Langsung ke konten utama

CARA MEMBANGUN SUPPORT SYSTEM UNTUK IBU YANG BAHAGIA



Pernah enggak sih merasa kerjaan rumah kok enggak selesai-selesai? Padahal rasanya tenaga sudah lewat dari batasnya. Capek, tapi enggak bisa istirahat. Akhirnya, emosi pun meledak, kalau enggak marah-marah, ya nangis.

Saya pernah baca, ibu-ibu di Jepang tuh terbiasa mengurus segala hal sendiri. Mulai dari mengurus rumah, belanja, mengantar anak sekolah dan masih banyak lagi. Kebetulan saya dapat video bagus tentang kehidupan ibu-ibu di Jepang, mangga disimak berikut ini:


Keren ya, ibu-ibu di Jepang. Namun, survei menunjukan kalau ibu di Jepang rentan sekali stres. Di dorong oleh rasa malu jika enggak mampu mengurus keluarga dengan baik, ibu-ibu tersebut bekerja setiap hari dengan tekanan yang amat berat.

MENGURUS KELUARGA PERLU RASA BAHAGIA

Apa yang dialami ibu-ibu di Jepang tersebut mungkin enggak jauh berbeda dengan ibu-ibu lain, termasuk di Indonesia. Namun, berbahagialah, karena adat gotong royong yang kita miliki menjadikan beban ibu (sebenarnya) bisa dibagi.


Sayangnya sering kali kita justru merasa enggak enak untuk minta bantuan. Alasannya mungkin karena sungkan atau justru kita sendiri yang merasa segala sesuatu bisa diselesaikan sendiri. Kita bukan Wonder Woman, Moms. Ingatlah kalau tenaga dan emosi kita ada batasnya. 
Enggak apa-apa kita melunak sejenak, melonggarkan sabuk idealisme kita. Kalau memang hal itu bisa membuat kita lebih bahagia. Saat diri kita positif, orang di sekeliling kita juga pasti akan merasakan aura positif tersebut, begitu pula sebaliknya. Mengurus keluarga memang menguras tenaga, maka kita butuh ruang untuk berhenti sejenak mengisi daya.

AGAR IBU TAK OVERLOAD

Terkadang saya suka merasa, banyaknya tugas sebagai ibu terasa enggak masuk akal. Ibaratnya ibu bekerja 24 jam, bahkan lebih! Di sini lah fungsi membagi tugas. Agar ibu enggak overload, ibu perlu membagi tugasnya agar tuntas. Apa saja yang bisa ibu lakukan untuk mengurangi beban Anda?

Membagi tanggung jawab sesuai kapasitas anggota keluarga

Rumah milik bersama, bukan milik ibu semata. Meski tanggung jawab tetap ada di pundak ibu, enggak ada salahnya membagi tugas rumah sesuai dengan kapasitas anggota keluarga. Dahulu ketika saya masih kecil, orang tua selalu menyuruh kami merapikan kamar sendiri. Meski mamah saat itu mempekerjakan asisten rumah tangga, wilayah kamar menjadi tanggung jawab pemiliknya. Kebersihan dan kerapian tergantung si penghuni kamar.


Kini, saya pun mencoba membiasakan anak-anak untuk bertanggung jawab terhadap barang miliknya. Sangat jarang bagi saya merapikan mainan mereka, karena anak-anak saya yang akan melakukannya sendiri. Terus terang awalnya butuh tarik urat dulu sih untuk membuat anak-anak punya kebiasaan disiplin membereskan bekas mainnya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, mereka sudah otomatis atau paling tidak sedikit diingatkan untuk bisa jalan sendiri merapikan bekas mainnya.


Begitu juga dengan suami, meski sebagai pencari nafkah, namun enggak menjadikannya berpikir bahwa tugasnya di rumah sudah selesai. Paling enggak, suami wajib banget ikut andil dalam mengurus dan mendidik anak-anak. Biar deh kalau urusan bersih-bersih rumah jadi tanggung jawab ibu. Kalau memang suami mau membantu, itu jadi bonus bagi ibu dan Insya Allah jadi pahala buat suami. Bukankah nabi kita mencontohkan bagaimana beliau membantu istrinya ketika di rumah?

