Langsung ke konten utama

CARA SAYA MENGATASI KAKAK ADIK BERTENGKAR

mengatasi kakak adik bertengkar


Orang tua yang punya anak lebih dari satu, pasti bisa membayangkan bagaimana pusingnya ketika anak-anak berantem. Pertengkaran saudara itu seperti keniscayaan, deh. Sama halnya dengan orang tua lain, saya pun mengalami hal yang sama. Saat saya hamil anak kedua, saya memiliki kekhawatiran anak-anak saya akan sulit akur. Mungkin ini disebabkan pengalaman masa kecil saya yang sering banget berantem sama saudara-saudara saya. Saya juga khawatir, sebagai orang tua kami enggak bisa bersikap adil. Saya takut anak pertama saya akan merasa kurang kasih sayang. Si kakak yang terbiasa menjadi pusat segalanya, berubah harus berbagi kasih sayang ummi dan abinya.

Rasanya, kekhawatiran saya saat itu memang  terlalu berlebihan. Seingat saya, saat hamil anak kedua , saya lebih banyak mencari referensi tentang sibling rivalry dibandingkan dengan referensi tentang kehamilan. Demi mencegah terjadinya kecemburuan  diantara anak-anak kami, saya dan suami sampai bertekad untuk membangun iklim yang selalu ramah dan adil untuk kakak dan adik. Saya dan suami bahkan mencoba membangun iklim tersebut sejak si adik masih dalam kandungan. Saya sempat cerita panjang lebar tentang hal tersebut di blogpost saya terdahulu yang judulnya Haruskah Saya Merasa Khawatir dengan Sibling Rivalry?

Enggak Berantem, Enggak Ramai

Namun, semua enggak seindah seperti harapan. Meski sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bersikap adil, pertengkaran tetap saja terjadi diantara anak-anak kami. Sudah begitu, enggak lama setelah si tengah lahir, saya ternyata hamil lagi. What? Punya dua anak saja sudah berantem terus, ini lagi tambah satu anak. Seperti dugaan saya, punya tiga anak bikin suasana rumah makin heboh. Bukan cuma keceriaan anak-anak yang mewarnai rumah kami, tetapi juga pertengkaran. Hal remeh bisa jadi keributan. Mereka sebentar akur, sebentar berantem lagi.

Saat lagi asyik melipat baju-baju kering dari jemuran, Saya dikagetan dengan suara tangis histeris si tengah. Seperti dugaan saya, pasti anak-anak kisruh. Keributan kali ini terjadi antara si tengah dan si bungsu. Si tengah yang sedang asyik bikin menara dari balok Lego, dibuat kesal dengan ulah si bungsu yang dengan sengaja menginjak menaranya hingga hancur. Si bungsu baru berusia 1.5 tahun, jelas ia belum paham perbuatannya salah. Namun, si tengah juga belum bisa diminta berlapang dada, berhubung ia pun belum lepas dari usia balita. Si bungsu menikmati keisengannya sebagai sebuah permainan, sedangkan si tengah merasa frustrasi karena enggak bisa bermain dengan tenang.

Itu baru salah satu kejadian. Pertengkaran lain pernah terjadi suatu siang. Saya dibuat bingung karena enggak bisa menemukan si tengah di mana pun. Sampai akhirnya si kakak memberitahu kalau mereka baru saja berantem. "Adek ada di kolong sofa," ujar si kakak sambil menunjuk bagian bawah sofa ruang keluarga kami. Saat saya cek, betul saja. Si tengah sedang bersembunyi di kolong sofa dengan mata berkaca-kaca. Saya bujuk pun percuma, ia tetap tidak keluar juga. Hampir satu jam si tengah ngerungkel dengan nyaman di bawah sofa bak seekor kelomang di dalam rumahnya. Si tengah baru mau keluar ketika si kakak berlapang dada minta maaf.

