Langsung ke konten utama

CATATAN SEORANG IBU TENTANG PERUBAHAN IKLIM




Ketika kecil, di rumah orang tua saya banyak sekali kupu-kupu. Lumrah sekali melihat mereka berterbangan di halaman rumah, hinggap di antara tetumbuhan dengan warna-warna sayap yang beragam. Salah satu favorit saya adalah kupu-kupu gajah- yang saat saya dewasa baru mengetahui bahwa kupu-kupu ini ternyata seekor ngengat. Rentang sayapnya yang nyaris 25 senti sukses membuat kami, para bocah ini, terpana. Gede banget!

Tetapi, itu cerita nyaris 30-an tahun yang lalu. Bahkan ketika saya di bangku SMA, saya sudah jarang sekali melihat ngengat raksasa ini terbang liar di sekitar rumah. Ngengat ini konon memang lebih aktif di malam hari. Sayapnya yang berwarna coklat dan hitam juga mudah tersamar di antara pepohonan. Sayangnya, saya sangsi tidak melihatnya lantaran ia baru keluar pada malam hari. Lha wong di sepanjang kompleks nyaris sudah tak ada lagi lahan terbuka dengan pepohonan dimana kupu-kupu gajah ini biasa tinggal.  Dahulu ada beberapa titik lahan luas dengan pepohonan yang rindang di area tersebut, tetapi sekarang lahan tersebut sepenuhnya sudah berubah menjadi rumah warga yang padat.

Atlas Moth atau yang kita kenal dengan sebutan kupu-kupu gajah (sumber gambar: pixabay.com)

Tempat ini mungkin sudah terlalu sesak untuk si kupu-kupu gajah, maka ia pergi mencari tempat lain yang lebih nyaman ditinggali. Jangan-jangan mereka malah sudah hilang sama sekali dari area tersebut, karena pohon-pohon tempat mereka tinggal dan bersembunyi dari predator sudah tidak ada lagi. Dengan ukuran sebesar itu, saya yakin sulit bagi mereka untuk melarikan diri dari pemangsa. Apalagi sayapnya yang mencolok bak kepala seekor ular tidak bisa disembunyikan jika tanpa pepohonan.

Meski ngengat biasanya dianggap hama, tapi kupu-kupu gajah atau Atlas Moth ini ternyata punya manfaat ekonomi buat manusia. Ketika ia masih berwujud ulat, ia bisa menghasilkan benang sutra yang punya nilai ekonomi tinggi karena dinilai lebih kuat, lembut dan memiliki warna alami yang lebih bervariasi dari sutra pada umumnya. 

Kupu-kupu gajah hanyalah satu dari sekian banyak spesies yang harus mengalah dari manusia di dunia ini. Bagai pengungsi, hewan-hewan ini terpaksa terusir dari habitatnya akibat tergeser sesaknya manusia. Seperti yang disampaikan Direktur Eksekutif Yayasan Strategi Konservasi Indonesia, Mubariq Ahmad, bahwa salah satu dampak perubahan iklim adalah berkurangnya keanekaragaman hayati. Tengoklah betapa banyak spesies hewan yang kini terancam. Tahukah Anda, bahwa hilangnya satu populasi berarti juga hilanganya satu rangkaian ekosistem? Jadi, saat ada spesies yang punah, maka keseimbangan semua makhluk yang berada dalam rantai makanannya pun ikut terganggu.

PERUBAHAN IKLIM MEMBUAT BUMI DALAM KONDISI SAKIT

Menilik perihal perubahan iklim, sebagian kita yang tinggal di perkotaan mungkin merasa tidak terdampak dengan hal tersebut. Namun, kenyataannya bumi sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. Coba deh kita rasakan, beberapa tahun terakhir cuaca sangat tidak menentu. Dahulu kita bisa memprediksi kalau sudah masuk bulan berakhiran -ber biasanya sudah masuk musim penghujan. Namun, sekarang musim kemarau terasa amat panjang di satu belahan Indonesia, sedang di belahan Indonesia lain justru banjir melanda.