Berbagi cerita

Support system quote

Bukan rahasia lagi kalau banyak ibu merasa tertekan menjalani perannya. Bukan hanya capek fisik, ibu juga sering lelah hati. Enggak jarang, apa yang ibu rasakan dipendam sendiri. Akhirnya ibu jadi stres, bahkan jatuh ke lubang depresi. Sedih ya?


Beberapa kali saya menemukan kasus nyata, melihat dengan mata kepala sendiri, ibu yang harus menjalani beratnya tekanan hidup hingga perlu mendapatkan bantuan psikologis. Ya, kenapa enggak? Kini mendapatkan bantuan profesional untuk masalah psikologis bukan hal tabu, kok. Enggak melulu orang yang berobat ke psikolog berarti (maaf) gila. Ibarat sakit fisik, saat kita flu enggak sembuh-sembuh, kita akan datang ke dokter. Begitu juga ketika kita merasa sedih terus menerus, meski terasa ringan mungkin ini waktunya untuk segera berobat.

Sebelum melakukan loncatan dengan datang ke profesional, sebagian dari kita mungkin lebih nyaman bicara pada orang terdekat. Suami, orang tua atau sahabat bisa jadi pilihan. Meski bukan untuk minta solusi, seenggaknya berbagi cerita bisa melapangkan dada. Saya sendiri lebih nyaman ngobrol dengan suami dan kakak. Sering kali saya enggak dapat solusi untuk masalah yang tengah dihadapi, tapi ketika saya berbagi dengan mereka, saya jadi tahu pasti kalau saya enggak sendiri.

Masih enggak nyaman juga cerita ke orang? 

Menulislah. Itu yang saya lakukan ketika ada hal yang enggak bisa saya sampaikan secara lisan. Menulis membuat dada saya lega, meski enggak harus ada orang yang membaca. Sebagian besar tulisan saya justru jauh lebih baik saat enggak dibaca orang,hehe. Intinya, keluarkan saja apa yang Anda rasakan. Kalau Anda berpikir hal tersebut berpotensi menyakiti perasaan orang, cari alternatif media yang aman dan nyaman, diary misalnya. Jangan sampai dipendam, yang ada perasaan justru jadi seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Kalau sudah begitu malah bahaya kan?

Memanfaatkan sumber daya yang ada

Kembali lagi membahas soal ibu-ibu di Jepang. Meskipun mereka mengerjakan segala hal sendiri, tetapi tugas-tugas setiap hari tetap bisa diselesaikan dengan baik. Kok bisa? karena di Jepang, orang sangat memanfaatkan teknologi, ditambah lagi gaya hidup yang compact dan praktis. Mereka memanfaatkan apa yang bisa digunakan untuk memudahkan tugas-tugas setiap hari, mesin cuci otomatis, penyedot debu yang bisa jalan sendiri sampai lap dengan serat khusus sehingga memudahkan dalam proses membersihkan.

Tapi kita di sini kan enggak sama....

Betul! maka dari itu kita bisa manfaatkan sumber daya lain yang kita miliki. Kalau bisa mempekerjakan asisten rumah tangga, kenapa enggak? kalau orang tua bersedia membantu meringankan kerja kita, kenapa enggak? Kalau suami ikut turun tangan bersih-bersih meski hasilnya enggak sesempurna kerja kita, kenapa enggak? atau saat kita bisa memanfaatkan choper bumbu, kenapa juga harus repot nguleg? Saat bisa panggil jasa Go Clean untuk beberes, kenapa enggak digunakan?

Semuanya kembali kepada kita. Pilih sumber daya yang paling mungkin kita gunakan. Gimana kalau enggak mungkin semua? Berarti hanya ada satu yang harus dikompromikan, yaitu espektasi pribadi kita.

CARA MEMBANGUN SUPPORT SYSTEM

Terkadang (atau seringnya,hehe) ibu menjadi stres menjalani perannya karena merasa enggak punya support system. Ibu merasa kurang dibantu, gedebukan mengerjakan dan memikirkan segala hal sendiri. 
Namun, adakalanya bukan orang lain yang enggak mau membantu, tetapi ia enggak paham kalau kita butuh bantuan atau orang enggak tahu bisa membantu apa. Pada kenyataannya support system itu dapat kita bentuk lho, Moms. Hingga saat kita butuh bantuan, kita tak lagi harus merasa sungkan. Karena mereka, orang-orang yang menyayangi kita, akan selalu siap di garda depan untuk meringankan beban kita.

