Langsung ke konten utama

MEMBUAT KONFLIK ANANDA MENJADI KONSTRUKTIF


Pusing enggak sih melihat anak berantem melulu? Rebutan mainan, perang mulut buat nentuin siapa yang berperan jadi apa bahkan berantem cuma karena rebutan pingin duduk dimana? Pertengkaran diantara buah hati memang kerap terjadi. Untuk Moms yang punya anak lebih dari satu, pasti paham banget deh gimana hal-hal kecil bisa memicu pertengkaran antar mereka.

Kalau melihat anak-anak bertengkar rasanya kita ingin langsung turun tangan, iya enggak? Selain pusing karena mendengar keributan, dalam hati kecil Anda mungkin terbersit ketakutan bahwa konflik antara anak-anak Moms akan bertahan hingga mereka dewasa. 

Sudah deh... main sendiri-sendiri saja. Dari pada main sama-sama ujungnya berantem.

Kalimat tersebut sering jadi kalimat pamungkas bagi saya untuk membuat anak-anak berhenti berantem.

Enggak Semua Konflik Itu Buruk


Meski ada batasnya, berantem di antara saudara itu enggak selalu negatif. Terkadang, anak perlu belajar untuk keluar dari comfort zone, yaitu saat keinginannya enggak bisa terpenuhi karena ada keinginan atau kepentingan orang lain.

Saat anak berkonflik dengan teman, kemungkinan anak enggak akan lepas mengeluarkan apa yang dia rasakan karena merasa ia berhadapan dengan orang yang belum tentu sepadan. Sedangkan saat anak berantem dengan saudara/saudarinya, anak biasanya justru bisa lebih natural mengeluarkan emosinya.

Berantem antar saudara juga bagai miniatur konflik yang akan mereka hadapi di dunia luar, namun dengan kadar yang lebih ringan, karena yang dihadapi adalah saudara sendiri. Ini bisa jadi sarana untuk anak belajar mengatasi konflik dengan orang lain. Itu kenapa, saat anak-anak berantem, orang tua enggak selalu harus turun tangan melerai. Ada kalanya orang tua perlu memberi ruang buat anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Meski begitu, orang tua tetap perlu mengamati di luar lingkaran.

Kapan orang tua harus turun tangan ketika anak berantem?


Tentu saja ketika pertengkaran sudah mulai menunjukan tanda-tanda destruktif. Ketika anak melakukan kontak fisik dengan saling mendorong, Anda mungkin perlu mulai mengingatkan mereka untuk berhenti berantem. Apalagi ketika sudah mulai ada kekerasan seperti memukul, mencubit dan sebagainya, Anda harus segera turun tangan melerai.

Ketika pertengkaran mulai menunjukan tanda munculnya kekerasan verbal, seperti saling mencela dengan kata-kata kasar atau sudah melibatkan teriakan yang enggak terkendali, Anda pun harus segera turun tangan untuk melerai.

Anak perlu diajarkan untuk mengelola emosinya sejak dini. Salah satunya adalah dengan tidak melakukan kekerasan saat marah (sumber gambar: paxel.com)

Lalu, bagaimana kalau pertengkaran anak sudah berlanjut menjadi perkelahian?


Tetap tenang


Saat anak mulai berkelahi, terbayang suasana akan sangat gaduh dan ricuh. Tone suara meninggi dan tak jarang salah satu (atau keduanya) akan berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Dalam situasi seperti ini, orang tua cenderung akan ikut berteriak untuk melerai perkelahian anak-anak. Cara seperti ini justru akan memperparah situasi, karena anak akan lebih mengeraskan teriakan untuk menandingi gaduhnya keributan. Terbayang enggak chaos-nya kayak apa? Menuliskan sambil membayangkannya saja sudah bikin kepala saya pening. Cobalah untuk tetap tenang. Upayakan untuk menggunakan tone suara yang biasa tanpa berteriak. Kendalikan diri Anda agar dapat mengatasi situasi lebih baik.

Berikan sentuhan untuk mendapatkan atensi


Tapi bagaimana anak-anak mau menperhatikan ucapan saya? Lha, orang lagi pada ribut-ribut, yang ada saya bakal enggak digubris. 