Belum lagi kegagalan panen akibat cuaca yang tidak terprediksi. Memangnya kalau petani gagal panen, kita yang di perkotaan tidak ikut terdampak? Tentu terkena juga. Bahan pangan berkurang, tidak sebanding dengan kebutuhan. Akhirnya harga pangan naik, emak-emak kayak kita pun akhirnya baru deh menjerit.

Setidaknya ada beberapa dampak perubahan iklim yang dapat saya rangkum dari webinar "Suara Kita Untuk Perubahan Iklim" yang diselenggarakan pada jumat, 14 Agustus 2020 lalu, yaitu:

  1. Musim yang tidak menentu dengan durasi yang lebih pendek/panjang dan ekstrem.
  2. Bencana alam yang terpicu dari musim yang ekstrem.
  3. Krisis air
  4. Naiknya permukaan air laut
  5. Kehilangan biodiversity (keanekaragaman hayati)

Mendengar paparan Bapak Mubariq Ahmad, saya bergidik. Kondisi bumi kita sungguh sangat mengkhawatirkan. Ironisnya adalah, sadar atau tidak, rumah-rumah tempat tinggal kita berkontribusi besar dalam terjadinya kerusakan alam yang berakibat berubahan iklim. Tengoklah berapa besar energi  yang kita gunakan untuk menopang keseharian kita. Lalu, berapa banyak sampah yang dihasilkan dari rumah-rumah kita. Belum lagi gaya hidup yang merusak alam, seperti menggunakan plastik sekali pakai, membuang limbah rumah tangga ke sungai dan boros dalam menggunakan listrik.

Sebagai seorang individu saya merasa memiliki tanggung jawab mengubah gaya hidup untuk menyelamatkan bumi ini dan sebagai seorang ibu, saya pun melihat urgensi yang sangat besar untuk menanamkan kecintaan anak-anak untuk memelihara dan menjaga bumi. Bumi ini perlu terus dijaga, tidak hanya oleh kita, tetapi juga anak-anak generasi penerus kita. Agar bumi ini senantiasa lestari. Sehingga bumi terus menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman untuk semua makhluk.

HUTAN SEBAGAI RUMAH DAN PENYANGGA KEHIDUPAN PENGHUNI BUMI

Hutan sebagai sumber kehidupan, bukan hanya untuk penghuninya, tetapi juga bagi kita yang hidup di perkotaan. Sayangnya deforestasi sebagai dampak dari alih fungsi hutan, membuat jumlah area hutan di dunia semakin sempit. Dari data yang saya peroleh melalui situs PPID Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, diperoleh bahwa di Indonesia, secara bruto angka deforestasi menurun dari 493,3 ribu ha menjadi 465,5 ribu ha (data 2018-2019), namun secara netto deforestasi justru mengalami kenaikan dari 439,4 ribu ha menjadi 462,4 ribu ha. Secara logika, kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa hutan kita masih terus tergerus, meski di tengah upaya untuk reforestasi hutan.

fungsi hutan


Dilansir dari situs greenpeace, deforestasi juga merambah ke hutan primer dengan total area 1.6 juta ha. Deforestasi ini bahkan telah melalui persetujuan pemerintah, dengan mengalihfungsikan lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, pengolahan kayu pulp, penebangan hutan dan pertambangan. Tujuannya tentu saja untuk kepentingan ekonomi. Namun sayangnya, kepentingan ekonomi ini tidak sejalan dengan upaya menjaga kelangsungan kehidupan hutan.

Padahal kita semua tahu bahwa hutan adalah penopang kehidupan bagi bumi ini. Sepertiga oksigen di muka bumi ini disuplai oleh pohon-pohon di hutan hujan. Apa enggak ngeri, ketika sumber oksigen yang kita gunakan untuk bernapas semakin terkikis habis?


