Langsung ke konten utama

Postingan

KONMARI DAN TENTANG HIDUP MERASA CUKUP

Postingan terbaru

MENDIDIK ANAK PEREMPUAN TANGGUH

"Kak... ummi minta waktu sebentar ya... ummi mau kerja," ujar saya sambil menekuni laptop di depan saya. "Kerja? Yang kerja kan abi. Emang ummi bisa kerja?" ujar si sulung polos.
Sebuah kalimat sederhana yang kemudian menampar saya. Selama ini saya berpikir bahwa menjadi ibu rumah tangga yang baik dan selalu ada bagi anak-anak sudahlah cukup. Menjadi pribadi yang baik sebagai ibu adalah contoh yang patut. Namun, ada ganjalan dalam diri, ketika anak perempuan saya beranggapan bahwa ibu enggak bisa bekerja selayaknya seorang ayah.
Memang kemuliaan seseorang enggak hanya dilihat apakah dirinya berpenghasilan uang atau enggak. Tapi, tetap saja... poinnya bukan pada menghasilkan uangnya, namun keberdayaan diri dan kemampuan untuk bisa berbuat sama seperti yang dilakukan oleh kaum adam.
Sebagai ibu, saya ingin anak-anak perempuan saya tumbuh menjadi pribadi mandiri, tangguh dan percaya diri. Namun, bagaimana caranya untuk mendidik anak perempuan tangguh?
KEISTIMEWAAN AN…

AGAR RESOLUSI TAHUN TAHUN BARU TAK KANDAS DI TENGAH JALAN

Sudah hampir di penghujung tahun, sudah berapa persen resolusi tahun 2019 yang sudah tercapai? Biasanya di awal tahun banyak dari kita yang sudah menyusun mimpi, tapi enggak sedikit yang berguguran dan akhinya kendor di tengah jalan.
Saya pribadi, sejak dulu selalu membuat resolusi di awal tahun. Sejak zaman sekolah sampai sekarang sudah jadi full time Mom, membuat resolusi alias goals tahunan jadi agenda wajib.
Memang Penting ya Bikin Resolusi Tahun Baru Buat Emak Rumah Tangga?
Sebagai emak rumah tangga kita pun perlu punya target. Target tahunan itu ibarat batu loncatan untuk bisa mencapai target kehidupan yang lebih besar. Artinya, selama status kita manusia, mau ibu rumah tangga, ibu kerja kantoran, ibu pedagang, bapak kantoran atau bapak rumah tangga, tetap perlu membuat resolusi tahunan. Memangnya Anda mau hidup berjalan di tempat?
BACA JUGA: SETIAP EMAK BERHAK BERMIMPI
Fitrahnya, setiap manusia pasti punya mimpi dan keinginan. Namun, masalahnya kebanyakan dari kita tuh bingung…

CERITA NUHA: KETIKA KAKAK BERTANYA TENTANG SURGA

"Mi, surga itu apa?" Si kakak tiba-tiba melontarkan pertanyaan. "Hmm... surga itu tempat yang istimewa. Cuma anak-anak baik dan sholeha yang bisa tinggal di sana," saya memeras otak memikirkan rangkaian kalimat sederhana yang mudah dipahami kakak. "..." hening si kakak sambil menunjukan ekspresi bingung. "Di surga ada banyak hal yang kakak sukai. Kalau kakak minta apapun, pasti Allah kasih," tambah saya. "Ada mainan?" tanyanya polos. "Ada" "Ada trampolin?" "Ada" "Ada es krim" "Ada" "Aku mau masuk surga," ujarnya sambil tersenyum dan berakhirlah diskusi kami.
Itu adalah sepenggal dialog saya dan kakak. Entah dimulai dari apa, kakak tiba-tiba bertanya tentang surga pada saya. Anak seusia kakak (4 tahun) memang sudah mulai kritis. Pola pikir yang berkembang juga membuat anak seusia kakak mulai mempertanyakan hal-hal yang lebih kompleks. 
Seperti curhat salah satu tetangga, ketika anaknya d…