Tunjukan apresiasi sekecil apa pun bantuan yang diberikan

Coba deh tanya suami masing-masing, kenapa sih kalau nolongin itu harus nunggu diminta dulu? Kebanyakan suami mungkin enggan membantu bukan karena malas, tetapi karena sering kali bantuannya kurang diapresiasi. Bantu cuci piring, malah diomeli karena wajan masih licin. Mau bantu cuci baju, takut salah membedakan detergen cair sama pewangi pakaian. Mau bikinin sarapan, eh... telur ceploknya malah hangus. Bukannya bikin kita senang, malah bikin pingin naik darah,hehehe. Akhirnya suami jadi enggan membantu karena takut salah.


Padahal kalau dipikir-pikir, suami itu tulus banget ya bantuin kita. Sampai rela mengerjakan sesuatu yang (mungkin) mereka bingung cara mengerjakannya gimana. Kenapa enggak kita apresiasi dengan sedikit ucapan terima kasih? Meski hasilnya jauh dari sempurna, bantuan kecil yang diberikan orang terdekat kita mungkin sudah dilakukan dengan susah payah. Mengapresiasi bantuan yang diberikan bisa memperkuat support system dalam lingkaran kita, lho, Moms.

Menyediakan waktu berkualitas bersama

Semakin lekat, kita semakin mudah meminta ketika butuh bantuan, betul enggak? Itu kenapa menghabisakan waktu bersama yang berkualitas sangat penting. Enggak peduli seberapa banyak frekuensi pertemuan, kalau hanya selewat lalu tentu akan percuma. Berbeda dengan saat kita menghabiskan waktu bersama dengan penuh kehangatan. Ikatan yang kuat bahkan bisa membuat orang di sekeliling kita lebih peka saat ibu membutuhkan bantuan, lho. Kita jadi eggak perlu berkoar minta bantuan, tiba-tiba uluran tangan seketika datang.

Komunikasi yang sehat

Keluarga yang hangat dan kompak biasanya punya kebiasaan komunikasi yang sehat. Bayangan dalam sebuah keluarga yang enggak ada keterbukaan satu sama lain. Suami berpikir istrinya baik-baik saja, padahal dalam hati, si istri sudah menanggung beban luar biasa. Bisa juga anak yang enggak mau terbuka saat punya masalah. Orang tua sudah berusaha merangkul dan menawarkan bantuan, tetapi si anak malah mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.

Supportive families promote emotionally safe and direct communication between one another

Menurut psikolog  Brent Blaisdell, PsyD, keluarga yang mendukung biasanya melibatkan rasa nyaman secara emosional dan komunikasi yang terbuka satu dengan yang lain. Hal ini membuat satu sama lain bisa berdiskusi dan menemukan solusi masalah bersama.

Kalau menurut saya, hal seperti ini sebetulnya enggak melulu tentang keluarga sih. Support system bisa juga ditemukan di tengah masyarakat dan pergaulan, tetangga atau sahabat misalnya. Intinya komunikasi sehat bukan hanya perlu dibangun dalam lingkaran keluarga, tetapi juga lingkaran pergaulan dan masyarakat.

Sadar akan kapasitas orang yang dimintakan bantuan

Suatu hari, pernah seorang teman mengeluhkan ibunya yang enggak mau membantu untuk menjaga cucu. Saya pikir hal seperti itu bukan hal yang terlalu mengagetkan. Bedanya, sebagian nenek mungkin sungkan untuk menolak permintaan, sedangkan nenek alias ibu teman saya ini secara terbuka mengemukakan penolakannya. Bayangkan gimana capeknya kita saat mengurus buah hati. Nah... sekarang coba bayangkan ibu Anda yang sudah enggak terlalu bertenaga melakukan hal yang sama dengan Anda. 

support system
Saat mengolase foto ini, saya batu sadar betapa banyak dan luas support system yang saya miliki. Dengan demikian, saya enggak perlu merasa khawatir lagi.