Selain suplai oksigen, hutan juga menjadi rumah bagi jutaan spesies di muka bumi. Spesies-spesies yang saling bergantung satu sama lain untuk menjaga kelangsungan hidup di muka bumi. Contohnya orangutan, hewan asli Indonesia ini membantu dalam proses penyemaian biji. Saat ia makan, biji buah yang jatuh ke tanah akan tumbuh menjadi pohon baru. Namun sayangnya orangutan justru terusir dari habitatnya sendiri. Disampaikan oleh Pegiat Lingkungan dan Perlindungan Satwa, Davina Veronica, kondisi hutan tempat habitat asli orangutan semakin tergerus dan memprihatinkan. Masih banyaknya orangutan yang diselamatkan dan tinggal di penakaran menjadi indikator bahwa kondisi hutan habitat orangutan belum layak menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman bagi spesies tersebut. Mereka akhirnya terpaksa tinggal di penakaran dengan kondisi yang jauh berbeda dengan habitat aslinya.

DARI RUMAH UNTUK BUMI YANG LEBIH BAIK

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah semakin parahnya perubahan iklim? Mengubah kebijakan tentu kita tidak bisa. Ikut serta aktif menjadi relawan dan praktisi lingkungan hidup juga belum tentu mampu. Lalu, perubahan apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan bumi?

Mengubah gaya hidup tentu bukan perkara mudah. Kami sekeluarga pun masih berproses. Namun, percaya lah bahwa sekecil apa pun langkah yang kita perbuat untuk menyelamatkan bumi bisa amat berdampak. Berikut ini adalah hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan di rumah untuk mencegah perubahan iklim:

Hemat energi

Saat di rumah gunakanlah energi seminimal mungkin. Lakukan perilaku sesederhana mematikan lampu dan alat elektronik saat tidak digunakan untuk menyelamatkan bumi. Kalau kami, sengaja membuat jadwal mencuci baju dan piring, misalnya mencuci baju 2-3 hari sekali dan mencuci piring 1-2 kali sehari. Tujuannya adalah agar kami bisa menghemat penggunaan listrik dan air.


Menanam pohon

Menanam pohon di pekarangan rumah bisa membantu menyelamatkan bumi. Selain membuat pekarangan menjadi teduh, menanam pohon juga bisa menambah supply oksigen di sekitar rumah. Bagaimana jika tidak punya pekarangan? Lakukan donasi atau adopsi pohon yang biasanya diselenggarakan oleh lembaga pegiat lingkungan. Dengan begitu, tanpa pekarangan pun kita tetap bisa ikut andil menanam pohon.


Bercocok tanam

Memproduksi bahan pangan sendiri, dalam hal ini bercocok tanam, bisa membantu menyelamatkan bumi. Karena dengan makan dari hasil kebun sendiri akan semakin meminimalkan jejak karbon yang dihasilkan produk yang kita konsumsi. Sayur mayur seperti bayam, kangkung dan tomat mudah ditanam dan bisa dipanen relatih cepat.


Makan masakan rumah

Saat kita makanan di luar akan lebih banyak risiko merusak alam dibanding ketika kita makan masakan sendiri di rumah. Mulai dari sampah kemasan yang dihasilkan serta asap kendaraan yang keluar dari kendaraan bermotor saat kita menuju tempat makan atau melakukan pesan antar.


Bijak menghasilkan sampah

Saat hendak membeli sesuatu, pikirkan dengan masak, bagaimana saya akan bertanggung jawab terhadap sampah yang saya hasilkan dari produk ini? Semakin sedikit sampah yang kita hasilkan saat membeli suatu produk maka semakin baik. Belanja dengan menggunakan tas belanja dan pilihlah produk-produk yang kemasannya seminimal mungkin menggunakan bahan plastik sekali pakai. Mulailah meninggalkan produk-produk sekali pakai dan yang merusak lingkungan seperti tissue, popok sekali pakai, pembalut dan minyak kelapa sawit.


