Langsung ke konten utama

Postingan

BERKUNJUNG KE PERPUSNAS

"Mi, kapan aku masuk sekolah? Bosen....," suatu hari kakak mulai protes. Akibat di- prank dengan jadwal liburan yang tiba-tiba maju, saya enggak sempat mempersiapkan rencana liburan buat anak-anak. Betul saja, di minggu kedua liburan, anak-anak terutama si kakak sudah mengeluh bosan. Mau keluar kota lagi kok riskan karena mulai naik lagi nih kasus covid-nya. Akhirnya, kami putuskan untuk beraktivitas di daerah yang dekat saja. Mau main di sekitaran Bogor kok bosan, jadilah kita jalan-jalan ke Jakarta. Awalnya, kami ingin naik MRT dan Transjakarta, sambil bawa anak-anak keliling kota. Namun, sekali lagi, gara-gara kasus mulai naik, kami rasa akan berisiko kalau ajak anak-anak naik kendaraan umum. Akhirnya, kami memutuskan untuk ajak mereka berkunjung ke Perpustakaan Nasional alias Perpusnas naik mobil pribadi. Mereka langsung semangat dong pas tahu mau diajak ke perpustakaan. Berhubung anak-anak saya gandrung banget baca buku. Mereka senang, kami pun senang bisa ajak anak-ana
Postingan terbaru

MEMBUAT PORTOFOLIO ANAK

  Anakku kok enggak kayak anak tetangga, ya? Dia sudah kelihatan bakatnya apa, anakku sampai sekarang kayaknya begini-begini aja. Suka enggak sih dengar keluhan ibu-ibu yang macam begini? Atau jangan-jangan kita sendiri pernah ngeluh kayak gitu? Membandingkan anak dengan anak lain memang paling gampang, karena tolok ukurnya kelihatan mata. Namun, apa iya yang kita bandingkan itu memang sesuai dengan kenyataannya. Untuk saya pribadi, dari pada sibuk membandingkan dan mencari kurangnya anak, lebih baik saya fokus pada potensi yang mereka miliki. Terdengar simpel ya... tapi sesungguhnya hal kayak gini enggak mudah dilakukan bahkan oleh ibu yang sudah beranak tiga kayak saya.  Menemukenali potensi anak itu butuh usaha. Anda yang punya anak lebih dari satu pasti merasakan tantangannya. Bagaimana anak-anak bisa adil dikembangkan? Saat beranak satu, saya bisa begitu fokus pada si kakak karena waktu saya hanya untuknya. Akan tetapi, setelah kedua anak saya yang lain lahir, cerita pun jadi sedi

PENGALAMAN ROADTRIP KE MALANG BARENG BALITA

Halo! Mengawali tahun 2022 ini, saya mau menggiatkan ngeblog lagi nih, setelah tahun lalu banyak kedodoran karena memprioritaskan hal lain. Kali ini saya mau berbagi pengalaman ketika melakukan roadtrip Bogor-Malang bareng anak dan kedua balita saya. Membayangkan ribetnya traveling bareng tiga bocah, rasanya bikin urung niat liburan enggak sih? Tapi demi bisa menjajal liburan setelah dua tahun pandemi enggak kemana-mana, saya rela deh bawa muatan kayak mau bedol desa. Sengaja memilih jalur darat menggunakan mobil pribadi, supaya enggak repot dengan berbagai syarat perjalanan. Namun, traveling bareng anak balita dengan menggunakan mobil tentu butuh persiapan yang enggak simpel. Banyak hal harus diantisipasi agar perjalan tetap nyaman terutama bagi anak-anak. Jika persiapan kurang matang, bukan liburan menyenangkan malah jadi penuh drama, ya enggak? Apa saja yang harus dipersiapkan? Persiapan liburan kali ini sudah kami lakukan sejak seminggu sebelumnya. Mulai dengan menyusun daftar b

