Langsung ke konten utama

IBU KANTORAN VS IBU RUMAH TANGGA?



Entah kenapa isu ini kembali menyeruak dalam kehidupan saya. Padahal saya sudah lama berhenti jadi ibu kantoran. Ibu kantoran? Yup, saya lebih suka mengguankan terminologi "ibu kantoran" dibanding "ibu bekerja", karena bagi saya, ibu yang di rumah pun seyogyanya juga bekerja, hanya beda ranah saja.

Kembali lagi ke topik ibu kantoran vs ibu rumah tangga, belakangan banyak yang bertanya pada saya enakan mana sih, jadi ibu rumah tangga atau ibu kantoran. Kalau bagi saya, dua-duanya sama-sama enak,hehe. Kalau begitu, kenapa enggak jadi ibu kantoran saja, kan merasakan dua-duanya? Sebelum dijawab, saya coba paparkan, ya, apa yang saya rasakan ketika jadi ibu kantoran dan ibu rumah tangga.

Ibu Kantoran: Ibu Gemilang, Namun Penuh Kegalauan

Saya pertama kali bekerja sekitar tahun 2010 dan resign di tahun 2017. Kalau dihitung-hitung masa kantoran saya sangat singkat, hanya tujuh tahun. Dari tujuh tahun tersebut, hanya satu setengah tahun saya jalani peran sebagai ibu kantoran. Karena saya baru punya anak di tahun 2015.

Bekerja di ranah publik itu rasanya memang luar biasa. Banyak banget hal yang saya pelajari dan peroleh dari kerja kantoran. Bukan hanya masalah berpenghasilan, namun menghadapi pahit manis di dunia kerja juga saya rasakan. Pengalaman, rekan kerja yang menyenangkan (dan menyebalkan) bahkan jodoh saya dapatkan dari lingkungan ketika saya kerja kantoran. Dari dihardik dan dimaki di depan umum, hingga dapat promosi jabatan. Kerja kantoran itu penuh tekanan, tapi bikin bangga dan bahagia juga. 

Saya merasa, kerja kantoran juga membantu saya menjadi pribadi yang lebih baik. Saya yang tadinya penakut, mulai membangun rasa percaya diri saya ketika kerja kantoran. Kalau dipikir lagi, saat itu sepertinya enggak ada terbersit sama sekali keinginan untuk berhenti kerja kantoran. Saya bahkan punya bayangan untuk meniti karir di kantoran bahkan hingga pensiun.

Dulu sibuk, sekarang pun sibuk. Hanya beda bentuk kesibukan. Dimana pun berkarya, niatkan setiap perbuatan menjadi amal shalih

Namun, arah mimpi itu kemudian mulai berubah ketika anak pertama saya hadir. Saya merasa enggak lagi hidup untuk diri saya sendiri. Untuk pertama kalinya sejak saya hidup di dunia, saya merasa keberadaan saya punya makna bagi orang lain. Meski arah mimpi telah berubah, saya masih mantab menjalani karir. Lha, wong banyak kok ibu kantoran yang keren luar biasa. Bisa membagi waktunya untuk tugas kantor dan keluarga, yang energinya kayak batere energizer yang enggak ada habisnya.
Tetapi, ternyata... ibu keren ini bukanlah saya.

Jam kerja saya panjang, saya sering pulang dari kantor selepas waktu isya. Saya berangkat pagi-pagi dari rumah, karena kantor saya berjarak nyaris 30 kilometer dari rumah. Saya capek, fisik dan mental. Sedih melihat anak saya sudah tidur ketika saya pulang, sedih saat anak saya lebih memilih digendong mbahnya daripada saya karena mereka sudah biasa bersama, sedih ketika orang lain fasih bercerita tentang perkembangan si kakak sementara saya enggak tahu apa-apa.

Galau? Sudah pasti, karena kami punya cicilan yang harus dibayar. Kami punya kehidupan yang harus ditopang dari gaji kami yang dibagi. 

Jadi ibu kantoran membuka peluang saya untuk mengembangkan diri dan jejaring, kalau saya enggak bekerja lagi, maka saya akan kehilangan itu semua.


Ditambah saya takut....

