Langsung ke konten utama

BERKUNJUNG KE PERPUSNAS

Perpustakaan Nasional

"Mi, kapan aku masuk sekolah? Bosen....," suatu hari kakak mulai protes.


Akibat di-prank dengan jadwal liburan yang tiba-tiba maju, saya enggak sempat mempersiapkan rencana liburan buat anak-anak. Betul saja, di minggu kedua liburan, anak-anak terutama si kakak sudah mengeluh bosan. Mau keluar kota lagi kok riskan karena mulai naik lagi nih kasus covid-nya. Akhirnya, kami putuskan untuk beraktivitas di daerah yang dekat saja. Mau main di sekitaran Bogor kok bosan, jadilah kita jalan-jalan ke Jakarta.


Awalnya, kami ingin naik MRT dan Transjakarta, sambil bawa anak-anak keliling kota. Namun, sekali lagi, gara-gara kasus mulai naik, kami rasa akan berisiko kalau ajak anak-anak naik kendaraan umum. Akhirnya, kami memutuskan untuk ajak mereka berkunjung ke Perpustakaan Nasional alias Perpusnas naik mobil pribadi. Mereka langsung semangat dong pas tahu mau diajak ke perpustakaan. Berhubung anak-anak saya gandrung banget baca buku. Mereka senang, kami pun senang bisa ajak anak-anak tamasya gratis,hehe. Baca juga cerita kami Baca Buku Seru di Taman Sempur beberapa waktu lalu.


Lokasi dan Jam Operasional Perpusnas

Kami datang ke Perpusnas di hari sabtu karena hari biasa paksu harus ngantor tentunya. Perpusnas terletak di Jl. Medan Merdeka Sel. No.11, RT.11/RW.2, Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat. Kami naik mobil pribadi, tetapi kalau ingin naik kendaraan umum dari Bogor, kami bisa menggunakan KRL dan berhenti di Stasiun Sudirman sebelum melanjutkan naik Transjakarta ke arah Harmoni, transit menuju shelter Balai Kota. Perpusnas buka setiap hari, Senin-Jumat pukul 08:00-16:00, serta hari Sabtu dan Minggu, buka pukul 09:00-15:30.

Layanan Perpusnas

Perpusnas terdiri dari 27 lantai, tapi setahu saya sih yang bisa didatangi pengunjung hanya sampai lantai 24. Lantai pertama adalah lobi dan tempat penitipan tas. Di lantai ini, ada rak buku raksasa yang menjulang dari lantai 1 hingga lantai 4. Di lantai 2, terdapat ruang pameran, aula dan tempat pendaftaran keanggotan perpustakaan. Setiap lantai di Perpusnas ini memiliki koleksi buku yang spesifik. Lantai 7 adalah lantai layanan anak juga layanan manula dan disabilitas. Banyak koleksi buku braille dan komputer khusus untuk penyandang disabilitas di bagian ini. Selain lantai 7 untuk koleksi buku anak, di lantai 14 ada lantai yang khusus menyimpan koleksi buku-buku langka. Untuk Anda yang gemar membaca, bisa datang ke lantai 21-24 yang memiliki koleksi buku-buku umum. Di lantai 24 juga ada executive louge. Katanya pemandangan dari lantai ini keren banget. Kami belum sempat coba sih. Semoga dikunjungan berikutnya bisa datang ke lantai ini. Oiya, untuk informasi lebih lanjut tentang layanan Perpusnas bisa mengunjungi situs resminya, ya!

Berkunjung ke Perpusnas Saat Pandemi

Saat kami tiba, Perpusnas sudah agak ramai. Ternyata ada acara di lantai 2. Meskipun ramai, Perpusnas hanya membatasi pengunjung sebanyak 2000 orang saja. Sebelum masuk Perpusnas, kami harus check-in menggunakan aplikasi Peduli Lindungi. Setelah itu, kami juga melakukan cek suhu. Sayangnya, di pintu depan handsinitizer yang disediakan belum diisi ulang. Alhamdulillah kami sudah siap sedia dari rumah.


