dengan khimar yang agak nge-blink saat mau ke undangan, kenapa enggak?

Membeli barang ketika benar-benar membutuhkannya

Ini adalah bagian dari bijak mengkonsumsi barang menurut saya. Mulai dari beli makanan, saya biasa menghitung jumlah orang yang ada di rumah. Bukan karena pelit, tapi saya hanya ingin memastikan enggak ada makanan yang terbuang. Untuk beli pakaian pun, yang sebelumnya setahun sekali, saya ubah kebiasaannya menjadi kalau ada yang rusak (dengan catatan sudah benar-benar enggak bisa diperbaiki). Jumlahnya pun enggak melebihi jumlah baju yang saya "keluarkan" dari rumah. Prinsipnya lebih sedikit atau sama banyak.

Baca juga: Bijak Belanja Online

Menyeleksi barang pemberian

Bagian ini memang agak sulit untuk kami. Bagaimana menyiasati barang pemberian. Enggak mungkin juga kan orang memberi sesuatu lalu kita tolak. Nanti yang ada, si pemberi malah tersinggung. Lalu, bagaimana menyiasatinya?

Kalau pemberiannya makanan dan cukup banyak, biasanya akan kami bagi-bagi kembali. Kalau pemberiannya berupa barang, seandainya barang tersebut dapat kami gunakan, akan kami  pertahankan dengan catatan harus digunakan dalam waktu 6 bulan ke depan. Kalau dalam rentang waktu tersebut enggak kami gunakan, berarti harus kami hibahkan ke orang lain.


Membangun mindset hidup sederhana

Ini poin yang paling penting menurut saya. Segala kegiatan beres-beres, mau pakai metode tercanggih pun akan sia-sia selama kita enggak memiliki sifat qonaah atau merasa cukup. Mau rajin decluttering kalau masih rajin bebelian, ya... sama saja.

Jadi ingat sebuah hadist. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ … عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا أَنْفَقَهُ

Tidak bergeser kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ia ditanya tentang empat hal … tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan.” (HR. Tirmidzi no.2417, di-shahih-kan al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 3592).

Semakin banyak harta benda yang kita miliki, maka akan semakin besar pertanggung jawabannya. Memiliki banyak barang nyatanya enggak menjamin punya perasaan tenang, terkadang justru malah sebaliknya. Ketika merasa, kok rumah ruwet dan berantakan banget setiap hari, mungkin kita harus berkaca, jangan-jangan ini bukan sekadar berantakan biasa, tetapi ada yang salah dengan cara kita membeli dan memiliki barang. Tinggal kita bertanya deh pada diri sendiri, sudahkah kita merasa cukup?


Komentar

  1. Iya ya kadang gak sadar apa yang dilihat menarik pasti dibeli gak terasa barang menumpuk sedangkan sebenarnya itu gak terlalu dibutuhkan

    BalasHapus
  2. Bersyukur apa yg sudah kita miliki, karena dengan kita bersyukur hidup lebih tenang.
    Banyak harta banyak pula pertanggungjawaban kita pada sang pencipta.

    BalasHapus
  3. Saya jadi penasaran dengan konmari ini. Beberapa kali baca review nya, sepertinya menarik.

    BalasHapus
  4. Bagus banget nih step by step nya karena manusia tak akan pernah merasa cukup
    Kalo peralatan rumah tangga seperti piring dan gelas, saya ngumpulin dari hadiah :D

    BalasHapus
  5. Komen khusus dari saya yang penulis buku: tetap alokasikan dana untuk membeli buku cetak ori. Itu berarti banyak loh bagi penulis dan industri perbukuan.

    Biar nggak numpuk di rumah, setelah dibaca bisa disumbangkan atau dijual second 😊

    Aku sendiri paling nggak setahun sekali ngejual buku-buku koleksi pribadi. Susah sih nyeleksinya. Tapi balik ke konsep Konmari dan konsep Islam 😊

    BalasHapus
  6. Hm...ceritaku berulang kembali jua, beli itu ini sampai numpuk dimana-mana. Tahun ini aku pengin rapi-rapi dan Januari kemarin lumayan, sudah bisa nyortir dan menahan keinginan beli-beli, semoga ke depan bisa menerapkan hidup yang lebih minimalis dan praktis. Maklum rumah mungil kalau barangnya banyak susah bernapasnya haha

    BalasHapus
  7. Suka deh dengan metode konmari ini. Kepengen bisa menerapkan juga. Untuk pemikiran tentang hidup yang selalu merasa cukup, aku juga sedang menerapkannya. Alhamdulillah, walopun selalu saja ada halangan, ini bikin tenang. Sangat jarang jadinya bikin stres.

    BalasHapus
  8. Masih mensing Mbak kalo pinya rumaj sendiri, bebelian barang gak rept gotong gotong pindahan. Lha aku yang masih mengontrak dulu, barang ampek penuuuh, pas pindahan repot, kudu angkut pake truk.