CARA SAYA MENGATASI KAKAK ADIK BERTENGKAR

Orang tua yang punya anak lebih dari satu, pasti bisa membayangkan bagaimana pusingnya ketika anak-anak berantem. Pertengkaran saudara itu seperti keniscayaan, deh . Sama halnya dengan orang tua lain, saya pun mengalami hal yang sama. Saat saya hamil anak kedua, saya memiliki kekhawatiran anak-anak saya akan sulit akur. Mungkin ini disebabkan pengalaman masa kecil saya yang sering banget berantem sama saudara-saudara saya. Saya juga khawatir, sebagai orang tua kami enggak bisa bersikap adil. Saya takut anak pertama saya akan merasa kurang kasih sayang. Si kakak yang terbiasa menjadi pusat segalanya, berubah harus berbagi kasih sayang ummi dan abinya. Rasanya, kekhawatiran saya saat itu memang  terlalu berlebihan. Seingat saya, saat hamil anak kedua , saya lebih banyak mencari referensi tentang sibling rivalry dibandingkan dengan referensi tentang kehamilan. Demi mencegah terjadinya kecemburuan  diantara anak-anak kami, saya dan suami sampai bertekad untuk membangun iklim yang selalu

CARA MENGAJAR ANAK TOILET TRAINING

Setiap anak memang memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Saat anak pertama dulu, urusan mengajar anak toilet training terasa begitu mudah. Si kakak yang dulu masih berusia dua tahun, sukses lepas pampers tanpa banyak drama.  Namun, tidak demikian dengan anak kedua saya. Tantangan mengajar anak toilet training terasa lebih berat. Sekarang usia si tengah sudah lewat tiga tahun dan ia baru saja bisa lepas pampers. Terlepas dari mudah atau sulitnya mengajar anak toilet training, perkara ini memang butuh ketelatenan dan kesabaran dari orang tua. Kita membantu proses anak untuk berkembang, namun tetap mengikuti ritme anak. Baca juga:  Cara Menyapih Anak APA ITU TOILET TRAINING? Toilet training adalah cara-cara yang dilakukan secara bertahap untuk membantu anak mandiri ke toilet. Seperti juga pada tahap perkembangan anak lainnya, toilet training juga membutuhkan proses. Proses ini berbeda pada setiap anak, bisa cepat atau bisa lebih lambat. Hal yang perlu diingat dalam memandu anak da

5 CARA MENGHADAPI BALITA SUKA MEMBANTAH

Sumber foto: Karosiebien-Pixabay Hampir semua orang pasti pernah mendengar cerita Pinokio. Iya... boneka kayu yang hidungnya berubah panjang ketika berbohong. Cerita tersebut bisa dibilang punya makna yang begitu jelas, "jangan berbohong! Atau kamu akan menerima akibatnya". Pelajaran yang sangat mudah dicerna oleh anak-anak.  Namun, bagi saya, cerita Pinokio sebetulnya juga punya makna tersirat. Bukan untuk pembaca cilik kita, tapi justru bagi kita orang tua. Pinokio, sebuah boneka kayu yang awalnya tak bernyawa, dibuat oleh manusia, tanpa akal budi dan tanpa hati. Namun dengan sejumput sihir peri, Pinokio dapat bergerak dan menari, layaknya anak laki-laki, yang ternyata sudah begitu lama didamba si pembuat boneka. Namun, bukannya patuh dan menurut pada ayahnya, Pinokio justru bergerak semaunya. Pergi tanpa izin dari sang ayah, hingga ia kena batunya. Sampai sini, apa Anda bisa menangkap makna tersiratnya? Yup, si boneka kayu, Pinokio yang awalnya pasrah tak bernyawa, kemudia

MENGELOLA KEUANGAN DI TENGAH PANDEMI

  Beberapa waktu lalu saya sempat mengikuti webinar tentang mengelola keuangan di tengah pandemi. Sejujurnya, saya sempat skeptis di awal, karena menganggap kayaknya enggak akan ada hal baru yang bakal saya terima. Berhubung beberapa kali ikut mendengar sharing tentang mengatur atau merencanakan keuangan, materi yang dibawa seputar itu-itu saja. Namun, berhubung saat pandemi seperti sekarang, emak macam saya harus cermat mengatur keuangan rumah tangga, tentu tidak ada salah menyimak webinar tersebut. Sebelumnya saya sempat menulis tentang  tips mengatur keuangan keluarga . Namun, dari webinar ini saya mendapatkan banyak sekali ilmu baru. Di luar dugaan, yang tadinya saya pikir bakal membosankan, ternyata saya justru dapat insight yang menarik dari mengikuti webinar tersebut. Satu catatan yang cukup mengubah saya adalah bahwa mengatur keuangan itu enggak sekadar mengatur pos-pos anggaran, tetapi juga bagaimana mengembangkan uang yang kita kelola. Kok repot banget? Kan yang diatur cum