Ya... saya takut. Meninggalkan kehidupan yang sudah menjadi bagian hidup saya selama tujuh tahun. Saya takut merasa terasing karena jika saya berhenti bekerja, maka saya "hanya" seorang ibu rumah tangga. Sesulit itu kah berhenti bekerja bagi saya? Ya dan mungkin juga sesulit itu bagi Anda.

Ibu Rumah Tangga: Supermom yang Miskin Pujian

Setelah pergulatan panjang dan hitung-hitungan keuangan keluarga, akhirnya saya mantab untuk berhenti jadi ibu kantoran. Alasan saya berhenti semakin kuat ketika menemui kendala dalam mencari pengasuh yang amanah untuk si kakak.

Kamu kelihatan enggak bahagia waktu ngantor. Sekarang terserah kamu, kalau mau berhenti, Insya Allah aku siap membiayai kita semua,

Itu ucapan suami ketika saya curhat kegalauan saya untuk resign. Akhirnya saya pun menjadi ibu rumah tangga, setelah dua bulan menunggu surat resign saya di-approve HRD. Apakah saya bahagia? Awalnya, ya. Lalu satu bulan berlalu setelah saya resmi jadi ibu rumah tangga, saya mulai menyesali keputusan saya.Bulan-bulan berlalu dan rasa penyesalan itu tidak kunjung hilang. Hingga saya mencapai titik terendah. Saya merasa enggak ada yang menghargai profesi saya sekarang, termasuk diri saya sendiri. Di awal resign, saya bahkan sering kagok ketika mengisi kolom pekerjaan di berbagai formulir, yang harusnya saya isi "ibu rumah tangga" malah saya tulis "karyawan swasta".

Saat itu saya sadar, saya enggak bisa terus begini, tapi enggak tahu bagaimana cara untuk keluar dari perasaan insecure yang saya rasakan saat itu. Qadarallah, tiba-tiba ada seorang teman lama yang mengajak saya untuk ikut kuliah whatsapp (kulwap) dengan tema yang pas banget seperti apa yang sedang saya rasakan saat itu.

Singkat cerita, ikut kulwap itu langsung menggerakan saya untuk menata diri. Pelan-pelan mulai menerima peran baru saya. Saya pun mulai menulis dan mencari komunitas dengan tujuan untuk menguatkan diri saya. Satu hal yang saya dapati setelah akhirnya menerima peran saya adalah bagaimana profesi saya bisa dihargai orang lain, kalau diri saya sendiri enggak bangga dengan apa yang saya lakukan. Saya pun menemukan kalau ternyata melakoni peran sebagai ibu rumah tangga pun harus dilakukan secara profesional dan berdedikasi, sama seperti ketika saya kerja kantoran.

Setahun saya butuh waktu untuk menata diri, hingga hari ini, saya begitu bersyukur dengan peran saya sebagai ibu rumah tangga. Saya enggak berpikir untuk kembali jadi ibu kantoran karena kehidupan saya sekarang terasa luar biasa, alhamdulillah....

Kebersamaan dengan mereka jadi prioritas bagi saya. Apakah dengan jadi ibu rumah tangga saya bahagia? Tentu! Karena ada mereka yang membuat hidup saya bermakna. :)

Kenapa Jadi Ibu Rumah Tangga?

Bukan tanpa alasan saya begitu bersyukur karena mengambil keputusan untuk berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Kurang lebih begini alasan kenapa saya happy banget dengan hidup  saya saat ini.

Saya punya banyak waktu untuk anak-anak

Ini tentu saja sudah jelas. Dulu saya hanya bisa menghabiskan waktu penuh dengan anak-anak saat sabtu dan minggu, tapi sekarang anak-anak selalu bersama saya 24 jam sehari 7 hari seminggu. Kesempatan saya untuk memberikan waktu berkualitas menjadi lebih banyak. Meski bukan berarti ketika di rumah enggak ada hal lain yang dikerjakan. Namun, jadi ibu rumah tangga memudahkan saya untuk mengatur porsi-porsi waktu agar setiap pekerjaan bisa terselesaikan dan saya bisa tetap bermain bersama anak-anak. Akhirnya saya pun merasa lebih tenang, karena anak-anak dididik dan diasuh langsung oleh saya.