Beralih ke detergen alami

Hampir tiga tahun ini kami sudah beralih ke detergen alami seperti lerak dan ecoenzyme untuk urusan cuci mencuci kami. Dengan menggunakan detergen alami, kita bisa mengurangi polusi air akibat limbah rumah tangga yang dihasilkan. Kalau untuk kami, mencuci dengan lerak dan ecoenzym juga jadi ekonomis, karena hanya butuh satu pembersih untuk urusan cuci baju, cuci piring, mengepel dan membersihkan kamar mandi.


Berbelanja dari toko/warung terdekat

Berbelanja di toko/warung terdekat lebih efisien energi, karena bisa ditempuh dengan jalan kaki atau bersepeda. Dengan begitu, kita dapat menghindar dari menghasilkan polusi udara karena kendaraan bermotor.


Menanamkan dan membiasakan buah hati untuk menjaga dan memelihara alam.

Alam perlu dijaga secara berkelanjutan, maka penting sekali menanamkan gaya hidup ramah lingkungan dan cinta lingkungan pada anak-anak kita. Ajak mereka terlibat menanam pohon, membuat lerak atau kompos. Tanamkan pada mereka untuk tidak mudah menyampah dan bacakan mereka cerita bertema lingkungan. Semakin anak-anak familiar dengan topik menjaga lingkungan, semakin mudah bagi mereka untuk membentuk gaya hidup hijau di kemudian hari.
Contoh buku dan cerita bertema lingkungan yang bisa dibacakan untuk ananda


Mengonsumsi secara bijak

Makanlah sesuai ukuran perut, begitu yang diajarkan orang tua terdahulu. Kami di rumah terbiasa menghitung jumlah anggota keluarga dalam menentukan porsi makanan. Pelit? Bukan itu maksudnya, kami hanya tidak mau membuang makanan sisa. Sejauh ini kami jarang sekali membuang makanan, karena makanan yang disediakan di rumah selalu pas hingga habis termakan. Begitu pun dalam hal membeli pakaian, kami hanya membeli pakaian jika pakaian lama sudah rusak. Jumlah yang dibeli pun sesuai dengan jumlah yang rusak. Kami belajar untuk tidak serakah mengonsumsi, untuk mengurangi emisi karbon yang kami hasilkan setiap hari.


Berdonasi untuk kepentingan perbaikan lingkungan

Kini banyak sekali pihak-pihak yang peduli untuk turun langsung memperbaiki lingkungan, baik perorangan maupun lembaga. Tidak jarang untuk biaya operasionalnya, mereka mengandalkan biaya sendiri yang amat terbatas. Selama belum bisa terjun langsung, tidak ada salahnya untuk menyisihkan dana yang kita miliki untuk membantu mereka. Paling tidak ini bisa menjadi bentuk dukungan untuk perjuangan orang-orang tersebut.


Masih banyak lagi hal yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan bumi ini. Dengan mengubah gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, kita bisa memperbaiki kerusakan yang telah kita buat sebelumnya. Kita hidup bersama di muka bumi ini dengan spesies lainnya. Mereka bergantung pada kita untuk menciptakan lingkungan bumi yang lebih aman dan nyaman untuk ditinggali.

Apakah kelak anak-anak kita hanya bisa melihat satwa dalam bentuk virtual? :(

Saya pun ingin menunjukan pada anak-anak saya betapa luar biasanya kupu-kupu gajah itu. Bukan sekadar dari augmented reality di google atau menunjukannya di buku ensiklopedi. Saya ingin mereka melihat kupu-kupu gajah liar terbang di sekitar halaman, sama seperti yang saya alami ketika seusia mereka. Ayo kita jaga lingkungan kita! Mulai dari hal sederhana namun konsisten. Saya yakin jika kita lakukan bersama-sama, langkah kecil yang kita lakukan akan sangat berdampak bagi kelangsungan hidup bumi ini.