Tujuan kami tentu saja lantai 7, yaitu perpustakaan layanan anak. Awalnya, kami ingin masuk melalui lantai parkiran. Hanya saja, sudah hampir menunggu 15 menit, kami tidak juga bisa naik lift lantaran selalu padat. Akhirnya kami putuskan untuk naik tangga darurat dulu ke lantai 1. 

Perpustakaan Nasional
Berfoto di depan bola dunia di lobi Perpusnas

Memasuki lantai 1, kami disambut denga bola dunia raksasa. Anak-anak langsung girang. Kami pun sempatkan berfoto di depan bola dunia, wkwkwk, norak banget ya. Selain bola dunia raksasa, di lantai 1 ini juga berjejer foto-foto presiden yang pernah (dan masih) menjabat di Indonesia. Di bawah foto-foto tersebut juga dipameran berbagai karya cetak yang berhubungan dengan mereka.


Kembali ke cerita perjuangan kami ke lantai 7. Setelah dicegat satpam karena enggak boleh bawa tas dan banyak bawaan ke ruang baca, kami pun menitipkan bawaan kami di loker yang telah disediakan. Loker ini dipinjamkan secara gratis dan ada kuncinya. Karena enggak bisa bawa banyak barang, kami pun dibekali goodie bag dari pihak Perpusnas untuk membawa barang berharga. 


Pengunjung diperbolehkan membawa botol minum, tetapi enggak boleh dibawa masuk ke ruang baca. Ada meja khusus untuk menempatkan botol minum di luar area baca, jadi enggak perlu khawatir kalau haus ketika lagi asyik baca buku.


Sayang banget memang, lift di Perpusnas itu terbatas banget. Kami coba naik eskalator sampai lantai 4, karena memang eskalator hanya disediakan sampai lantai tersebut. Untuk lanjut ke lantai 7, kami harus antri lagi dan kejadian serupa ketika di lantai parkiran pun terulang. Kami harus menunggu lama, karena lift selalu penuh. 


Setelah perjuangan naik turun lift, akhirnya sampai juga ke lantai 7. Anak-anak saya langsung enggak sabar, menyeruak masuk ke dalam ruang baca layanan anak. Eits... tapi tunggu dulu, jangan lupa untuk membuka sepatu dan mengisi daftar pengunjung di pintu masuk. 

Layanan Anak Perpusnas
Ruang layanan anak yang memuat koleksi buku anak

Koleksi buku di layanan anak ini banyaaaaak banget. Bukan cuma anak-anak, saya pun ikut girang. Mulai dari board book, picture book, novel sampai ensiklopedia semua ada. Semua buka dalam kondisi sangat baik dan terpelihara, jadi enak deh bacanya. Ditambah lagi, ruangannya nyaman banget. Kami bisa duduk lesehan atau duduk di kursi-kursi kecil yang telah disediakan. Saya lihat beberapa unit komputer juga ada di ruangan ini, namun kata paksu komputernya hanya bisa digunakan oleh pengunjung yang sudah menjadi anggota. 


Kunjungan kami berlansung lama. Seperti dugaan saya, anak-anak betah banget. Mereka baru puas setelah kami ingatkan untuk makan siang. Kami memilih keluar Perpusnas untuk mencari makan siang, tetapi kalau ingin makan di sini, sebetulnya Perpusnas juga menyediakan kantin. 


Nyaman banget deh di Perpusnas. Kayaknya memang di-design supaya pengunjung betah berlama-lama di sini. Kalau capek baca buku, bisa duduk-duduk di bangku panjang di selasar sambil mendengarkan live music. Mushola-nya pun nyaman dan bersih. Namun, jangan lupa untuk bawa alat sholat sendiri ya... untuk menghindari risiko penularan virus corona tentunya.