Sibling Rivalry
Diilustrasikan oleh @cempaka_noviwijayanti

Kalau diceritakan kembali, rasanya kejadian-kejadian tersebut terdengar lucu, ya, tetapi saat mengalaminya rasanya pusiiiiing banget. Kejadian tersebut hanya bagian kecil dari pertengkaran yang kerap terjadi antara trio anak gadis di rumah kami. Terkadang saya jadi terpancing ikut mengomel juga. Rasanya tiada hari tanpa anak-anak yang berantem. Kalau diceritakan semua, kayaknya saya bisa bikin novel berseri, deh.

Si Kakak yang Pengalah, Si Tengah yang Perasa dan Bungsu yang Super Iseng.

Sebetulnya ketiga anak saya cukup terpola. Kakak sebagai anak sulung, lebih mudah diminta mengalah. Ia pun cenderung lebih berlapang dada ketika salah. Beda dengan si tengah, yang diusianya memang masih didominasi dengan sifat egois. Ia selalu mau didahulukan, tetapi cenderung mudah dibujuk saat keinginannya dipenuhi. Sedangkan si bungsu yang masih bayi, memang dalam usia eksploratif. Maka, jangan heran ketika ia tampak iseng dan penasaran ingin ikut campur permainan kakak-kakaknya.

Kalau mau mengambil jalan pintas, saya akan minta si kakak untuk selalu mengalah pada adik-adiknya. Akan tetapi, buat saya hal tersebut bukanlah cara yang benar. Biar gampang, saya pun bisa selalu menuruti dan berpihak pada si tengah, tetapi sampai kapan? Bagaimana dengan si bungsu? saya bisa saja terus-terusan memisahkan si bungsu agar enggak mengganggu permainan kakak-kakaknya. Namun, bukankah si bungsu juga harus belajar bermain bersama?

Menjadi Orang Tua Pembelajar Sepanjang Hayat

Memiliki anak enggak membuat kita secara otomatis menjadi orang tua.

Saya pernah mendengar pernyataan tersebut. meski lupa siapa yang mengucapkannya, tetapi saya setuju banget. Menjadi orang tua berarti bersedia menjadi pembelajar sepanjang hayat, karena punya anak saja enggak cukup membuat kita menjadi orang tua.

Bahkan setelah beranak tiga, saya enggak berhenti mencari referensi parenting. Apalagi saat mengalami masalah dalam pengasuhan. Saya tuh tipe orang tua yang sulit percaya dengan kata orang, apalagi dalam hal mengasuh anak. Saya selalu mengandalkan rujukan yang saya anggap reliabel dan punya landasan yang jelas.

Kadang kita butuh rujukan untuk membantu permasalahan-permasalahan pengasuhan yang kita hadapi, iya enggak sih? Itu kenapa kita rela merogoh kocek buat ikutan webinar, beli buku-buku parenting bahkan mungkin sampai konsultasi ke psikolog. Sebagai ibu yang merasa punya keterbatasan pengetahuan pengasuhan saya pun hobi banget baca-baca artikel parenting. Sepertinya saya sudah hampir habis membaca artikel-artikel parenting kayak di Ibupedia. Kadang saya butuh rujukan yang praktis, namun tetap bisa diandalkan. Baca-baca artikel di Ibupedia membantu saya banget di saat-saat seperti itu.

Anak (Ternyata) Belajar dari Konflik yang Dihadapinya

Dari pengalaman dan baca-baca informasi baik dari buku maupun internet, saya jadi tahu kalau pertengkaran saudara itu hal yang lumrah, bahkan punya dampak positif juga terhadap kemampuan sosial anak. Berinteraksi dengan saudara seperti miniatur hubungan sosial anak dengan anak lainnya di luar rumah. Dari berantem itu, anak-anak juga belajar bagaimana menghadapi dan menyelesaikan konflik.

Berantem itu enggak apa-apa. Di negara yang katanya paling bahagia, Denmark, anak-anak dibiarkan untuk menghadapi dan mengatasi konflik. Menurut buku The Danish Way of Parenting, ketakutan dan kemarahan hanyalah sebagian dari emosi yang harus dipelajari dan diatasi seorang anak agar dia bisa terus bermain. Jadi, enggak selamanya ketidaknyamanan emosi berdampak buruk pada anak. Justru dari ketidaknyamanan itu anak belajar untuk mengatasi masalahnya sendiri.