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

Referensi:





https://zerowaste.id/knowledge/apa-itu-jejak-karbon/

Komentar

  1. Saat pandemi gini banyak yang bercocok tanam dan aku ikutan seneng ngeliatnya kalau mereka udah sibuk bercengkaram dengan tanaman. Perubahan iklim ini nyata, dan semoga langkah kecil yang dilakukan keluarga-keluarga di rumah dalam rangka perlindungan iklim dapat berdampak besar.

    BalasHapus
  2. Berbelanja dari toko/warung terdekat, ini yang beberapa tahun belakangan ini saya lakukan. Lebih simple dan lebih irit semuanya. Juga belajar membiasakan membawa tas belanjaan dari rumah.

    BalasHapus
  3. Dari rumah pun kita bisa membantu agar iklim tidak lagi berubah drastis, setidaknya dengan menanam pohon ya, yang sekaligus menambah asri di rumah juga

    BalasHapus
  4. Sepakat. Sebetulnya kita juga bisa melestarikan alam dari rumah. Malah seharusnya rumah jadi tonggak pelestarian alam ya... Dimulai dr yg kecil saja misalnya memilah sampah dan hemat energi

    BalasHapus
  5. Wah seumur hidup nih kak saya malah belum bertemu kupu-kupu gajah. Padahal cantik banget ya kak. Btw cuci baju pakai lerak ini membuat ingatan saya terhempas ke 30 tahunan lalu almarhum mbah putri kalau cuci baju juga pakai lerak

    BalasHapus
  6. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak². Kewajiban mengenalkan kebiasaan² baik dan bermanfaat tentang lingkungan, jadi 1 agenda wajib yg perlu disampaikan.

    BalasHapus
  7. Kalau Aja semua menyadri y perubahan iklim itu krn Hutan dirubah fungsi nya pdhal hutan sebagai sumber kehidupan, bukan hanya untuk penghuninya, tetapi juga bagi kita yang hidup di perkotaan.

    BalasHapus
  8. Benar sekali mbak, dampak perubahan iklim ini memang sangat mengerikan...
    Makanya diperlukan upaya bersama untuk mengatasinya. ..
    Termasuk dari dalam rumah

    BalasHapus
  9. Banyak banget yaa hal kecil yang bisa dilakukan untuk mengatasi perubahan iklim sekarang ini. Hal-hal kecil yang justru akan sangat bermanfaat jika kita semua kompak untuk bersama melakukannya.

    BalasHapus
  10. Betul mbak. Kondisi cuaca yang tak menentu, salah satu tanda dari akibat perubahan iklim. Banyak tanda nyata dari kerusakan bumi yang ada di depan mata kita. Banyak yang peduli, banyak yang enggak. Semoga di setiap kecemasan kita terhadap segala bentuk perubahan iklim, menggerakkan kita untuk berbuat, sekecil apapun itu, asal konsisten :)

    BalasHapus
  11. Setuju Mbak, saya juga membiasakan jalan kaki ke warung yang agak jauh, minimal 5000 langkah ya tp saya ga nyampe hehe... cuma itulah terkadang lingkungan gak kondusif, trotoar kemakan pedagang kaki 5 ya... jadinya kita gak nyaman berjalan kaki, malah melalui badan jalan diklaksonin deh sama pengendara, huhuuu

    BalasHapus
  12. Dulu sering bertanya-tanya dengan perubahan iklm. Apa iya hal ini terjadi? Dan sekarang kerasa banget benar adanya. Di Bandung, sekarang malam itu gerah dan panas. Boro-boro pake selimut. Yang ada kepengen nyalain kipas angin. Bener-bener deh, iklim Bandung, khususnya cuaca Bandung, jadi berubah.

    Dan ternyata ini banyak disebabkan oleh kehidupan kita. Dan untuk mengurangi, sampai memperbaiki ini, kita jugalah yang harus mengubahnya. Gak mesti hal besar ya untuk bisa mengubah itu semua. Memulai hal-hal kecil, dari diri sendiri, dan saat ini juga, bisa kita lakukan.