5 JURUS MENGHADAPI "MOM SHAMING"

"Bu, ini kuping anaknya enggak pernah dibersihin, ya? Sampai kotor banget begini," kata salah satu dokter anak yang pernah menangani si kakak.
"Kasihan ya... si adik masih kecil, umminya udah  hamil lagi," celetuk tetangga ketika tahu saya hamil.
"Itu enggak ada baju yang lain? Anakmu dipakein baju sudah kumal begitu," 
"Duh... itu dedeknya nangis terus. Ibunya mana?"
"Anak-anak sering di bawa keluar, Bu... kan bagus sering kena matahari,"
Sebagian besar dari kita pasti pernah deh menerima komentar semacam itu, mau di depan atau di belakang kita. Apalagi dengan budaya kepo dan ikut campur yang kental banget di Indonesia, mengomentari cara orang lain mengurus dan mendidik anak sudah jadi hal yang sangat lumrah. 
Kalimat-kalimat  di atas adalah sebagian kecil komentar yang saya terima dari berbagai pihak terhadap cara saya mengurus kakak dan adik. Ada yang saya terima dari orang tua, keluarga, tetangga bahkan orang random yang saya engg…

JIKA CINTA MEMBACA, MENGAPA MASIH MEMBELI BUKU BAJAKAN?

Zaman masih kuliah dulu, saya termasuk orang yang tidak terlalu mempedulikan dari mana buku yang saya baca berasal. Asal butuh atau suka bukunya dan pas di kantong mahasiswa, saya pasti beli. Saat kuliah dulu memang marak banget praktik memotokopi buku, mulai dari buku kuliah untuk belajar sampai buku populer untuk dibaca saat senggang. Hasil cetakannya pun nyaris tidak bisa dibedakan dengan buku aslinya. Saya mengkategorikan diri saya saat itu sebagai awam atau mungkin kurang peduli saja, sih.
Sampai akhirnya saya mulai "nyemplung" di dunia literasi. Kalau sebelumnya saya hanya menjadi penikmat buku, kini saya mencoba untuk belajar menulis dan menerbitkan buku. Alamak! Ternyata perjuangan untuk menghasil sebuah karya buku saja sangat berdarah-darah (kalau boleh saya lebay mengumpamakan).
Baca juga: BAHU MEMBAHU MEMBANGUN BUDAYA CINTA BUKU
Dari mulai menemukan ide orisinil yang ternyata susah luar biasa. Belum lagi ketika mengolah ide dan menuangkannya menjadi tulisan. Buka…

MENGATASI SAKIT GIGI SAAT HAMIL

Pernahkah Moms merasakan sakit gigi saat hamil? Kebayang deh rasa sakitnya, macam ditinggal mantan pas lagi sayang-sayangnya (wkwkwk, terekdungces!). Sakit gigi saat hamil itu memang enggak nyaman banget. Sudahlah sakit, terus kita enggak bisa sembarangan minum obat.
Kondisi hamil memang membuat Moms harus menjaga banget asupan yang masuk ke dalam tubuh. Salah-salah, apa yang kita makan bisa berpengaruh terhadap kesehatan dan keselamatan janin. Tetapi kalau sakit gigi saat hamil dan enggak tertahankan lagi, kita harus bagaimana dong?
Saya sendiri mengalami saat kehamilan ketiga ini. Gigi graham belakang saya yang memang sudah patah sebelum hamil, semakin berulah sejak saya berbadan dua. Graham yang patah jadi berlubang dan sakit luar biasa, sampai saya hanya bisa menggunakan satu sisi mulut saat makan. Karena mengganggu, saya konsultasikan pada dokter kandungan, karena saya khawatir kalau langsung ditreatemen di dokter gigi ada risiko-risiko kesehatan bagi janin saya.
Sewaktu saya ko…