Langsung ke konten utama

Postingan

CARA SAYA MENGATASI KAKAK ADIK BERTENGKAR

Orang tua yang punya anak lebih dari satu, pasti bisa membayangkan bagaimana pusingnya ketika anak-anak berantem. Pertengkaran saudara itu seperti keniscayaan, deh . Sama halnya dengan orang tua lain, saya pun mengalami hal yang sama. Saat saya hamil anak kedua, saya memiliki kekhawatiran anak-anak saya akan sulit akur. Mungkin ini disebabkan pengalaman masa kecil saya yang sering banget berantem sama saudara-saudara saya. Saya juga khawatir, sebagai orang tua kami enggak bisa bersikap adil. Saya takut anak pertama saya akan merasa kurang kasih sayang. Si kakak yang terbiasa menjadi pusat segalanya, berubah harus berbagi kasih sayang ummi dan abinya. Rasanya, kekhawatiran saya saat itu memang  terlalu berlebihan. Seingat saya, saat hamil anak kedua , saya lebih banyak mencari referensi tentang sibling rivalry dibandingkan dengan referensi tentang kehamilan. Demi mencegah terjadinya kecemburuan  diantara anak-anak kami, saya dan suami sampai bertekad untuk membangun iklim yang selalu
Postingan terbaru

CARA MENGAJAR ANAK TOILET TRAINING

Setiap anak memang memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Saat anak pertama dulu, urusan mengajar anak toilet training terasa begitu mudah. Si kakak yang dulu masih berusia dua tahun, sukses lepas pampers tanpa banyak drama.  Namun, tidak demikian dengan anak kedua saya. Tantangan mengajar anak toilet training terasa lebih berat. Sekarang usia si tengah sudah lewat tiga tahun dan ia baru saja bisa lepas pampers. Terlepas dari mudah atau sulitnya mengajar anak toilet training, perkara ini memang butuh ketelatenan dan kesabaran dari orang tua. Kita membantu proses anak untuk berkembang, namun tetap mengikuti ritme anak. Baca juga:  Cara Menyapih Anak APA ITU TOILET TRAINING? Toilet training adalah cara-cara yang dilakukan secara bertahap untuk membantu anak mandiri ke toilet. Seperti juga pada tahap perkembangan anak lainnya, toilet training juga membutuhkan proses. Proses ini berbeda pada setiap anak, bisa cepat atau bisa lebih lambat. Hal yang perlu diingat dalam memandu anak da

5 CARA MENGHADAPI BALITA SUKA MEMBANTAH

Sumber foto: Karosiebien-Pixabay Hampir semua orang pasti pernah mendengar cerita Pinokio. Iya... boneka kayu yang hidungnya berubah panjang ketika berbohong. Cerita tersebut bisa dibilang punya makna yang begitu jelas, "jangan berbohong! Atau kamu akan menerima akibatnya". Pelajaran yang sangat mudah dicerna oleh anak-anak.  Namun, bagi saya, cerita Pinokio sebetulnya juga punya makna tersirat. Bukan untuk pembaca cilik kita, tapi justru bagi kita orang tua. Pinokio, sebuah boneka kayu yang awalnya tak bernyawa, dibuat oleh manusia, tanpa akal budi dan tanpa hati. Namun dengan sejumput sihir peri, Pinokio dapat bergerak dan menari, layaknya anak laki-laki, yang ternyata sudah begitu lama didamba si pembuat boneka. Namun, bukannya patuh dan menurut pada ayahnya, Pinokio justru bergerak semaunya. Pergi tanpa izin dari sang ayah, hingga ia kena batunya. Sampai sini, apa Anda bisa menangkap makna tersiratnya? Yup, si boneka kayu, Pinokio yang awalnya pasrah tak bernyawa, kemudia

MENGELOLA KEUANGAN DI TENGAH PANDEMI

  Beberapa waktu lalu saya sempat mengikuti webinar tentang mengelola keuangan di tengah pandemi. Sejujurnya, saya sempat skeptis di awal, karena menganggap kayaknya enggak akan ada hal baru yang bakal saya terima. Berhubung beberapa kali ikut mendengar sharing tentang mengatur atau merencanakan keuangan, materi yang dibawa seputar itu-itu saja. Namun, berhubung saat pandemi seperti sekarang, emak macam saya harus cermat mengatur keuangan rumah tangga, tentu tidak ada salah menyimak webinar tersebut. Sebelumnya saya sempat menulis tentang  tips mengatur keuangan keluarga . Namun, dari webinar ini saya mendapatkan banyak sekali ilmu baru. Di luar dugaan, yang tadinya saya pikir bakal membosankan, ternyata saya justru dapat insight yang menarik dari mengikuti webinar tersebut. Satu catatan yang cukup mengubah saya adalah bahwa mengatur keuangan itu enggak sekadar mengatur pos-pos anggaran, tetapi juga bagaimana mengembangkan uang yang kita kelola. Kok repot banget? Kan yang diatur cum

BIKIN HOBI JADI BISNIS, HARUSKAH?