Ruang Layanan Anak


Berkunjung ke Perpusnas bisa jadi alternatif liburan akhir pekan nih bersama buah hati. Kalau dulu orang berpikir berkunjung ke perpustakan itu membosankan, nyatanya sama sekali enggak. Banyak hal yang bisa dilakukan saat berada di perpustakaan. Yuk, kunjungi Perpusnas!

Komentar

  1. Lift selalu penuh, berarti banyak ya pengunjungnya Perpusnas, Mbak? Ada pembatasan nggak selama pandemi? Misalnya 50% dari daya tampung? Saya penasaran juga nih dengan perpusnas. Semoga kesampaian ke sana ... tapi gak tahu kapan bisa ke Jakartanya hehe.

    BalasHapus
  2. Aku pengen banget berkunjung ke perpusnas ini, sayangnya belum pernah. aku pengen merasakan menjadi pengunjung sebuah perpustakaan besar dengan fasilitas sebanyak ini. Perpustakaan di kotaku kan biasa saja.

    BalasHapus
  3. Perpusnas ini keren, tapi masalah di lift di situ memang ngeselin..dari dulu itu, entah kenapa enggak dipikirkan di awal. Sayang banget. Harusnya liftnya seperti gedung perkantoran yang bagus seperti di sentra bisnis atau gedung mal. Lift nyaman dan cepat juga daya tampung banyak, dan jumlah cukup. Duh. Tapi kalau yang lain udah bangus banget. Kangen ke Perpusnas, saya terakhir ke sana sebelum pandemi

    BalasHapus
  4. Beberapa waktu lalu sempet liat ada yang bikin reels tentang perpusnas, bagus banget ya ternyata dan bikin betah banget kayaknya. Kalo kapan-kapan ke Jakarta harus mampir nih.

    BalasHapus
  5. penasaran banget sama perpusnas ini soalnya gede banget 1 gedung itu semuanya isinya buku gitu. semoga nanti bisa kesampaian mengunjungi perpusnas

    BalasHapus
  6. Sudah lama pengen main ke Perpusnas ini, sayang sekali waktu ke Jakarta sebelum pandemi nggak sempat ke sana. Semoga perpus daerah saya juga suatu saat dibuat lebih bagus dan lebih nyaman supaya daya baca masyarakat meningkat.

    BalasHapus
  7. Kangen perpus sudah lama gak kesana. Terakhir ke perpus ya sebelum pandemi. Wah lama juga. Kebetulan anak udah ngajakin. Bisa jadi list liburan nih.

    BalasHapus
  8. wah seru banget! aku pengen nih aja anak2 ke sini, tapi belum kesampean xD pengen ngenalin suasana perpustakaan sama anak, biasanya anak2 ku cuma di ajak ke toko buku seperti gramedia aja :D

    BalasHapus
  9. Aku juga cita-cita banget ke Perpusnas Jakarta pas lagi main ke Jakarta. Tampaknya kudu teliti melihat jadwal operasionalnya nih.. Dan bakalan betah banget dikelilingi buku-buku lengkap yang selama ini hanya aku baca melalui aplikasi iPusnas keshayangan aku.

    BalasHapus
  10. Wah pengen ajak anak2ku kesana jadinya..tempatnya nyaman jg nih kelihatanya.. makasih mba bacaannya sangat membantušŸ˜

    BalasHapus
  11. Perpustakaan di Jakarta bagus banget ya mba..bisa untuk sarana rekreasi juga. Rekreasi sekaligus menambah wawasan. Saya pun pasti senang kalau berada di Ipusnas

    BalasHapus
  12. Salah satu tempat yang pengen banget aku kunjungi kalau ke ibu kota. Baru tahu kalau di Indonesia ada perpus yang kece banget. Berharap semua perpusda di kota-kota lain di Indonesia juga dibikin semenarik ini, jadi makin banyak orang yang berkunjung ke perpustakaan, dan minat baca masyarakat Indonesia makin meningkat.