    Semoga saja yang melakukannya banyak. Sehingga perubahan besar bisa terjadi. Dan bumi kembali bersahabat dengan kita.

    BalasHapus
  13. Salah satu hal positif yang aku lihat di masa pandemik ini adalah lebih banyak orang yang aktif dalam kegiatan bercocok tanam, baik tanaman kecil maupun pepohonan. Kesadaran untuk hidup lebih bersih dan sehat juga lebih besar hingga pengelolaan sampah pun benar-benar diperhatikan.

    Memang benar, iklim bumi sudah berubah begitu signifikan. Kita mungkin kesulitan mengembalikannya seperti dulu. Tapi kita masih punya kesempatan untuk meminimalkan perubahan tersebut menjadi agar tidak semakin serius.

    BalasHapus
  14. Jagalah hutan, konsumsilah segala yang ada di alam secukupnya, niscaya anak cucu kita kelak, dapat merasakan apa yang telah kita rasakan ini.

    BalasHapus
  15. iya, banyak hewan dari masa kecil kita yang kini susah untuk ditemui, padahal mau dikenalkan dengan anak-anak. Sampai sekarang saya belum bisa menemukan kunang-kunang, padahal anak-anak sudah penasaran sekali pengen lihat wujud kunang-kunang secara langsung

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

CARA MEMBUAT ECO ENZYME

Setelah berkomitmen untuk belajar gaya hidup hijau, keluarga kami mulai mengkonversi segala produk yang dapat merusak lingkungan, salah satunya adalah sabun. Setelah berhasil membuat sabun lerak, saya pun penasaran membuat jenis sabun lainnya. Kali ini sedikit lebih ekstrem, saya membuatnya dari sampah organik rumah tangga. Dari sampah bisa jadi bahan pembersih? Masa sih? Bisa saja. 
Baca juga: MENCUCI DENGAN SABUN LERAK

Dikembangkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, eco enzyme atau cairan organik dari olahan sampah organik rumah tangga bisa dibuat sebagai bahan pembersih. Apa itu eco enzyme? Eco enzyme adalah hasil olahan limbah dapur yang difermentasi dengan menggunakan gula. Limbah dapur dapat berupa ampas buah dan sayuran. Gula yang digunakan pun bisa gula apa saja, seperti gula tebu, aren, brown sugar,dll). Saya pribadi belum berani bikin dari ampas dapur yang aneh-aneh. Saya buat dari kulit buah jeruk dan apel. Agar hasil eco enzyme-nya wangi,hehe. Cara membuat eco enzyme? Eco enzy…

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa?
Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah. Jangan ta…

MELATIH INDERA SI KECIL DENGAN SENSORY BOARD

Kalau kemarin buat mainan kardus buat si kakak. Minggu ini, giliran si adik yang saya buatkan mainan. Kali ini saya ingin membuatkan si adik permainan untuk menstimulasi indera. Saya membuat sensory board sederhana dari bahan-bahan bekas. Tahukah Moms permainan sensory memberikan banyak manfaat untuk si kecil? Bermain sensory board bisa memberikan banyak manfaat untuk si kecil, diantaranya: Membantu si kecil memahami lingkungannya.Mendorong kemampuan kognitif dan problem solvingMengembangkan daya kreatifitasMelatih motorik 
Masih banyak manfaat yang bisa diperoleh si kecil dari stimulus indera. Karena indera ibarat pintu gerbang bagi otak si kecil untuk menerima berbagai stimulus dari lingkungannya. Oke, sebelum kita mulai membuat sensory board sederhana, siapkan bahan-bahan dulu yuk Moms! Bahan-bahan:
Kardus bekas Kertas bekas Kain perca (saya menggunakan kain dari celana bekas kakak yang sudah robek) Plastik pembungkus bekas Spidol warna-warni Gunting Lem tembak Rumput sintetis (ata…