Langsung ke konten utama

Postingan

CARA MEMBANGUN SUPPORT SYSTEM UNTUK IBU YANG BAHAGIA

Pernah enggak sih merasa kerjaan rumah kok enggak selesai-selesai? Padahal rasanya tenaga sudah lewat dari batasnya. Capek, tapi enggak bisa istirahat. Akhirnya, emosi pun meledak, kalau enggak marah-marah, ya nangis.Saya pernah baca, ibu-ibu di Jepang tuh terbiasa mengurus segala hal sendiri. Mulai dari mengurus rumah, belanja, mengantar anak sekolah dan masih banyak lagi. Kebetulan saya dapat video bagus tentang kehidupan ibu-ibu di Jepang, mangga disimak berikut ini:
Keren ya, ibu-ibu di Jepang. Namun, survei menunjukan kalau ibu di Jepang rentan sekali stres. Di dorong oleh rasa malu jika enggak mampu mengurus keluarga dengan baik, ibu-ibu tersebut bekerja setiap hari dengan tekanan yang amat berat.MENGURUS KELUARGA PERLU RASA BAHAGIAApa yang dialami ibu-ibu di Jepang tersebut mungkin enggak jauh berbeda dengan ibu-ibu lain, termasuk di Indonesia. Namun, berbahagialah, karena adat gotong royong yang kita miliki menjadikan beban ibu (sebenarnya) bisa dibagi.
Sayangnya sering kali kit…
Postingan terbaru

BERKUNJUNG KE KEBUN RAYA BOGOR DI TENGAH PANDEMI

Sejak corona merebak, praktis selama nyaris lima bulan, kami betul-betul di rumah saja. Pergi ke minimarket pun bisa dihitung pakai jari satu tangan. Saya yang biasanya lebih suka di rumah, bahkan sudah mulai jengah. Indikatornya terlihat ketika saya gampang banget marah-marah.
Si sulung juga mulai rungsing, pasalnya saya enggak izinkan ia untuk main sepeda sama teman-temannya. Bukan apa-apa, anak-anak masih sangat teledor menjaga kebersihan. Pernah sekali saya izinkan si sulung dan si tengah untuk main bareng teman-temannya. Baru beberapa menit keluar, maskernya sudah entah kemana.
Saya dan suami memang berencana untuk mengajak anak-anak untuk berwisata ke Kebun Raya Bogor. Pertimbangannya karena lokasi yang dekat dengan rumah ditambah ruang terbuka yang kami asumsikan lebih aman untuk menjaga diri dari paparan corona. Itu pun maju mundur. Baru berniat pergi di awal minggu, tiba-tiba lihat di media kasus corona bertambah lebih dari seribu. Ciut saya tuh... daripada menempatkan anak-…

IBU KANTORAN VS IBU RUMAH TANGGA?

Entah kenapa isu ini kembali menyeruak dalam kehidupan saya. Padahal saya sudah lama berhenti jadi ibu kantoran. Ibu kantoran? Yup, saya lebih suka mengguankan terminologi "ibu kantoran" dibanding "ibu bekerja", karena bagi saya, ibu yang di rumah pun seyogyanya juga bekerja, hanya beda ranah saja.
Kembali lagi ke topik ibu kantoran vs ibu rumah tangga, belakangan banyak yang bertanya pada saya enakan mana sih, jadi ibu rumah tangga atau ibu kantoran. Kalau bagi saya, dua-duanya sama-sama enak,hehe. Kalau begitu, kenapa enggak jadi ibu kantoran saja, kan merasakan dua-duanya? Sebelum dijawab, saya coba paparkan, ya, apa yang saya rasakan ketika jadi ibu kantoran dan ibu rumah tangga.
Ibu Kantoran: Ibu Gemilang, Namun Penuh Kegalauan Saya pertama kali bekerja sekitar tahun 2010 dan resign di tahun 2017. Kalau dihitung-hitung masa kantoran saya sangat singkat, hanya tujuh tahun. Dari tujuh tahun tersebut, hanya satu setengah tahun saya jalani peran sebagai ibu kanto…