Cara efektif untuk menatik perhatian anak pada Anda adalah dengan memberikan sentuhan. Pegang pundak atau tangannya. Arahkan pada Anda sebagai tanda bahwa Anda meminta perhatiannya. Jika anak bergerak tiba-tiba, enggak masalah menahan sedikit tubuhnya. Ini dilakukan untuk mencegah anak melakukan hal-hal yang bisa melukai dirinya dan/atau orang lain.

Minta anak-anak untuk fokus pada Anda


Setelah berhasil mendapatkan perhatian mereka, tekankan bahwa Anda butuh mereka untuk fokus pada apa yang ingin Anda sampaikan. Kalimat seperti "Dengarkan mama! Mama mau bicara" atau "Sudah cukup, ya! Sekarang giliran Mama bicara." bisa Anda sampaikan untuk membuat mereka fokus.

Sejajarkan tubuh Anda dengan posisi mata anak-anak. Posisi ini dinilai lebih efektif dalam penyampaian pesan. Setelah Anda mendapatkan fokus dan perhatian mereka, sekarang saatnya menjadikan konflik anak-anak Anda konstruktif alias konflik yang membangun.

Bagaimana membuat konflik anak-anak Anda menjadi konstruktif?


Berkonflik memang enggak mengenakan. Namun, dari konflik, kita biasanya mendapat banyak pembelajaran, betul enggak? Begitu pun ketika anak-anak berantem. Pertengkaran antara ananda bisa memberikan insight yang baik kalau orang tua bisa menanganinya secara benar. Berikit ini hal-hal yang dapat Anda lakukan ketika anak-anak berantem.

Perlakukan anak secara adil


Saat anak berantem, hindari memihak salah satu anak. Buat diri Anda netral meski Anda tahu siapa yang pertama kali memulai pertengkaran. Dengarkan pendapat dari keduanya dan akhiri dengan meminta anak untuk saling minta maaf (bukan hanya salah satu anak yang minta maaf pada yang lain). Ingatlah, sebagai orang tua, peran Anda adalah mediator bukan hakim. Jadi ajaklah anak untuk mengenali masalah yang dibuatnya bukan malah menyalahkan apalagi menuduh.

Hindari membanding-bandingkan


Kakak kan lebih tua, lebih ngerti. Jadi kakak yang ngalah, ya!

Sebagai orang tua, kadang kita mungkin sering kelepasan bicara demikian. Padahal, pada kenyataannya, anak yang lebih tua enggak selamanya harus mengalah. Saat anak berantem, perlakukan mereka sama. Jika anak dibanding-bandingkan (apalagi dengan perbandingan yang buruk), anak justru akan merasa semakin tersakiti. Ketika anak merasa sakit hati, bisa saja ia akan mengingat rasa sakit hati tersebut hingga dewasa.

Identifikasi penyebab pertengkaran


Pertengkaran terkadang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi anak-anak. Diskusikan permasalahan bersama untuk diambil hikmahnya. Dengarkan penjelasan dari masing-masing anak tanpa melakukan penilaian. Bantu anak untuk mengenali apa yang menyebabkan mereka bertengkar dan bantu mereka untuk menemukenali solusi untuk konflik yang sedang mereka hadapi.

Untuk anak yang lebih kecil, Anda bisa langsung mengarahkan pada solusi tertentu dengan opsi pilihan. Hal ini untuk melatih anak dalam melakukan pemecahan masalah. Intinya, upayakan solusi datang dari anak-anak, bukan dari Anda.

Cegah konflik terjadi kembali


Pertengkaran antara ananda biasanya akan berputar pada pemicu yang itu-itu saja. Kenali saat anak-anak menunjukan tanda-tanda mau berantem, ingatkan mereka pada pertengkaran sebelumnya. Anda boleh saja menjelaskan konsekuensi pada anak-anak jika mereka berantem lagi. Misalnya jika mereka berantem, mereka harus berhenti bermain. Anda juga bisa mengingatkan anak-anak tentang aturan yang ada di rumah, misalnya enggak boleh saling berteriak atau mengucapkan kata-kata kasar.