Saya melihat hal tersebut juga terjadi pada anak-anak saya, terutama si tengah. Ia memang dalam fase belajar keterampilan sosial. Meski masih berproses, sebenarnya si tengah sudah banyak mengalami kemajuan. Contohnya beberapa hari lalu, saat ia ngotot ingin bermain dengan balon milik kakaknya. Padahal ia sendiri sudah punya balon. Saat itu saya mencoba memberi pengertian kalau ia enggak seharusnya bersikap demikian. Enggak mudah memang memberi pengertian pada si tengah. Akhirnya, saya tawarkan beberapa solusi untuk si tengah dan kakaknya. Singkat cerita, kakak lah yang bersedia meminjamkan balonnya, karena ia ingin bermain dengan si bungsu dan abinya.

Sekilas si tengah seperti mendapatkan keinginannya, namun sebetulnya justru sebaliknya. Saat ia mendapatkan dua balon, si kakak memilih untuk bermain dengan orang lain. Si tengah pun mulai berpikir, ternyata main sendirian itu enggak enak. Sepertinya si tengah sadar kalau ia berbuat salah. Ia pun menghampiri saya dan bilang kalau ia ingin main sama-sama.

"Jadi adek mau main bareng kakak? kalau mau main sama-sama syaratnya apa?" saya mencoba memancing si tengah.
"Enggak boleh egois," ujarnya.
"Oke. Berarti sekarang adek harus apa?"
"Minta maaf sama kakak."

Anak-anak
Kita tentu ingin anak-anak selalu akur, namun ketika anak-anak berantem mereka pun belajar sesuatu dari konflik yang dihadapinya (@cempaka_noviwijayanti)


Si tengah pun minta maaf pada kakaknya dengan sukarela. Konflik saat itu pun berakhir bahagia. Sejujurnya saya enggak menyangka juga si tengah bisa bersikap demikian. Ternyata dibalik sikap keras kepala seorang anak, dia bisa merasakan juga perasaan enggak enak saat membuat orang lain enggak nyaman.

Peran Penting Orang Tua dalam Menghadapi Konflik Anak

Orang tua mengambil peranan penting dalam menentukan sehat atau enggaknya pertengkaran antara anak. Dalam salah satu artikel yang berjudul Terapkan 8 Langkah Ini untuk Mengatasi Kakak Adik Bertengkar disebutkan alasan-alasan anak saling bertengkar, tujuh dari sembilan alasan yang dikemukakan punya relasi dengan orang tua. Kalau saya simpulkan, hubungan yang baik antara kakak beradik ditentukan oleh bagaimana orang tua menyikapi konflik yang kerap terjadi di tengah anak. Hubungan antara kakak dan adik juga ditentukan oleh bagaimana perlakuan orang tua pada masing-masing anak.

Kalau direfleksikan lagi, saat kejadian rebutan balon tersebut, saya enggak terburu-buru dalam memberikan penilaian pada si tengah dan kakak. Saya enggak menyalahkan mereka atau salah satu dari mereka. Saya merasa tugas saya adalah memfasilitasi mereka untuk bisa kembali akur. Saya tanya apa masalahnya baik dari sisi kakak maupun si tengah. Saya mencoba bersikap netral dan enggak langsung memberikan solusi. Saya hanya menawarkan pilihan-pilihan, sedangkan mereka yang memutuskan solusinya. Pada akhirnya si tengah belajar bahwa sikapnya membuat si kakak enggak nyaman. Kakak pun belajar untuk mengambil jalan tengah dengan memilih solusi yang menurutnya terbaik untuk menyelesaikan konflik.