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai! Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan tinggalkan komentar untuk saran dan masukan atau jika Moms menyukai tulisan ini. Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar yah dan komentar Moms akan dimoderasi untuk kenyamanan pembaca blog ini. Salam! (^,^)

Postingan populer dari blog ini

CARA MEMBUAT ECO ENZYME

Setelah berkomitmen untuk belajar gaya hidup hijau, keluarga kami mulai mengkonversi segala produk yang dapat merusak lingkungan, salah satunya adalah sabun. Setelah berhasil membuat sabun lerak, saya pun penasaran membuat jenis sabun lainnya. Kali ini sedikit lebih ekstrem, saya membuatnya dari sampah organik rumah tangga. Dari sampah bisa jadi bahan pembersih? Masa sih? Bisa saja.  Baca juga:  MENCUCI DENGAN SABUN LERAK Dikembangkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, eco enzyme atau cairan organik dari olahan sampah organik rumah tangga bisa dibuat sebagai bahan pembersih. Apa itu eco enzyme? Eco enzyme adalah hasil olahan limbah dapur yang difermentasi dengan menggunakan gula. Limbah dapur dapat berupa ampas buah dan sayuran. Gula yang digunakan pun bisa gula apa saja, seperti gula tebu, aren, brown sugar,dll). Saya pribadi belum berani bikin dari ampas dapur yang aneh-aneh. Saya buat dari kulit buah jeruk dan apel. Agar hasil eco enzyme-nya wangi,hehe. Cara membuat eco

MENGATASI DERMATITIS ATOPIK PADA ORANG DEWASA

Moms yang punya anak bayi mungkin sudah familiar dengan istilah Dermatitis Atopik atau Eczema. Dermatitis atopik adalah kondisi kulit kronis yang menyebabkan serangan gatal-gatal yang kemudian menyebabkan kulit menjadi kering keabuan dan pecah hingga berdarah. Kondisi dermatitis atopik ini umumnya muncul pada bayi dan menghilang seiring dengan pertambahan usia anak. Tapi, tahukah, Moms, kalau ternyata dermatitis atopik juga dapat menyerang orang dewasa? Itulah yang terjadi pada saya, riwayat alergi dan asma yang menurun dari si mamah membuat saya menderita penyakit kulit ini.  dermatitis atopik pada orang dewasa biasanya muncul pada rentang usia 20-30an. Awalnya kulit saya biasa saja. Namun, sekitar tahun 2016, muncul beberapa lenting kecil di jari manis yang kemudian menyebar di seluruh tangan kiri. Lenting atau benjol kecil iti biasanya pecah atau mengering sendiri menjadi kulit yang terkelupas. Tak jarang, kulit terkelupas ini juga meninggalkan luka yang sampai berdarah.

BERKUNJUNG KE KEBUN RAYA BOGOR DI TENGAH PANDEMI

Sejak corona merebak, praktis selama nyaris lima bulan, kami betul-betul di rumah saja. Pergi ke minimarket pun bisa dihitung pakai jari satu tangan. Saya yang biasanya lebih suka di rumah, bahkan sudah mulai jengah. Indikatornya terlihat ketika saya gampang banget marah-marah. Si sulung juga mulai rungsing, pasalnya saya enggak izinkan ia untuk main sepeda sama teman-temannya. Bukan apa-apa, anak-anak masih sangat teledor menjaga kebersihan. Pernah sekali saya izinkan si sulung dan si tengah untuk main bareng teman-temannya. Baru beberapa menit keluar, maskernya sudah entah kemana. Saya dan suami memang berencana untuk mengajak anak-anak untuk berwisata ke Kebun Raya Bogor. Pertimbangannya karena lokasi yang dekat dengan rumah ditambah ruang terbuka yang kami asumsikan lebih aman untuk menjaga diri dari paparan corona. Itu pun maju mundur. Baru berniat pergi di awal minggu, tiba-tiba lihat di media kasus corona bertambah lebih dari seribu. Ciut saya tuh ... daripada