Saya punya waktu untuk membangun mimpi-mimpi pribadi

Katanya kalau berhenti kerja kantoran membuat ibu mengubur mimpi-mimpi mereka, siapa bilang? Justru sebaliknya, saya merasa punya lebih banyak waktu untuk menghidupkan mimpi-mimpi saya setelah resign. Kalau saya enggak berhenti kerja kantoran, mungkin saya enggak akan mulai serius menulis. Saya juga enggak punya waktu untuk belajar menulis dan dari aktivitas-aktivitas tersebut saya enggak mungkin akhirnya bisa berkarya untuk menerbitkan buku sendiri. 

Kenyataannya adalah sebaliknya, saya belajar nulis, saya menulis dan akhirnya saya punya buku solo pertama yang sudah bisa dipesan di sini (narsis sedikit enggak apa-apa yaaa)

Buku solo pertama yang sudah bisa didapatkan di toko buku Gramedia dan Togamas :)

Jadi ibu rumah tangga memungkinkan saya untuk melakukan hal-hal yang saya sukai. Cita-cita yang terpendam karena kesibukan membuat nota laporan pun sedikit demi sedikit mulai terwujud. Masya Allah....


Saya tetap bisa berjejaring, tanpa harus meninggalkan tugas-tugas di rumah

Sejujurnya, ketakutan terbesar saya ketika berhenti kerja kantoran adalah enggak punya teman,wkwkwk. Saya khawatir pergaulan saya menjadi sempit. Ternyata, kekhawatiran saya enggak terbukti. Saya tetap bisa memiliki banyak teman (terima kasih untuk kemajuan teknologi :) ). Saya enggak pernah merasa bosan karena dari media sosial dan komunitas saya bisa membangun pertemanan. Ada yang sebatas dunia maya, tetapi enggak sedikit pertemanan yang kemudian berlanjut di dunia nyata. Justru dari situ saya bertemu dengan teman-teman yang sangat luar biasa. Mereka bisa menguatkan semangat. Dengan latar belakang yang beragam juga membuat pertemanan saya lebih kaya. Di situlah saya jadi banyak belajar dari orang-orang yang saya temui, bahkan hanya dengan interaksi di dunia maya.

Saya punya kemerdekaan waktu

Ini adalah hal yang paling saya sukai karena menjadi ibu rumah tangga. Dulu waktu saya sangat terbatas, karena saya punya jam kantor. Jam saya sangat tergantung pada aturan perusahaan. Meski ada kompensasi gaji dan lemburan, saya tetap enggak happy kalau saya enggak bisa memanfaatkan uang tersebut karena enggak punya waktu luang. :')

Bukan berarti jadi ibu rumah tangga itu enggak ada kerjaan, lho. Justru sebaliknya, saya baru tahu setelah jadi ibu rumah tangga, kalau cucian piring dan setrikaan itu bisa berkembang biak XD. Tetapi, dengan jadi ibu rumah tangga, saya bebas mengatur waktu pribadi saya. Ini jadi kelebihan sekaligus tantangan sih. Karena dengan punya kebebasan waktu, saya harus pintar-pintar mengalokasikan waktu yang saya punya agar tetap bermanfaat.


Jadi Intinya apa, Buk?

Intinya, berhentilah membandingkan antara ibu kantoran dan ibu rumah tangga. Kedua hal tersebut bukan dua kutub yang berseberangan kok. Mom is always a mom, mau dia jadi ibu rumah tangga, pekerja kantoran, menteri, mantri (eh... mau ngelucu, tapi gagal). Tinggal profesi yang mengikuti ibu itu saja yang beragam kan. Jadi ibu kantoran enggak mengubah status Anda sebagai ibu dan menjadi ibu rumah tangga juga bukan berarti Anda enggak bekerja dan berpenghasilan (hayo, yang punya bakulan mari kumpul! :D). Tetap semangat dan berbesar hati, apa pun profesi yang dijalani. Ikhlas... ikhlas... ikhlas jadi mantra yang dirapal setiap hari. Insya Allah akan ada kehidupan indah yang dituai nanti.