Usaha Kami Mencegah Kakak Adik Bertengkar

Meski katanya anak-anak berantem itu juga punya dampak positif, namun mencegah anak-anak berantem lebih  baik dibandingkan melerai mereka ketika sudah terlanjur dalam konflik. Enggak jarang, anak-anak berantem karena ingin menarik perhatian orang tua. Kalau dipikir-pikir, benar juga sih. Seringkali, pertengkaran anak-anak terjadi saat saya dan suami kurang meluangkan waktu bersama mereka. Anak-anak bosan, lalu mulai bertingkah. Itu kenapa, sekarang kami mencoba untuk meluangkan waktu lebih banyak dengan anak-anak untuk bermain. Enggak perlu berjam-jam, cukup beberapa menit permainan yang dilakukan dengan fokus dan sepenuh hati oleh orang tua dan anak. Permainan bisa dilakukan di sela istirahat WFH atau setelah selesai mengerjakan tugas domestik. Dengan begitu, waktu anak-anak akan lebih terisi dengan emosi yang positif dan enggak akan bertingkah untuk menarik perhatian.

Terkadang kami juga meluangkan waktu pribadi dengan masing-masing anak. Sekadar ajak mereka jalan ke mini market berdua saja atau bahkan memeluk sambil nonton TV juga cukup. Dengan begitu, masing-masing anak merasa mendapatkan perhatian yang khusus untuk dirinya. Yah... terkadang pertengkaran masih suka terjadi. Namun, paling enggak intensitasnya lebih berkurang dan yang lebih penting adalah enggak ada anak yang merasa lebih disisihkan dari yang lain. Semua anak mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang sama.




Komentar

  1. Menjadi orang tua berarti bersedia menjadi pembelajar sepanjang hayat, karena punya anak saja enggak cukup membuat kita menjadi orang tua.

    Sepakaaatt banget dgn kalimat ini, Mom.
    Memang yaaa begitulaaahh :D Mengasuh anak memang 'seni' yg kadang bikin ketawa, kezel, tapi kudu kita lakoni dgn ikhlas dan riang gembira

    BalasHapus
  2. Benar, Mbak ... anak belajar dari konflik sebagaimana orang dewsa juga belajar dari konflik. Saya punya adik yang selisihnya hanya 15 bulan. Sering banget bertengkar sampai saling pukul tapi kalau lagi baikan kami kayak best friend. Saya pikir, pertengkaran2 masa kecil dulu itu yang menbuat hubungan kami - masya Allah .. baik hingga saat ini. Semoga seterusnya kami saling sayang.

    Nah, ke anak juga saya biarkan yang no 2 (SMP, kelas 8) dan yang bungsu (kelas 4) bertengkar, mereka iniyang paling sering ribut. Tapii mereka jugalah yang seperti best friend kalo lagi akur padahal satu laki, satu perempuan. Yang ke-2 perempuan, care sama adiknya, bisa jadi kakak yang diandalkan dalam membantu saya mengurus adiknya. Nah, dengan dia ribut sama adiknya, saya pikir si adik akan belajar banyak hal, salah satunya belajar bahwa tak semua orang mengikuti kemauannya dll.

    Lucunya, sulung saya (mahasiswa) yang jail banget, sering bikin saya bertanduk kalo dia isengin adik2nya sampai teriak2 ... tapi kalo ingat kembali kok lucu ya hahaha.

    BalasHapus
  3. Selalu ada cerita untuk anak, suka.duka menjadi orang tua membiat bahagia.

    BalasHapus
  4. Terima kasih atas bacaan yang sangat bermanfaat, kebetulan baru 1 bulan saya punya anak ke 2, dan anak pertama jailnya minta ampun ke si adik, jadi hiburan baru di rumah. Seiring berjalannya waktu, kelak contoh kasus pada artikel ini, beserta solusi yg diberikan pasti akan saya alami dan pasti bermanfaat.

    BalasHapus
  5. Ini yang kuhadapi sekarang setiap hari mba. Anakku 3, usia 5 tahun dan kembar 2,5 tahun. Aduh, bisa dibayangkan bagaimana rumah kami. Wkwkwk.