  Punya hobi itu memang asyik. Melakukan aktivitas yang kita sukai tanpa beban tentu bisa mengurangi stres. Belakangan hobi juga bisa menghasilkan. Daripada berhobi sekadar bersenang-senang, kini hobi dikelola agar menghasilkan cuan. Yup! Hobi jadi bisnis, kenapa enggak? Namun, masalahnya, apa iya semua hobi harus jadi bisnis? Hobi: Leisure atau Presure? Konon kalau mau menikmati berbisnis, bangunlah bisnis yang sesuai hobi. Agar saat kita mengalami jatuh bangunnya berbisnis, kita pantang menyerah karena memperjuangkan apa yang kita sukai. Kalau pendapat saya pribadi, menjadikan hobi jadi bisnis berarti bersiap untuk kehilangan kenikmatan melakoni hobi, karena dalam melakukan hobi harusnya jadi happy . Namun, ketika ada motif materi, tentu ada target yang ingin diraih, risiko gagal mulai menghantui. Akhirnya, melakukan hobi yang tadinya bisa dinikmati, mulai berbuah tekanan. Kita pingin berhobi, tapi enggak ingin stagnan. Rasanya mungkin enggak akan setertekan kalau kita melakukan peke

TIPS MEMBACA MENYENANGKAN DAN ASYIK BERSAMA LET'S READ

Ummi, aku mau baca cerita gajah lagi di laptop kecil.  Aku mau cerita yang pesulap itu, lho, Mi! Begitu, deh , kalau sudah masuk waktu tidur. Anak-anak saya pasti langsung heboh minta dibacakan cerita. Entah dengan buku fisik atau baca e-book melalui tablet ,  mereka tidak bosan-bosan untuk menikmati buku setiap hari. Alhamdulillah ... mereka termasuk anak-anak yang gemar banget membaca. Untuk sampai ke titik ini, saya dan suami berusaha keras untuk menciptakan atmosphere gemar membaca di rumah kami. Bukan tanpa alasan saya dan suami berusaha menghadirkan membaca menyenangkan pada anak-anak kami. Kami tahu, membaca itu banyak sekali manfaatnya. Dilansir dari situs Halodoc, paling tidak ada enam manfaat membaca untuk anak, yaitu: Meningkatkan kemampuan berbahasa . Membaca dapat menambah kosakata anak. Ini membantu mereka untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, meski mereka sendiri belum dapat membaca.  Mengembangkan daya imajinasi . Membaca buku juga mengembang

CATATAN SEORANG IBU TENTANG PERUBAHAN IKLIM

Ketika kecil, di rumah orang tua saya banyak sekali kupu-kupu. Lumrah sekali melihat mereka berterbangan di halaman rumah, hinggap di antara tetumbuhan dengan warna-warna sayap yang beragam. Salah satu favorit saya adalah kupu-kupu gajah- yang saat saya dewasa baru mengetahui bahwa kupu-kupu ini ternyata seekor ngengat. Rentang sayapnya yang nyaris 25 senti sukses membuat kami, para bocah ini, terpana. Gede banget! Tetapi, itu cerita nyaris 30-an tahun yang lalu. Bahkan ketika saya di bangku SMA, saya sudah jarang sekali melihat ngengat raksasa ini terbang liar di sekitar rumah. Ngengat ini konon memang lebih aktif di malam hari. Sayapnya yang berwarna coklat dan hitam juga mudah tersamar di antara pepohonan. Sayangnya, saya sangsi tidak melihatnya lantaran ia baru keluar pada malam hari. Lha wong di sepanjang kompleks nyaris sudah tak ada lagi lahan terbuka dengan pepohonan dimana kupu-kupu gajah ini biasa tinggal.  Dahulu ada beberapa titik lahan luas dengan pepohonan ya