Sebelum menuntut terlalu banyak, sebaiknya kita kenali dulu sejauh mana orang tersebut bisa membantu kita. Dengan demikian kita bisa mendapatkan bantuan yang efektif. Kita enggak memberatkan orang lain, tetapi juga tugas-tugas kita bisa terasa lebih ringan.

Pada akhirnya, kita memang enggak bisa hidup sendiri ya Moms. Membagi tugas bukan berarti lemah. Membagi tugas juga bukan berarti kita manja. Kita hanya berusaha untuk menyeimbangkan kehidupan diri tanpa menambah beban orang lain. Dengan support system, ibu bisa punya kehidupan yang berkualitas dan bahagia. Tinggal bagaimana cara kita mengomunikasikannya.


Komentar

  1. Support system yang bagus buat para ibu, ya. Selain itu, ibu juga perlu sedikit menurunkan standar ketika semua tidak bisa berjalan ideal.

    BalasHapus
  2. Bagus banget ya mba, kadang kita sbg Mom suka perfeksionis juga sih kalau urusan di rumah. Melimpahkan tanggungjawab ke anggota keluarga lain perlu juga ya

    BalasHapus
  3. Wah, bagus banget nih. Memang ibu itu rentan sekali stress. Kegiatan harian yang gitu-gitu aja, terkesan remeh tapi kalo ga ada yg ngerjain juga bikin stress. Ternyata banyak cara supaya ga stress ya. Videonya inspiratif. Thank you.

    BalasHapus
  4. Keren nih support system bagi para moms. Kalo di rumah memang aku dan suami udah saling support untuk urusan rumah tangga. Tinggal melatih anak kami nih. Mudah2an bisa rajinan bantu² emaknya deh di rumah. Minimal beresin kamar.

    BalasHapus
  5. Setuju mbak. Berbagi tugas menjadi salah satu cara juga agar keluarga tahu, betapa berat dan repotnya tugas ibu. Kalau saya juga sering minta bantuan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah kepada anak terutama yang sudah remaja, sehingga agak ringan bebannya.

    BalasHapus
  6. Supportive families promote emotionally safe and direct communication between one another

    Ini kata kuncinya ya Mbaaa
    Semogaaaaaa semua ibu senantiasa bahagiaaaa

    BalasHapus
  7. Langkah pertama emang harus kerja sama dengan Suami ya?
    Sayang budaya kita yang sering ngga enak hati (karena Suami udah lelah bekerja) jadi penghambat

    BalasHapus
  8. Saya.alhamdulillah sdh terbiasa berbagi tugas di rumah..emang jd enak kitanya gak.cape.dan ns mengerjakan hal lain.

    BalasHapus
  9. Benar mbak, support system sangat dibutuhkan ibu, agar bisa menjalani setiap perannya dgn baik dan bahagia

    BalasHapus
  10. kalau semua dikerjakan sendiri yang ada capek, kalau capek suka pengen marah dan jadinya mood rusak deh

    BalasHapus
  11. Wah iya mbak kadang saya juga pernah mengalami ini. Kerjaan tidak selesai-selesai dan akhirnya emosi meledak. Memang support system ini sangat dibutuhkan supaya emosi ibu tetap stabil. Biasanya saya melampiaskan emosi yang terpendam melalui tulisan. Setelah menulis perasaan jadi lega

    BalasHapus
  12. Setuju banget mbak, ibu itu perlu bahagia untuk mengurus keluarganya. Efeknya emang terasa banget saat kita bahagia atau stress menghadapi keluarga terutama anak-anak. Makanya aku bilang sama paksu untuk jadi support utama bagi aku biar tetap waras

    BalasHapus
  13. Intinya segala sesuatu mesti dikomunikasikan dengan baik ya. Dengan berbagi beban, segala sesuatunya akan menjadi lebih ringan. Baik pekerjaan rumah tangga maupun uneg-uneg dalam hati. Bagusnya artikel ini, kita mesti belajar tidak menuntut orang lain dan memahami posisi mereka juga. Saya suka artikel ini bahas dari sudut pandang mertua, orangtua, dan suami juga. Support system memang sangat penting.