Meski konflik boleh jadi memberikan pembelajaran yang baik bagi anak, namun tetap tekankan pentingnya untuk saling menyayangi antar saudara (sumber gambar: paxel.com)


Anak-anak perlu ditanamkan bahwa permasalah dapat diselesaikan dengan cara asertif. Dengan berbicara yang baik, mereka tetap bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kalau pun mereka enggak bisa mendapatkan seluruh keinginan, mereka tetap bisa merasa senang tanpa menyakiti orang lain.  Pertengkaran antar saudara mungkin memang bisa jadi sebuah pembelajaran yang baik bagi anak-anak. Namun tetap akur itu jauh lebih baik dari pada berantem. Tetap ajarkan anak untuk saling menyayangi dan tanamkan bahwa berantem/bertengkar bukanlah hal yang baik untuk menyelesaikan masalah.

Komentar

  1. Wah kali hal ini saya ngerasain banget bun, anak saya kalo ketemu selalu berantem tapi kalo jauh saling mencari..
    Ketemu bentar langsung rusuh lagi.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya... kayaknya yang namanya anak-anak rata-rata begitu,wkwkwk.

      Hapus
  2. Anakku yang sulung paling seneng bikin adeknya marah... suka ngusilin soalnya.

    (Abang adek ini udah SMA dan SMP), tapi seneeeng aja gt si abang ngusilin adeknya.

    Sikapku biasanya... cuma geleng2 kepala aja...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebetulnya kalau berantem jahil biasa malah jadi ngangenin ya mbak,hehe. Asalkan bukan berantem yang bikin resah, saya juga sering jadi pengamat aja,hehe

      Hapus
  3. Saya punya pengalaman berharga tentang konflik anak ini. Saat kecil mereka rukun sekali dan sering bersama. Nyaris tak ada pertengkaran.
    Begitu si kakak berusia 12 tahun, ia mulai tidak mau selalu ditiru adiknya dan sering memarahi adiknya.
    Mungkin ini konflik yang terlambat datang ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena si kakak sudah mulai masuk masa remaja mungkin mbak. Wajar kalau begitu, remaja kan memang sdh mulai pingin punya privasi. Jangankan sama adiknya, sama orang tua pun mungkin si anak enggak mau diganggu,hehe.

      Hapus
  4. Keren nih iprs parentingnya. Bisa untuk nambah wawasan para ortu.

    BalasHapus
  5. Hahahaha. Saya jadi ingat dulu saya dan adik saya bertengkar hebat hanya karena rebutan mau jadi Power Ranger yang merah. Saya belajar dari ayah saya yang kalo anak-anaknya berkonflik malah ditontonin, dibiarin. Iya, ayah ngebiarin kami berdebat, adu argumen, asal jangan sampai saling pukul. Kalo kami udah saling pukul dan main fisik, malah kami berdua dapat jatah pukulan tambahan sama ayah pakai lidi kasur. Wkwkwk.

    BalasHapus
  6. Membaca tulisan ini sambil ngebayangin adek saya dengan anak-anaknya yang jaraknya lumayan dekat, ramai dan gaduh. Bunda memang harus tetap jadi wasit yang adil ketika terjadi sedikit konflik saat bermain bersama itu ya, sebab penyelesaian yg diambil saat usia anak2 ini mempengaruhi persepsi anak2 saat tumbuh remaja.

    BalasHapus
  7. hihihi biasanya rebut jika ada yang ngga mau ngalah
    Untung anak saya yang jadi trouble maker cuma satu,yang tengah
    Kebetulan si sulung pengalah, juga yang nomor 3
    Walau pernah juga ada masa mereka saling ngga mau ngalah, maklum beda umur mereka cuma setahun :D

    BalasHapus
  8. Anak-anak berantem tuh bener-bener ujian kesabaran dan kedinginan kepala buat ortu :)

    BalasHapus
  9. Bener banget nih ... Anak-anak perlu ditanamkan bahwa permasalahan dapat diselesaikan dengan cara asertif yaitu dengan berbicara yang baik jangan pake emosi. Tips yang menarik untuk dibaca