Yuk, kita kayak teletubies! Berpelukaaaaaan!

Komentar

  1. Yup, jalan hidup tiap orang pasti berbeda2
    Yg penting semangaaattt dan selalu menghargai plus bersyukur yaa

    BalasHapus
  2. Alhamdulilah punya suami yang mengizinkan memilih
    Ngga semua perempuan punya suami sebaik dia lho
    Nakhoda rumah tangga yang keren

    Sesuatu banget ya?Kata Syahrini :D

    BalasHapus
  3. Ibu kantoran atau ibu yang beraktivitas di rumah, keduanya tetaplah menjadi 'rumah' ternyaman bagi anak-anak dan suaminya. Tetap semangat para ibu.

    BalasHapus
  4. Keren mbak, iya brnar apapun pilihan kita pasti sudah dgn pertimbangan yg matang ya..
    Dijalani dgn bahagia saja intinya..
    Semangat untuk buku solonya mbak, selamat

    BalasHapus
  5. Berpelukan....
    Mau ibu kantoran atau ibu rumah tangga keduanya sama-sama hebat dan sama-sama ibu. Itu bukan topik yang perlu diperdebatkan.

    Aku sendiri lagi masuk fase bocah sudah mulai mandiri, doyan nginep dari rumah nenek yang satu ke rumah nenek yang lain, dan sebagai ibu rumah tangga tiba-tiba merasa tidak ada kerjaan... ektrimnya sampai merasa gak berarti lagi sebagai manusia, hahaha... tapi di sisi lain hal ini kujadikan waktu untuk diri sendiri dan menemukan mimpi baru serta melanjutkan mimpi lama sih. Jadi ya, semua hal memang patut disukuri.

    BalasHapus
  6. Apapun itu, biarin aja deh tuh orangorang pada mau komen gimana. Yang ngejalanin kita, jadi cuek aja. Hahaha. Saya pernah berada di dua kondisi tersebut. Pernah full jadi ibu kantoran, pernah pula jadi ibu rumah tangga.

    BalasHapus
  7. Mertua saya ibu rumah tangga, ibu saya ibu kantoran yang mulai bekerja lagi setelah anak-anaknya di atas 5 tahun. Keduanya bahagia menjalankan profesinya, kebahagiaan itu menjadikan kami pun bahagia menjadi anak dari ibu kantoran maupun ibu rumah tangga. Jadi nggak perlu membandingkan diri dengan ibu yang berbeda profesi dengan kita. Nikmati saja peran kita saat ini, berusaha selalu menjadi lebih baik setiap harinya dan berbahagia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersyukur juga punya kebebasan untuk memilih sebagai ibu bekerja atau ibu di rumah ya, Mbak. Dan apapun pilihan kita tetaplah berusaha yang terbaik.

      Hapus
  8. Masya Allah.. Selamat ya, Mbak atas terbitnya buku manisnya. Perjuangan yang tidak mudah. Tapi Ahamdulillah sekarang sudah dapat yang terbaik yaaa :)

    BalasHapus
  9. Setuku mbak. Kadang saling menyudutkan, misalnya ibu kantoran yg kejar uang, anak ga terurus, atau Ibu rumah tangga yang sok sibuk. Saya setuju keduanya hebat. Banyak yg ibu kantoran ga sukses, ibu rmh tangga ga sukses pun ada, jd ga patokan. Kembali ke pribadi n ikhas tadi 🙏😊

    BalasHapus
  10. Masyaallah mbaak, makasih banyaak sharingnyaa. Sepakat bangeet kalau tidak masalah dimana pun berkarya, niatkan setiap perbuatan menjadi amal shalih insya Allah banyak berkah melimpah yang menyertai. Baik ibu kantoran atau ibu rumah tangga, dua duanya hebat dengan perannya masing-masing 🥰🥰🤭

    BalasHapus
  11. Kita senasib, ibu kantoran jadi ibu rumah tangga, dan bahagiaaa pastinya ya. Karena bahagia itu kita yang ciptakan. Mungkin aku nggak ngalami galau karena udah mentok kerja 25 tahun dan bosen luar biasa. Karena udah dari 10 tahu pertama pengen resign tapi nggak dibolehkan. Kelipatan 5 tahun mengajukan terus, baru tahun ke 25 diijinkan, alhamdulillah. Udah siap banget di rumah, hepiii

    BalasHapus
  12. Setiap ibu punya pilihan terbaik atas pertimbangan terbaik. Semua ada konsekuensinya. Selama bertanggung jawab, semua akan baik2 saja. Insha Allah.