    Jadi orang tua berarti harus mau belajar sepanjang hayat. Soal konflik anak, usia seperti anak saya hendaknya jangan selalu ditengai orang tua. Kadang sesekali biarkan anak-anak menyelesaikan konfliknya bersama. Emang harus sabar hati kita melihatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyak, sepakaatt memang kudu sabar, ikhlas, tawakkal... itu modal utama jadi orang tua yak.

      tidak mudah, tapiii Bismillahhh, insyaALLAH kita bisa atas izin Yang Maha Berkehendak

      Hapus
  6. emang drama banget ya kalo anak-anak bertengkar

    apalagi anak saya 4, dan yang jadi trouble makernya anak nomor 2

    mungkin karena konsentrasinya pendek, jadi seneng banget ngusilin adik kakaknya :D

    untung mereka cuek aja

    BalasHapus
  7. Entahnya adik bungsu kaya sama aja suka egois dan suka iseng merebut mainan.itulah perlu orangtua bijak yang tidak berat sebelah

    BalasHapus
  8. Gemes ya mbak rasanya heheheh, dulu saya juga sering bertengkar sama kakak tapi gede-gede seru banget. Hahaha. Aku belum punya anak jadi belum merasakan fase itu mbak.

    BalasHapus
  9. Wah mbak semangat! Karena anak saya baru satu, nggak kebayang gimana rasanya harus menghadapi anak-anak yang bertengkar karena hal sepele.

    Saya jadi inget waktu saya kecil. Sama tuh, waktu masih bertiga kerjaannya ribut terus. Tapi memang, selain jadi belajar untuk menyelesaikan masalah sendiri, juga jadi tau gimana triknya menghadapi adik-adik saya. Karena tiap orang handlingnya beda-beda.

    Mungkin anak-anak Mbak juga akan belajar seperti itu nantinya. Nanti kalo udah gede baru mereka sadar. Wkwk..

    BalasHapus
  10. Hahaha jadi gemes nih baca ceritanya mbak, kebetulan saya juga punya 3 anak, yang sulung udah mulai kuliah tahun ini, yang tengah naik kelas 9 dan adiknya kelas 4 SD. Secara usia berjenjang pastinya jarang berantem, tapi ternyata salah si sulung kadang bertengkar juga dengan adiknya yang masih SD hahaha...tapi ngak serta merta saya menyalahkan kakaknya karena usianya jauh di atas adiknya 17 dan 9 tahun. Biasanya saya dekati dulu adiknya karena si kakak kan sudah remaja, pendekatan juga beda. Menjadi orangtua itu harus siap belajar sepanjang hayat, ngak ada istilah lulusnya meskipun anak-anak sudah beranjak besar.

    BalasHapus
  11. Biasanya yang sering bertengkar itu anak pertama dengan anak ke dua. Tapi biasanya konflik berlaku menjelang mereka dewasa. setelah kuliah, mereka malah saling membela jika si Emak memarahi salah satunya. Selamat siang, Mbak.

    BalasHapus
  12. Pengalaman yang sangat berharga pembelajaran yang bisa saya ambil intinya. Sekarang saya masih punya anak satu. Jadi ga ada drama berantem gitu. Masalahnya anak berantem dan suka ribut justru sama ayahnya. Konon katanya karena mereka lahir di hati yg sama jadi ga ada yg mau mengalah

    BalasHapus
  13. Duh, masyaallah.. hahaha. Feel you banget, Kak.
    Aku pribadi nggak pernah pengalaman berantem sama adik karena usia terpaut jauh. Tapi anak-anakku usianya rapet-rapet jadi tiap hari rumah rame terus, hahaha

    BalasHapus
  14. Iya ya, ternyata kakak adik bertengkar bisa juga caper. Orangtua harus berstrategi ya. Anakku msh belum ada saudara, tp suka berantem juga sama sepupu

    BalasHapus
  15. Duh baca ini kafi ngikik sendiri
    i feel you mbak
    persoalan pertengakaran kakak adik ini memang g ada habisnya klo di rumahku
    ada aja yg diributin hehe

    BalasHapus
  16. Wiwin | pratiwanggini.net26 Juni 2021 06.52

    Orang tua sering tidak mengerti bahwa di balik keributan antar anak ada saat mereka belajar banyak hal. Dulu saya empat bersaudara, saya sulung. Bukan berarti saya selalu mengalah, tetapi saya tahu gimana cara mendamaikan adik-adik saat mereka berebutan sesuatu. Lalu kami akur lagi. Sekarang? Anak saya dua, tapi jarak mereka 15 tahun, jadi ya minim banget mereka berantem hehehe...