    BalasHapus
  10. Perlu kesabaran dalam memberikan pengertian pada anak-anak ya kak, karena kadang bisa nyambung sehingga nggak terjadi lagi pertengkaran

    BalasHapus
  11. Meski saya baru punya 1 anak, tapi sering banget ngumpul sama sepupu2nya, kalo lagi berantem emang kadang bikin pusing. Tapi setelah baca ini, saya jadi dpet pencerahan bagaimana cara yg bijak menghadapi anak2 saat koflik

    BalasHapus
  12. Saya blm punya anak. Tp sering sih liat anak kecil main2 trus berantem. Trus ortunya bela sepihak hehe... Bgs juga masukannya mbak. Justru anak blajar lebih baik dr pertengkaran mereka

    BalasHapus
  13. Ilmu parenting gini saya belum terlalu paham karena belum ada baby. Tapi sekarang sudah mulai belajar cari ilmunya sih hihihi.. pasti bakal kepake nanti!

    BalasHapus
  14. Pelajaran banget nih buat aku yang baru punya anak, nanti kalau si kakak udah punya adek yang namanya pertengkaran gini gak bisa dihindari.

    BalasHapus
  15. Jaga emosi sendiri untuk tetap stabil itu yang seringnya susah, sih. Terima kasih sudah mengingatkan

    BalasHapus
  16. Wahh saya harus belajar byk mengatasi hal2 seperti ini, blm pnya pengalaman soal'y. Anak juga masih 1 dan baru 1.5 tahun, paling bergaul sama tetangga itu pun skrg2 jarang sejak corona

    BalasHapus
  17. Kalau memberi sanksi saat terjadi pertengkaran boleh tidak ya? Misal si ade ngejek kakaknya. Uang jajan minggu ini dikurangi seratus rupiah.

    BalasHapus
  18. Sepahan denhan tulisan milik Mbak. Timbulnya konflik dengan saudara sendiri di masa kanak-kanak akan menjadi gambaran bagi mereka tentang kehidupan saat beranjak dewasa nanti.

    BalasHapus
  19. Wah ternyata ada pengalaman berharga yang bisa didapatkan ya jika anak berkonflik dengan saudaranya. Padahal kalau anak sedang bertengkar itu saya suka pusing dan ingin marah saja. Terima kasih atas sarannya mbak, nanti mau saya coba. Supaya konflik anak ini menjadi konstruktif dan menjadi bekal untuknya menghadapi konflik dimasa mendatang

    BalasHapus
  20. Tipsnya asik banget .Pertengkaran ,cemburuan antar saudara itu jadi drama sehari hari masa kanak kanak.Tapi perlu campur tangan orangtua agar drama ini tidak berlanjut jadi 'dendam'saat mereka dewasa.

    BalasHapus
  21. Anak saya usianya terpaud jauh tapi tetap saja suka ribut kecil. Nggak sampai berantem, mungkin karena usianya berbeda jauh.

    BalasHapus
  22. Ilmu parenting bagus nih. Cocok dipraktikkan untuk mom punya anak lebih dr satu.

    BalasHapus
  23. makasih sahringnya, lengkap tulisannya

    BalasHapus
  24. apalagi kalau adik kakak ya bun, duh itu tindih-tindihan sudah jadi pemandangan sehari-hari haha. kadang suka enggak sabaran kitanya mau melerai dan memarahi, padahal caranya salah ya kalau pakai marah2. makasih bun sharingnya, jadi nambah ilmu.

    BalasHapus
  25. Anakku sering banget ituberanteman tapi kadang juga mereka kompak banget untuk saling bantu. Kalau sudah satunya Pulang ke Pondok pasti kangen

    BalasHapus
  26. Belajar banyak ini saya dari tulisan mbak cempaka�� terima kasih sharingnya mbak ya. Ini saya juga lagi cari² referensi bacaan untuk saya karena anak² saya yang lagi getol²nya berantem dan pas banget ini saya nemu referensi dari mbak cempaka

    BalasHapus
  27. Anakku masih 1 tapi artikelnya bermanfaat banget untuk dibaca orangtua. Memang pusing kalau anak bersaudara berantem terus ya. Orangtua harus bijak

    BalasHapus
  28. beginilah anak lebih dari satu. tapi mbak cempaka aku suka ngomong ke anakku yg 5 tahun pas dia ngerebut maianan yang dipegang adeknya yang 1 tahun "mas kan lebih gede ayo contohin yang baik biar adeknya ga ikutan" gmn tuh konstruktif efektif ga kalimatnya? hehe

    BalasHapus
  29. Anak saya banget ini mah, berantem mulu tiap hari. Apalagi setiap mau nonton, ato punya mainan baru, aduh duh e..