    BalasHapus
  14. Iya banget, ibu rumah tangga itu butuh support system yang bagus. Supaya ngurus rumah, ngasuh anak, dan semuanya bisa berjalan dengan baik. Aku sendiri sih, selain suami, juga banyak nulis. Baik di diary atau di blog. Lumayan bikin plong. Ngelakuin me time juga ngaruh banget.

    BalasHapus
  15. Pekerjaan yang gak ada cuti dan sangat sibuk adalah ibu rumah tangga menurutku. Dari subuh sampai malam sibuk terus. Tentunya memang harus ada titik bahagia yang dicapai meski sekedar ngobrol dengan teman lewat tlp, bermain dengan kucinh dan ikan, dan sebentar menonton tv. Beneran banyak sabarnyaaaa.

    BalasHapus
  16. Sepakat mbak, happy mom raise happy kids
    Jadi setiap ibu harus bahagia

    BalasHapus
  17. Suntikan penyemangat nih buat saya juga. Kadang lelah itu ada. Apalagi kalau menghadapi keluarga yang sama sekali tidak mengerti akan suport system. Tahunya kerja sama itu memberatkan pihaknya. Udah, ambyar deh semuanya...

    BalasHapus
  18. Bener banget, kita tuh makhluk sosial yang gak bisa hidup tanpa orang lain. Makanya kita butuh banget support system di keluarga, sahabat, tetangga dan lingkungan. Biar tetep bahagia ketika cobaan menghampiri.

    BalasHapus
  19. Kalau aku yang bikin bahagia juga adalah punya dunia lain, kesibukan lain selain urusan domestik rumah tangga dan peribuan. Me time lah.

    BalasHapus
  20. Saya juga memilih memiliki support system daripada memaksakan diri menjadi wonder woman. Karena saya butuh tetap sehat dan bahagia, lahir dan batin. Kalo ibunya bahagia, anak-anak juga pasti akan tumbuh dengan bahagia.

    BalasHapus
  21. Support suami menurutku yg paling utama sih. Ringan tangan membantu, bisa jeli gitu melihat istrinya kerepotan. Sering banget liat di luar sana, kalo pas di tempat umum. Istri ya gendong bayi, ya gandeng balita. Suaminya melenggang aja gitu...sambil merokok pula...Duuuh...

    BalasHapus
  22. Memang benar jadi Ibu ada kecenderungan sungkan minta tolong, padahal manusiawi kalau kerepotan. Ibu juga suka dikekang dengan imej sempurna, padahal ga ada yang sempurna kecuali Tuhan. Semoga tiap ibu ada support system ya...

    BalasHapus
  23. Aku setuju banget mbak. Support system itu tidak selalu auto ada. Kadangkala memang harus dikondisikan dulu supaya tercipta. Sesimpel menghargai bantuan dari suami.

    Makasih ya mbak sharingnya 🤗

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

CARA MEMBUAT ECO ENZYME

Setelah berkomitmen untuk belajar gaya hidup hijau, keluarga kami mulai mengkonversi segala produk yang dapat merusak lingkungan, salah satunya adalah sabun. Setelah berhasil membuat sabun lerak, saya pun penasaran membuat jenis sabun lainnya. Kali ini sedikit lebih ekstrem, saya membuatnya dari sampah organik rumah tangga. Dari sampah bisa jadi bahan pembersih? Masa sih? Bisa saja.  Baca juga:  MENCUCI DENGAN SABUN LERAK Dikembangkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, eco enzyme atau cairan organik dari olahan sampah organik rumah tangga bisa dibuat sebagai bahan pembersih. Apa itu eco enzyme? Eco enzyme adalah hasil olahan limbah dapur yang difermentasi dengan menggunakan gula. Limbah dapur dapat berupa ampas buah dan sayuran. Gula yang digunakan pun bisa gula apa saja, seperti gula tebu, aren, brown sugar,dll). Saya pribadi belum berani bikin dari ampas dapur yang aneh-aneh. Saya buat dari kulit buah jeruk dan apel. Agar hasil eco enzyme-nya wangi,hehe. Cara membuat eco

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa? Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah.

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya. Mendorong kemampuan kognitif dan problem solving Mengembangkan daya kreatifitas Melatih motorik  Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan: Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-wa