    BalasHapus
  13. Wah, selamat mba sudah berhasil membuat buku solonya. Memang kalau sudah berkeluarga dan menjadi ibu, bekerja itu bukan karena gaji, tapi karena hati. Hati seorang ibu yang selalu ingin dekat dengan buah hatinya. Toh, menjadi IRT ngak kalah kerennya dengan ibu kantoran kalau jadi IRT bisa menghasilkan banyak karya.

    BalasHapus
  14. Saya sudah lama sekali tidak jadi ibu kantoran. Sudah ribuan kali membuat keluarga heran. Tapi kita adalah apa yang kita yakini benar. Meski miskin pujian dan banjir cemoohan, menjadi ibu yang bekerja di rumah adalah pilihan paling membahagiakan bagi kita yang tahu rasanya.

    BalasHapus
  15. Sepakat, dan keputusan resign kerja itu harus didukung suami.

    Hidup emak- emak. ..! ! !

    BalasHapus
  16. Terharu baca postingan ini. Apresiasi utk ibu pekerja di rumah itu harus poll-pollan juga karena. Krena kerjaan an tanggung jawabnya juga besar banget. Keren Mbak, bisa berkarya dari rumah.

    BalasHapus
  17. Aduh tulisannya mewakili perasaan saya deh. Hehe. Bedanya saya resign sebelum menikah. Waktu awal nikah happy bisa urus rumah, coba2 resep masakan, sebulan setelah nikah lgsg hamil. Jengjeeeng, semua berubah drastis.

    Saya juga baru "menemukan" diri saya sendiri lagi itu setelah ikut komunitas, punya temen2 baru yg hobinya sama, serasa lebih hidup gitu. Sekarang jadi lebih happy ngurusin anak ama rumah ya walaupun berantakan terus. Wkwk..

    BalasHapus
  18. Setiap ibu punya battlenya masing-masing. Memang ada ya yang mulai mom war lagi? 😂 kok ada ya energinya buat ngurusin orang lain

    BalasHapus
  19. Wah mbak cempaka selamat ya atas buku solonya. Aku penasaran sm isinya. Bener banget semua pilihan pasti ada sebabnya, kita ga bs menghakimi. Yang terpentinh saat menjalaninya tanpa mengabaikan kewajiban kita sbg perempuan istri dan ibu ya

    BalasHapus
  20. Semua ada kelebihannya masing-masing. Dan setiap wanita berhak memilih yang mana yang menurutnya paling cocok.

    Wow, selamat atas buku solonya ya, Mbak. ����

    BalasHapus
  21. Baik itu ibu kantoran atau ibu di rumah aja, sebaiknya para ibu ini tetap bahagia ya, mbak dalam menjalani hari-harinya.

    BalasHapus
  22. Mbak, senang bacanya. Aku cuma bentar kerja kantoran. Hitungan bulan. Itupun belum jadi Ibu. Meskipun udah nggak kerja kantoran lagi aku sempat galau setelah jadi IBu mau lanjut apa enggak. Padahal jam kerjaku nggak sepadet orang kantoran. Memang rasanya ketika anak kita lahir, kita seperti lahir kembali di dunia ya mbak...

    BalasHapus
  23. Ayu mbak kita berpelukaaaaaaaaaaaaan.hehehe. Saat ini memang saya lagi belajar tentang managemen waktu mbak. Waktu untuk keluarga dan waktu untuk diri saya sendiri. Semangat!

    BalasHapus
  24. Setiap ibu asti punya keinginan ingin merawat anaknya. Tapi terkadang keadaan membuat kita harus memilih salah satu. Antara mengasuh anak sendiri atau bekerja di kantor. Kalau sy sendiri saat ini memilih mengajar part time. Menurut saya bekerja sangat penting tapi mengasuh, merawat dan mendidik anak lebih penting.