    Berantem ini seolah sebagai penanda atau pengingat kalo ortunya lagi kebablasan dan blom sempet main sama anak. Kalo saya atau suami langsung memberikan waktu untuk main atau nonton sama anak, mereka biasanya pada anteng, gak terlalu perduli untuk rebutan atau saling ganggu, kalo anak-anak saya sih yah begitulah, Mba 😂

    BalasHapus
  30. Aku belum sukses mencegah konflik terulang. Dua cewek yang gede ini, ada aja yang jadi ribut. Pusing. Bentar2 ribut. Bentar2 nangis. Semoga ke depan bisa lebih bijak ngadepin mereka.

    BalasHapus
  31. Anak sulung sy sudah 4 taun, adiknya masih 3 bulan, paling dia suka berantem sama sepupunya yg 3 tahun, saya sama maminya nonton aja kalau mereka berantem, kecuali kalau udah mukul baru dipisahin

    BalasHapus
  32. Saya merasakan konflik ini dengan adik karena usia kami berdekatan, pas masih kecil dulu. Memang ada manfaatnya sebenarnya ya, Mbak. Kalau anak-anak saya sendiri belum pernah sampai konflik yang seperti Mbak sebut di atas karena jarak usia mereka 9 tahun, hehe.

    BalasHapus
  33. Namanya saudara meski cuma berdua dan beda umurnya jauh itu tetap aja bisa berkonflik, kaya anak-anakku hahaha. Terima kasih tipsnya, Mbak. Nanti aku coba kalau mereka pas berantem.

    BalasHapus
  34. Berkonflik dengan saudara memberikan kesempatan pada anak-anak untuk mengelola emosinya. Sebagai orangtua kita memang harus adil saat mendampingi. Tak harus yang lebih tua harus ngalah melulu, ntar si kakak bisa stres kalau kayak gitu. Harus dibilangi pelan-pelan bagaimana saling menghargai sesama saudara.

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar banget ya belajar untuk saling berbagi dan mengelola emosi

      Hapus
  35. aku belum ngalami nih mbak. anakku masih 1. terus ini juga belum ngajak main yang ketemu orang lain gitu. jadi belum ngerasain.

    ini membantu banget buat jadi tambahan insight kalau semisal terjadi ke anakku.

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

CARA MEMBUAT ECO ENZYME

Setelah berkomitmen untuk belajar gaya hidup hijau, keluarga kami mulai mengkonversi segala produk yang dapat merusak lingkungan, salah satunya adalah sabun. Setelah berhasil membuat sabun lerak, saya pun penasaran membuat jenis sabun lainnya. Kali ini sedikit lebih ekstrem, saya membuatnya dari sampah organik rumah tangga. Dari sampah bisa jadi bahan pembersih? Masa sih? Bisa saja. 
Baca juga: MENCUCI DENGAN SABUN LERAK

Dikembangkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, eco enzyme atau cairan organik dari olahan sampah organik rumah tangga bisa dibuat sebagai bahan pembersih. Apa itu eco enzyme? Eco enzyme adalah hasil olahan limbah dapur yang difermentasi dengan menggunakan gula. Limbah dapur dapat berupa ampas buah dan sayuran. Gula yang digunakan pun bisa gula apa saja, seperti gula tebu, aren, brown sugar,dll). Saya pribadi belum berani bikin dari ampas dapur yang aneh-aneh. Saya buat dari kulit buah jeruk dan apel. Agar hasil eco enzyme-nya wangi,hehe. Cara membuat eco enzyme? Eco enzy…

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…