    BalasHapus
  9. Metode yang menarik ya mba, pas banget lagi pengen bebersih barang-barang yang sudah jarang dipakai mau dipilah-pilah lagi yang masih kondisi bagus aku mau kasih ke tetangga di rumah kakekku dan yang udah rusak harus dibuang. Harus banget nih nerapin gaya hidup sederhana dalam artian gak nimbun banyak barang.

    BalasHapus
  10. Iya nih aku bahkan udah melakukan bahwa ketika membeli satu baju, tiga baju harus diberikan pada yang membutuhkan. Tapi untuk barang pemberian orang, yang sulit diberikan orang. Takutnya ntar pas ke rumah, ditanya atau diulik mana barang oleh-nya yang pernah dikasih, hihihi

    BalasHapus
  11. Huhuhu ini juga yang mulai aku lakukan...beberes secara berkala biar barang-barang yang memang nggak penting-penting banget bisa dihibahkan ke yang butuh biar rumah jadi lega..tapi kalau hibah buku emang belum rela sih

    BalasHapus
  12. Nah, aku juga termasuk yang kena pengaruh Konmari. Tapi masih sedikit demi sedikit sih. Belum bisa melepas banyak barang tapi mulai ngurangin beli barang yang ga perlu. Ternyata cukup menantang juga awalnya

    BalasHapus
  13. Saya senang rasanya, di zaman sekarang, bukan hanya hal-hal aneh yang berkembang, tapi hal-hal positif juga menjadi gaya hidup macam gaya hidup minumalis.
    Kalau saya memang nggak suka punya barang banyak Mba, soalnya selalu beresin rumah sendiri, saya kalau liat rumah yang megah itu, dengan barang seabrek, bawaannya mikir, itu gimana bersihinnya? hahaha.
    Pun juga menumpuk barang banyak, mengundang banyak hewan :(

    BalasHapus
  14. Mksh ilmunya,bermanfaat sekali, terutama untuk saya yg masih suka bebelian yg sebenernya gak begitu perlu

    BalasHapus
  15. wah setuju banget dengan beberes rumah secara berkala, biasa kita cuma rapi kalo ada tamu atau acara.. padahal sebaiknya untuk rapihkan rumah seminggu sekali secara menyeluruh lebih enak agar lebih bersih dan sehat :D

    BalasHapus
  16. Aku juga lagi ngumpulin ilmu tentang minimalism belakangan ini karena tertarik dengan manfaat dari pengalaman orang lain yang menjalani gaya hidup ini.

    Kebetulan aku masih tinggal di PIM, di mana kondisi rumah ini udah ditempati keluarga ipar sebelumnya dan menyisakan banyak barang di rumah ^^; aku sendiri emang nggak suka barang numpuk, karena selain soal keindahan, secara nggak langsung jadi "beban" buatku pribadi karena menyimpan barang-barang yang nggak berguna hahaha

    Aku dan suami ingin perlahan menerapkan minimalism ini dalam keluarga kami sendiri. Hidup minimalis dengan orang lain (dalam hal ini orangtua) emang tantangan banget sih. Cuma kalo menurut buku yang aku baca (The Minimalist Guide by Leo Babauta, aku rekomen baca buku ini Mba :D), kita lakukan di area yang bisa kita kuasai saja, jadi nggak usah musingin orang lain. Syukur-syukur apa yang kita terapkan malah bisa menginspirasi orang lain yaa.

    Btw, samaan banget Mbaa soal baju-baju anak yang udah nggak kepakai turun kasta jadi kain lap. Handuk belel jadi keset atau lap lantai 🤣🤣

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

CARA MEMBUAT ECO ENZYME

Setelah berkomitmen untuk belajar gaya hidup hijau, keluarga kami mulai mengkonversi segala produk yang dapat merusak lingkungan, salah satunya adalah sabun. Setelah berhasil membuat sabun lerak, saya pun penasaran membuat jenis sabun lainnya. Kali ini sedikit lebih ekstrem, saya membuatnya dari sampah organik rumah tangga. Dari sampah bisa jadi bahan pembersih? Masa sih? Bisa saja. 
Baca juga: MENCUCI DENGAN SABUN LERAK

Dikembangkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, eco enzyme atau cairan organik dari olahan sampah organik rumah tangga bisa dibuat sebagai bahan pembersih. Apa itu eco enzyme? Eco enzyme adalah hasil olahan limbah dapur yang difermentasi dengan menggunakan gula. Limbah dapur dapat berupa ampas buah dan sayuran. Gula yang digunakan pun bisa gula apa saja, seperti gula tebu, aren, brown sugar,dll). Saya pribadi belum berani bikin dari ampas dapur yang aneh-aneh. Saya buat dari kulit buah jeruk dan apel. Agar hasil eco enzyme-nya wangi,hehe. Cara membuat eco enzyme? Eco enzy…

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…