MEMBUAT KONFLIK ANANDA MENJADI KONSTRUKTIF

Pusing enggak sih melihat anak berantem melulu? Rebutan mainan, perang mulut buat nentuin siapa yang berperan jadi apa bahkan berantem cuma karena rebutan pingin duduk dimana? Pertengkaran diantara buah hati memang kerap terjadi. Untuk Moms yang punya anak lebih dari satu, pasti paham banget deh gimana hal-hal kecil bisa memicu pertengkaran antar mereka.
Kalau melihat anak-anak bertengkar rasanya kita ingin langsung turun tangan, iya enggak? Selain pusing karena mendengar keributan, dalam hati kecil Anda mungkin terbersit ketakutan bahwa konflik antara anak-anak Moms akan bertahan hingga mereka dewasa. 
Sudah deh... main sendiri-sendiri saja. Dari pada main sama-sama ujungnya berantem.
Kalimat tersebut sering jadi kalimat pamungkas bagi saya untuk membuat anak-anak berhenti berantem.
Baca juga:CARA BERKOMUNIKASI DENGAN ANAK YANG KRITIS Enggak Semua Konflik Itu Buruk
Meski ada batasnya, berantem di antara saudara itu enggak selalu negatif. Terkadang, anak perlu belajar untuk keluar da…

MELAKUKAN RITUAL PENGANTAR TIDUR YANG ASYIK BERSAMA LETS READ, BANTU MEMANTIK MINAT BACA ANAK

"Ummi... malam ini aku mau baca yang ini," ujar si sulung sambil setengah mengantuk. "Jiah mau nyang inyi, Ami," dengan sedikit cadel, giliran si tengah yang request buku kesukaannya.
Membaca buku memang sudah jadi kebiasaan kami menjelang tidur. Kakak dan adik selalu minta dibacakan buku cerita. Diawali dengan berdoa lalu dilanjutkan dengan masing-masing memilih buku yang ingin dibacakan. Nyaris tiada waktu menjelang tidur yang terlewat tanpa membaca buku. Sejak awal, saya memang berusaha menumbuhkan minat baca anak saya, karena saya ingin mereka mencintai buku dan kegiatan membaca seperti saya.
Awalnya, saya hanya membacakan satu buku untuk berdua. Lama kelamaan, keduanya punya buku favorit masing-masing. Jadilah, paling tidak, saya akan membacakan minimal dua buah buku sebelum mereka tidur. Saya cukup lega, karena sejauh ini minat baca anak saya sangat baik. Walau keduanya belum bisa membaca, terkadang disela waktu bermain, mereka terlihat "membaca" buk…

DRAMA ART: DILEMA ANTARA PEGAL BADAN DAN PEGAL HATI

Dulu, ketika saya memutuskan untuk resign, bayangan tentang menjadi ibu rumah tangga ideal sudah terasa di depan mata. Membayangkan waktu-waktu produktif yang saya habiskan bersama buah hati dengan bermain dan belajar sepanjang hari, juga rumah kinclong yang rapi jali.
Di otak saya sudah berseliweran semacam kurikulum bermain yang akan saya persiapkan untuk si kakak. Yakin kehidupan saya dan kakak akan sangat berbeda dari sebelumnya. Kami akan menghabiskan banyak waktu berdua sambil menunggu abinya pulang. Sesulit apa sih? Dengan pengalaman meng-handle anak usia dini dan latar belakang pendidikan saya, tentu itu hal yang mudah (sambil hidung kembang kempis karena jumawa). 
Lalu, anak demi anak pun hadir. Semua yang awalnya terhandle sendiri tanpa asisten mulai keteteran. Boro-boro menyiapkan alat permainan untuk anak-anak. Cucian piring dan setrikaan tidak menggunung sudah syukur. Apa saya tergoda untuk pakai asisten? Tentu tidak! Masa begitu saja saya sudah menyerah. Saya yakin masi…

10 CARA MENEBAR KEBAIKAN RAMADHAN SAAT PANDEMI COVID-19

Ramadhan kali ini memang jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, saat bulan puasa, waktu sore kami gunakan untuk bermain di luar rumah sambil menunggu berbuka. Kini, anak-anak harus cukup puas hanya dengan bermain di teras. Waktu ngabuburit yang digunakan untuk bercengkrama dengan tetangga, sekadar menanyakan kabar atau bertukar hidangan buka puasa sekarang tidak lagi ada. Kondisi kali ini memaksa kita semua untuk menjaga jarak. Rasanya terkadang saya ingin memberikan sedikit kelonggaran pada anak-anak untuk bermain di luar rumah bersama teman-temannya. Saya pun rindu suasana ramainya jalan komplek di sore hari. Namun, membayangkan risiko yang mungkin terjadi, saya sungguh tak berani.
Apalagi ketika Ramadhan tiba. Saya harus cari cara menghidupkan suasana bulan suci ini di tengah anak-anak. Sejujurnya, saya merasa kesulitan. Bagaimana tidak? Ramadhan kali ini tak ada shalat tarawih di masjid dan tak ada kemeriahan lomba Ramadhan serta tidak ada aktivitas kajian di masjid…