    BalasHapus
  17. Aku dulu sama adekku juga sering berantem mbak... Tapi gedenya akhirnya saling memahami dan menjaga...

    BalasHapus
  18. Seru banget yaa...
    Anak pertama ada kecenderungan pengalah dan yang bungsu selalu iseng. Tapi kalau aku berbicara sebagai bungsu, aku jarang iseng ke mas-masku (((perasaan, hahaha)) . Tapi anakku, iya, suka isengin kakaknya.

    Jadi gemeessh...
    Tapi bener banget, dari konflik, mereka justru bisa menghargai dan mencari jalan keluar masalah yang mereka hadapi. Alhamdulillah, memiliki saudara. Banyak rasa yang bisa diasah dan diasuh dengan baik.

    Anak-anakku sejak pandemi, gak pernah cari temen dan main di luar. Mereka sudah bahagia bermain dengan saudaranya sendiri di rumah,

    MashaAllah..
    Tabarakallahu.

    BalasHapus
  19. Hahhaa, sama aja mbak di rumahku juga begini. Kakaknya sensitif, adiknya usilnya kebangetan. Setiap hari adaaa aja yang bikin ribut, wkwk. Tapi kalau pas kompak, kompak banget. Memang anak-anak nih guru kecil buat kedua orangtuanya ya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

CARA MEMBUAT ECO ENZYME

Setelah berkomitmen untuk belajar gaya hidup hijau, keluarga kami mulai mengkonversi segala produk yang dapat merusak lingkungan, salah satunya adalah sabun. Setelah berhasil membuat sabun lerak, saya pun penasaran membuat jenis sabun lainnya. Kali ini sedikit lebih ekstrem, saya membuatnya dari sampah organik rumah tangga. Dari sampah bisa jadi bahan pembersih? Masa sih? Bisa saja.  Baca juga:  MENCUCI DENGAN SABUN LERAK Dikembangkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, eco enzyme atau cairan organik dari olahan sampah organik rumah tangga bisa dibuat sebagai bahan pembersih. Apa itu eco enzyme? Eco enzyme adalah hasil olahan limbah dapur yang difermentasi dengan menggunakan gula. Limbah dapur dapat berupa ampas buah dan sayuran. Gula yang digunakan pun bisa gula apa saja, seperti gula tebu, aren, brown sugar,dll). Saya pribadi belum berani bikin dari ampas dapur yang aneh-aneh. Saya buat dari kulit buah jeruk dan apel. Agar hasil eco enzyme-nya wangi,hehe. Cara membuat eco

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa? Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah.

BERKUNJUNG KE KEBUN RAYA BOGOR DI TENGAH PANDEMI

Sejak corona merebak, praktis selama nyaris lima bulan, kami betul-betul di rumah saja. Pergi ke minimarket pun bisa dihitung pakai jari satu tangan. Saya yang biasanya lebih suka di rumah, bahkan sudah mulai jengah. Indikatornya terlihat ketika saya gampang banget marah-marah. Si sulung juga mulai rungsing, pasalnya saya enggak izinkan ia untuk main sepeda sama teman-temannya. Bukan apa-apa, anak-anak masih sangat teledor menjaga kebersihan. Pernah sekali saya izinkan si sulung dan si tengah untuk main bareng teman-temannya. Baru beberapa menit keluar, maskernya sudah entah kemana. Saya dan suami memang berencana untuk mengajak anak-anak untuk berwisata ke Kebun Raya Bogor. Pertimbangannya karena lokasi yang dekat dengan rumah ditambah ruang terbuka yang kami asumsikan lebih aman untuk menjaga diri dari paparan corona. Itu pun maju mundur. Baru berniat pergi di awal minggu, tiba-tiba lihat di media kasus corona bertambah lebih dari seribu. Ciut saya tuh ... daripada