    BalasHapus
  25. Yesss, jadi IRT masih bisa berkarya kok. Memang benar, IRT juga ibu bekerja. Biarkan sajalah yang membandingkan, berarti pikirannya belum terbuka

    BalasHapus
  26. Lucu, pas baca paragraf akhir, jadi intinya apa Buk? hehe...galau atau enggak, ternyata diri sendiri yg menentukan. Aku malah kebalik, lulus, menikah, punya anak, baru deh nyari kerja yg pas...

    BalasHapus
  27. Semua ibu adalah ibu bekerja..
    Dan semua ibu itu hebat dgn versi merak masing masing

    BalasHapus
  28. Betul itu mau itu kerja di ranah publik ataupun ranah domestik semua ibu sama2 kerja. Aku malah Pengen kerja kantoran lagi mbak.. mumpung anak2 udah bisa ditinggal hehe

    BalasHapus
  29. Aku jadi ibu kantoran kurang lebih dua puluh tahun. Udah kenyang dengan segala sindiran, yang ga merhatiin anak lah, yang lebih suka bersenang-senang di luar rumah, sebut apa aja deh. :) Tadinya ya emosi, lama-lama ya capek juga. Udah biarin aja apa kata orang lain, toh orang lain tak pernah tahu mengapa seorang ibu, yang notabene dibutuhkan di rumah, malah pergi ke luar rumah untuk bekerja.

    Sudah 2 tahun ini aku enggak ngantor lagi mba. Alhamdulillah masih se'waras' ketika masih ngantor kok. Dimana aja asalkan kitanya memilih untuk bahagia, dunia bakalan baik-baik saja.

    BalasHapus
  30. Mungkin karena saya berkaca dari Ibu saya yang kurang mengurus anak-anaknya (meskipun bukan pekerja kantoran, hanya buka warung beberapa meter dari rumah padahal suaminya masih mampu menafkahi). Membuat saya memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran sewaktu nikah. Meskipun saya anggap keputusan itu sudah tepat, tapi ternyata takdir yang diharapkan berbeda. Ketika kita dihadapkan dengan pilihan (eh gak ding, tapi "satu-satunya" tidak ada 2 opsi, bahwa kita harus turut membantu suami menafkahi keluarga) disitulah pergolakan batin terjadi, penyesalan-penyesalan yang dulunya terpendam, akhirnya keluar. Kenapa? karena pendapatan mengais rejeki setelah menikah itu ternyata tidak seberapa (bahkan tidak bisa diharapkan) jika dibandingkan waktu masih bergaji kantoran, dengan pengorbanan waktu, tenaga dan pikiran yang juga luar biasa menohok. 😅😂

    BalasHapus
  31. apapun pilihannya, kalian para ibu selalu hebat di hati anak-anak <3 terimakasih Ibu!

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

CARA MEMBUAT ECO ENZYME

Setelah berkomitmen untuk belajar gaya hidup hijau, keluarga kami mulai mengkonversi segala produk yang dapat merusak lingkungan, salah satunya adalah sabun. Setelah berhasil membuat sabun lerak, saya pun penasaran membuat jenis sabun lainnya. Kali ini sedikit lebih ekstrem, saya membuatnya dari sampah organik rumah tangga. Dari sampah bisa jadi bahan pembersih? Masa sih? Bisa saja. 
Baca juga: MENCUCI DENGAN SABUN LERAK

Dikembangkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, eco enzyme atau cairan organik dari olahan sampah organik rumah tangga bisa dibuat sebagai bahan pembersih. Apa itu eco enzyme? Eco enzyme adalah hasil olahan limbah dapur yang difermentasi dengan menggunakan gula. Limbah dapur dapat berupa ampas buah dan sayuran. Gula yang digunakan pun bisa gula apa saja, seperti gula tebu, aren, brown sugar,dll). Saya pribadi belum berani bikin dari ampas dapur yang aneh-aneh. Saya buat dari kulit buah jeruk dan apel. Agar hasil eco enzyme-nya wangi,hehe. Cara membuat eco enzyme? Eco enzy…

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…